Rafael Leao akhirnya angkat bicara setelah insiden kartu merah mengejutkan dalam laga uji coba Portugal melawan Chili jelang Piala Dunia. Penyerang AC Milan itu diusir keluar lapangan karena tindakan kekerasan setelah terjadi keributan pada masa tambahan waktu babak pertama. Meski insiden tersebut menimbulkan kontroversi, pelatih Selecao, Roberto Martinez, dengan cepat membela sang pemain dari gelombang kritik.
Leao jelaskan reaksi ‘melindungi’
Pemain internasional Portugal itu menggunakan media sosial untuk memberikan penjelasan terkait kartu merah yang diterimanya dalam laga persahabatan di Estadio Nacional. Winger tersebut diusir setelah terlibat dalam adu mulut panas, namun ia menegaskan bahwa tindakannya tidak bermaksud jahat, melainkan karena ingin melindungi rekan setimnya di lapangan.
Dalam unggahan di akun Instagram-nya setelah pertandingan, Leao menulis penjelasan tentang insiden tersebut. “Tes pertama selesai. Mengenai kartu merah saya, saya hanya ingin melindungi rekan setim saya, tidak pernah berniat menyakiti lawan,” tulisnya, sambil menyampaikan terima kasih kepada para pendukung: “Terima kasih kepada semua orang Portugal yang hadir di Jamor, atmosfernya luar biasa, kita terus bersama.”
Martinez bela semangat sang bintang
Pelatih kepala Portugal, Roberto Martinez, dengan sigap membela pemain andalannya, menggambarkan insiden itu sebagai bentuk solidaritas tim, bukan kegagalan disiplin. Ia menilai intensitas pertandingan tersebut, meskipun hanya laga persahabatan, menjadi pelajaran penting bagi tim menjelang perjalanan mereka ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
“Sepak bola penuh dengan gairah dan emosi. Reaksi Leao itu wajar; ia ingin melindungi rekan setimnya, menunjukkan semangat kebersamaan, dan itu hal positif untuk membantu tim,” ujar Martinez dalam konferensi pers usai laga. “Tentu saja, kita tidak boleh terpancing provokasi. Apa yang terjadi justru bagus karena tim-tim Amerika Selatan sering menghadirkan momen seperti itu. Kami pernah melawan Kolombia dan hal serupa bisa saja terjadi. Ini menjadi pelajaran penting. Saya menyukai niatnya untuk membantu rekan setim, tetapi kita harus belajar bahwa dalam sepak bola, kita harus berbicara melalui permainan dan membiarkan tim lain mencoba memprovokasi.”
Insiden tersebut bermula dari duel antara Joao Cancelo dan Felipe Faundez, yang kemudian membuat Leao mengayunkan tangannya ke wajah bek Chili, Ivan Roman. Martinez berharap hasil peninjauan ulang tayangan video dapat menunjukkan bahwa tindakan Leao tidak termasuk kekerasan berat, menegaskan bahwa tangan sang pemain tidak terangkat melebihi bahu.
Kekhawatiran larangan tampil di Piala Dunia
Meski Martinez tetap memberikan dukungan penuh, aspek teknis dari kartu merah itu bisa berdampak signifikan. Karena diusir akibat tindakan kekerasan, muncul kekhawatiran bahwa Komite Disiplin FIFA dapat memperpanjang sanksi larangan bermain hingga putaran final Piala Dunia. Jika larangan standar tetap berlaku, Leao kemungkinan hanya akan absen dalam laga pemanasan berikutnya melawan Nigeria pada Rabu mendatang.
Situasi klub yang belum pasti di musim panas
Drama di Jamor ini terjadi di tengah ketidakpastian masa depan Leao di AC Milan. Winger berusia 25 tahun itu telah mengisyaratkan keinginannya untuk mencari tantangan baru setelah periode panjang di Serie A, dengan Liga Inggris kerap disebut sebagai tujuan impiannya. Penampilan dan sikapnya di level internasional tentu akan menjadi perhatian klub-klub besar Eropa yang tengah memantau potensinya.
Leao sebelumnya juga mengakui bahwa gaya permainan sepak bola Inggris bisa lebih menonjolkan bakatnya dibandingkan dengan pendekatan taktis di Italia. Dengan Milan dikabarkan meminta biaya transfer besar untuk melepasnya, ajang Piala Dunia mendatang akan menjadi kesempatan krusial bagi Leao untuk menunjukkan bahwa ia mampu menjaga ketenangan di level tertinggi sepak bola dunia.