TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) berlaku pada April 2026 lalu.
Namun di tengah meningkatnya konflik, komando militer tertinggi Iran, Khatam Al-Anbiya, secara mengejutkan mengumumkan penghentian operasi militer terhadap Israel pada Senin (8/6/2026).
Dalam siaran televisi pemerintah yang dikutip dari CNBC International, pihak militer Iran menyatakan serangan balasan yang dilakukan sebelumnya telah memberikan “tanggapan yang menyakitkan” terhadap Israel sehingga operasi militer untuk sementara dihentikan.
“Karena itu, penghentian operasi angkatan bersenjata diumumkan di sini,” demikian pernyataan Khatam Al-Anbiya.
Meski menghentikan operasi militer, Iran tetap memberikan peringatan keras kepada Israel. Teheran menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam apabila Israel kembali menyerang wilayah Lebanon atau kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan Timur Tengah.
Iran bahkan mengancam akan melancarkan serangan yang jauh lebih besar jika aksi militer Israel terus berlanjut.
“Jika tindakan agresi dan permusuhan berlanjut, termasuk di Lebanon selatan, tindakan yang jauh lebih keras dan menghancurkan daripada sebelumnya akan menyusul,” lanjut pernyataan militer Iran.
Teheran selama ini dikenal sebagai pendukung utama Hizbullah, kelompok bersenjata di Lebanon yang sering terlibat konflik dengan Israel.
Karena itu, setiap operasi militer Israel di Lebanon dianggap Iran sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategisnya di kawasan.
Pengamat internasional menilai kondisi ini membuat gencatan senjata Iran-Israel berada dalam posisi sangat rapuh.
Jika serangan balasan terus berlanjut, konflik berpotensi meluas menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara dan kelompok bersenjata di Timur Tengah.
Baca juga: AS Incar Dana Iran untuk Bangun Negara Teluk, Perdamaian Timur Tengah di Ujung Tanduk
Peringatan tersebut muncul setelah Iran mengklaim telah mempersiapkan diri menghadapi perang jangka panjang melawan Israel dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel sebagai respons atas operasi militer Israel yang terus menyasar kelompok Hizbullah di Lebanon, termasuk serangan di pinggiran selatan Beirut beberapa hari sebelumnya.
Garda Revolusi Iran menyebut sejumlah rudal diarahkan ke fasilitas militer dan pangkalan udara Israel sebagai bentuk respons terhadap tindakan Tel Aviv.
Iran menilai serangan Israel di Lebanon telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati bersama Amerika Serikat.
Namun pasca serangan dilayangkan, Israel kemudian membalas dengan menggempur sejumlah target strategis di Iran.
Salah satu target utama Israel adalah kompleks petrokimia Mahshahr di barat daya Iran yang dikenal sebagai kawasan industri energi strategis milik Teheran.
Selain fasilitas petrokimia, Israel juga menyerang sejumlah target militer dan infrastruktur yang dianggap mendukung operasi pertahanan Iran.
Pejabat provinsi Iran mengatakan sebagian area pabrik Mahshahr mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Media pemerintah Iran bahkan melaporkan sedikitnya lima jalur produksi di kawasan petrokimia terkena hantaman proyektil.
Situasi itu membuat gencatan senjata yang sebelumnya dijaga Amerika Serikat kembali berada di ujung kehancuran.
Di tengah meningkatnya konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus berupaya menjaga proses negosiasi damai antara Iran dan Israel.
Trump meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari serangan lanjutan demi menjaga peluang tercapainya kesepakatan damai permanen.
Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump mengatakan kedua pihak harus segera menghentikan serangan dan kembali fokus pada negosiasi.
“Kedua belah pihak, Israel dan Iran, harus segera melakukan gencatan senjata. Negosiasi akhir mengenai perdamaian sedang berlangsung,” tulis Trump.
Trump bahkan menyebut Netanyahu “tidak memiliki pilihan lain” selain menerima kesepakatan yang sedang diupayakan Washington dengan Teheran.
Namun situasi di lapangan menunjukkan upaya diplomasi masih menghadapi tantangan besar.
Eskalasi terbaru antara Iran dan Israel kembali memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Meski Iran mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel, situasi di lapangan masih menunjukkan ketegangan belum benar-benar mereda.
Ancaman perang regional kini semakin besar setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tersebut membuat banyak negara khawatir konflik dapat meluas dan melibatkan lebih banyak pihak di Timur Tengah, termasuk kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini berafiliasi dengan Iran.
Selain risiko perang kawasan, konflik Iran-Israel juga memunculkan kekhawatiran terhadap terganggunya distribusi energi global.
Timur Tengah diketahui merupakan salah satu kawasan penghasil minyak terbesar dunia sehingga setiap eskalasi militer langsung mempengaruhi pasar energi internasional.
Pengamat menilai jika konflik terus meningkat, jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz berpotensi terganggu. Padahal jalur tersebut menjadi lintasan utama perdagangan minyak dunia.
Kondisi itu dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga minyak global dan berdampak terhadap ekonomi dunia, termasuk meningkatnya biaya transportasi, logistik, dan industri di berbagai negara.
(Tribunnews.com / Namira)