TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Terbengkalainya sejumlah fasilitas publik di Provinsi Jambi, seperti GOR Kota Baru, Gedung OIah Seni, dan Gedung Senam, di kawasan Kota Baru, bukan sekadar persoalan teknis bangunan tua. Fenomena itu mencerminkan lemahnya tata kelola aset publik.
Peneliti Pusat Studi Strategi Politik dan Resiliensi Pemerintahan (PSGR) Universitas Jambi, Dinda Syufradian Putra, menyampaikan kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian sosial jangka panjang.
Kesalahan berpikir, kerap terjadi ketika bangunan publik dipandang semata sebagai benda mati.
"Yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya kerusakan fisik, tetapi dampak sosial akibat hilangnya fungsi ruang publik tersebut,” ujar Dinda, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, GOR, gedung seni, dan gedung senam sejatinya merupakan ruang publik strategis untuk pembinaan olahraga, pengembangan bakat generasi muda, hingga aktivitas sosial dan budaya.
Ketika fasilitas itu terbengkalai, masyarakat kehilangan ruang produktif yang berkontribusi pada kualitas hidup.
“Dalam jangka panjang, kerugian sosial ini sering kali jauh lebih besar daripada nilai kerusakan fisik bangunannya,” katanya.
Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi itu menilai persoalan ini harus dibaca sebagai indikasi lemahnya manajemen aset daerah.
Ketika aset yang dibangun dari uang rakyat kehilangan fungsi dan memicu keluhan publik, pertanyaan mendasarnya bukan hanya soal biaya perbaikan, tetapi mengapa kerusakan itu dibiarkan berlarut.
“Keberhasilan pemerintah daerah tidak hanya diukur dari seberapa banyak infrastruktur dibangun, tetapi seberapa baik aset itu dipelihara dan dimanfaatkan,” tegasnya.
Sistem Pengelolaan Aset
Dinda menyoroti pendekatan pengelolaan aset yang selama ini cenderung bersifat corrective maintenance atau perbaikan setelah rusak.
Padahal, aset strategis membutuhkan preventive maintenance yang terencana agar tidak menumpuk menjadi maintenance backlog dengan biaya rehabilitasi yang jauh lebih mahal.
Selain itu, lemahnya koordinasi antarorganisasi perangkat daerah turut memperparah kondisi. Tumpang tindih kewenangan sering membuat tidak ada pihak yang bergerak cepat ketika kerusakan mulai muncul.
“Situasi ini menunjukkan birokrasi belum cukup responsif terhadap kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Dia pun mendorong pembentukan unit pengelola kawasan khusus untuk kompleks olahraga dan seni Kota Baru, agar pengelolaan lebih terfokus, terintegrasi, dan akuntabel.
Kolaborasi dengan komunitas, akademisi, hingga sektor swasta juga dinilai penting untuk mengaktifkan kembali aset publik.
“Bangunan yang aktif digunakan pasti lebih terjaga. Optimalisasi pemanfaatan harus berjalan seiring dengan pemeliharaan,” katanya.
Dinda menegaskan, kondisi fasilitas olahraga dan seni di Kota Baru seharusnya menjadi refleksi serius bagi pemerintah daerah.
“Ini bukan semata soal gedung rusak, tetapi soal bagaimana pemerintah menjaga investasi publik dari pajak dan anggaran daerah. Yang dibutuhkan bukan hanya rehabilitasi fisik, melainkan perubahan paradigma: dari budaya membangun ke budaya mengelola dan memelihara,” pungkasnya.
GOR Kota Baru serta Beberapa Bangunan Rusak
Sejumlah fasilitas publik untuk olah raga di kawasan Kota Baru mengalami kerusakan serius di banyak titik.
Kondisi itu terlihat di Gedung Olah Raga (GOR) dan Gedung Olah Seni (GOS) di kawasan Kotabaru, Kota Jambi, yang kompleksnya digunakan publik baraktivitas setiap hari.
Tribun Jambi melakukan pantauan pada Senin (1/6). Terlihat kerusakan tersebar dari luar dan dalam bangunan hingga belakang kompleks bangunan.
Di area depan gedung utama GOR, sedikitnya ditemukan sekitar 21 lubang dengan ukuran bervariasi antara satu hingga dua meter.
Lubang-lubang tersebut tersebar dari bagian bawah hingga atap bangunan, memperlihatkan kerusakan struktural yang kemungkinan tidak ditangani dalam waktu lama.
"Lha itu, rusaknya kayak gitu, apa ya tidak kelihatan," ujar Harifan, warga Jambi yang rutin olah raga di sana.
Beberapa temannya yang juga ikut olahraga sore di kompleks GOR, menunjukkan kerusakan bukan hanya di bagian depan.
Kerusakan juga terlihat di bagian belakang gedung.
Di koridor menuju gedung kecil di area GOR, terdapat sekitar 12 lubang di atap koridor, disertai coretan vandalisme pada dinding luar bangunan.
Satu di antara pintu GOR jebol, sementara besi-besi bangunan berkarat dan sampah berserakan di sejumlah sudut area.
Kondisi Gedung Olah Seni
Kondisi hampir serupa ditemukan di Gedung Seni yang berada di sisi bangunan GOR.
Halaman depan gedung dipenuhi rumput liar setinggi sekitar 70-80 sentimeter.
Pada bagian atap depan gedung, terlihat tiga lubang, sementara plafon teras bangunan juga rusak dengan sekitar 13 lubang.
Sampah tampak menumpuk di sekitar gedung, memperkuat kesan terbengkalai.
Gedung Senam dan Tinju Pun Sama
Sementara itu, gedung Senam Persani dan gedung Olahraga Tinju Pertina di seberang GOR Kota Baru, kondisi tak jauh berbeda terlihat pada.
Plafon atap teras depan gedung tinju tampak berlubang. Sejumlah lembar triplek plafon terjuntai.
Bahkan, kayu rangka atap teras terlihat keropos dan tidak lagi mampu menopang seng penutup atap.
Kerusakan serupa juga ditemukan di gedung senam, khususnya pada teras samping yang berlubang.
Warga Merasa Prihatin
Seorang pengunjung GOR, Syukur, menilai kondisi bangunan-bangunan tersebut mencerminkan minimnya perawatan rutin.
Menurutnya, meski halaman relatif bersih karena dibersihkan setiap pagi, kondisi fisik bangunan justru terabaikan.
“Halaman memang oke, ada yang bersihkan tiap pagi. Tapi bangunannya pecah-pecah, lumutan. Harusnya ada pengecatan ulang dan penggantian bagian yang rusak,” ujarnya.
Dia juga menyoroti Gedung Olahraga Seni yang dinilai tertutup oleh rimbunnya tanaman di halaman, sehingga tidak menonjol sebagai pusat aktivitas seni dan budaya.
“Rimbun boleh, tapi bangunannya tetap harus terlihat. Namanya gedung seni, harus menonjolkan seni budaya Jambi, supaya orang tahu ini Gedung Seni,” katanya. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Dua Tahun Pengasuh Ponpes di Tebo Diduga Nodai 7 Santriwati sebelum Ditangkap
Baca juga: Ibu Teriak Dapati Anak Kejang di Belakang Rumah di Rantau Rasau Tanjabtim