Suporter PSIM Yogyakarta Gelar Topo Bisu Mandala Krida Malam 1 Suro, Soroti Nasib Stadion Kebanggaan
Yoseph Hary W June 08, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Suporter PSIM Yogyakarta berencana menggelar aksi bertajuk Topo Bisu Mandala Krida pada malam 1 Suro 2026. 

Aksi tersebut menjadi bentuk aspirasi damai suporter terkait kondisi Stadion Mandala Krida yang hingga kini belum dapat digunakan sebagai kandang utama PSIM di kompetisi Super League 2026/2027.

Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 16 Juni 2026 pukul 21.00. Para peserta akan memulai perjalanan dari Wisma PSIM sebelum berjalan mengelilingi Stadion Mandala Krida.

Berjalan dalam diam

Dalam poster yang beredar di media sosial, peserta diminta mengenakan pakaian serba hitam dan mengikuti aksi dengan berjalan dalam diam. 

Penggagas aksi, Andre Miliran, mengatakan topo bisu tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi secara damai yang ditujukan kepada seluruh pihak yang memiliki kepentingan terhadap masa depan PSIM maupun Stadion Mandala Krida.

“Ini aksi damai yang kami harapkan mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait dan stakeholder PSIM,” ujar Andre, Senin (8/4/2026).

Lanjut Andre, aksi simbolik tersebut berangkat dari kekecewaan suporter setelah PSIM yang sukses promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia justru belum dapat menggunakan Mandala Krida sebagai kandang utama.

Stadion yang selama ini menjadi identitas Laskar Mataram itu dinilai belum memenuhi sejumlah persyaratan kompetisi, terutama terkait fasilitas penerangan. 

Kondisi tersebut membuat PSIM harus memindahkan laga kandangnya ke Stadion Sultan Agung, Bantul.

Mandala Krida, identitas klub

Bagi suporter, persoalan ini tidak hanya menyangkut aspek infrastruktur. Mandala Krida dianggap sebagai bagian penting dari identitas klub dan sejarah sepak bola Yogyakarta.

”Karena itu, bermain di luar stadion dinilai mengurangi kedekatan emosional antara tim dan para pendukungnya,” ucapnya.

Pelaksanaan Topo Bisu Mandala Krida juga bertepatan dengan rangkaian tradisi malam 1 Suro di Yogyakarta. 

Pada malam yang sama, Keraton Yogyakarta juga akan menggelar Kirab Pusaka yang setiap tahun menarik perhatian masyarakat.

Jika Kirab Pusaka Keraton dikenal sebagai tradisi spiritual yang telah berlangsung turun-temurun, Topo Bisu Mandala Krida menjadi bentuk ekspresi modern dari komunitas sepak bola Yogyakarta yang menyuarakan harapan agar stadion kebanggaan mereka segera kembali layak digunakan.

”Melalui aksi ini, para suporter berharap persoalan yang membelit Stadion Mandala Krida dapat segera menemukan solusi sehingga PSIM dapat kembali bermain di rumahnya sendiri pada kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia,” tukasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.