Industri Galangan Kapal Tertekan Menguatnya Dolar AS, Biaya Produksi Membengkak
Seno Tri Sulistiyono June 09, 2026 12:20 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri galangan kapal nasional menghadapi tekanan berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan kurs dolar membuat biaya pengadaan bahan baku dan komponen impor menjadi lebih mahal. Kondisi ini semakin diperburuk oleh naiknya harga energi dan sejumlah material utama yang digunakan untuk pembangunan maupun perbaikan kapal.

Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Anita Puji Utami mengatakan, situasi tersebut dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global yang meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Baca juga: Tahan Rupiah Tak Makin Terpuruk, Pengusaha Minta Pemerintah Jaga Kepercayaan Investor

Menurut Anita, memanasnya konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat berdampak pada jalur perdagangan internasional, termasuk kawasan Selat Hormuz, sehingga memicu kenaikan harga berbagai komoditas dan bahan baku industri.

"Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri," kata Anita dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).

Berdasarkan data Iperindo, harga sejumlah kebutuhan operasional mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga Solar B40 naik hingga 89,19 persen, LPG 12 kilogram naik 16,16 persen, dan LPG 50 kilogram meningkat 26,51 persen.

Sementara itu, harga plat baja yang merupakan bahan utama pembuatan kapal naik antara 7 hingga 12,6 persen. Harga cat kapal juga meningkat sekitar 21 persen.

Selain itu, komponen lain seperti zinc anode dan aluminium anode mengalami kenaikan masing-masing sebesar 12,87 persen dan 13,61 persen.

Harga oli untuk operasional mesin naik antara 15 hingga 40 persen, sedangkan bahan plastik meningkat sekitar 30 hingga 50 persen.

Anita menjelaskan, sekitar 45 persen kebutuhan material dan peralatan galangan kapal masih berasal dari impor. Karena itu, industri ini sangat sensitif terhadap pergerakan nilai tukar dolar AS.

Menurut dia, banyak kontrak pekerjaan yang dibuat saat kurs dolar masih lebih rendah. Namun ketika material harus dibeli dan dibayar, nilai tukar dolar sudah jauh lebih tinggi sehingga biaya produksi ikut melonjak.

Untuk menjaga kelangsungan usaha, sejumlah perusahaan galangan kapal mulai melakukan penyesuaian tarif jasa reparasi kapal.

"Kenaikan tarif tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20 persen sebagai langkah untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi yang terus terjadi," tutur dia.

Sementara untuk proyek pembangunan kapal baru yang sedang berjalan, pelaku industri masih melakukan pembahasan dengan pemilik kapal terkait kemungkinan penyesuaian biaya akibat kenaikan harga material dan kurs dolar.

Iperindo berharap pemerintah dapat memberikan dukungan kepada industri galangan kapal nasional agar tetap mampu bertahan di tengah tekanan global, menjaga daya saing, serta terus mendukung perkembangan industri maritim Indonesia.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.