*Sudah 2 Bulan 1.400 Warga Luwu Utara Bertahan di Tengah Banjir
TRIBUN-TIMUR.COM - Sudah dua bulan banjir merendam Desa Malangke, Kecamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Sebagian warga memilih mengungsi ke rumah keluarga dan kerabat yang lebih aman.
Namun tidak sedikit yang tetap bertahan di rumah meski dikepung genangan air.
Mereka berupaya melindungi rumah dengan cara seadanya.
Di depan pintu rumah, warga menyusun tanggul sederhana menggunakan karung bekas pupuk berukuran 50 kilogram.
Karung-karung itu diisi pasir halus dengan harapan mampu menahan laju air agar tidak masuk ke dalam rumah.
Sekretaris Desa Malangke, Linda (39), mengatakan banjir kali ini hanyalah satu dari rentetan bencana serupa yang terus berulang dalam beberapa tahun terakhir.
"Kalau banjir memang hampir tiap tahun. Tahun lalu hampir satu tahun. Surut sebentar, kemudian banjir lagi," katanya, Sabtu (6/6/2026).
Empat dusun di Desa Malangke terdampak seluruhnya.
Masing-masing Dusun Babana Kawali, Dusun Malangke, Dusun Karya Baru, dan Dusun Birue.
Sekira 300 rumah terendam banjir.
Ketinggian air bervariasi, mulai satu hingga dua meter.
Sedikitnya 1.400 jiwa terdampak dan harus menjalani hari-hari mereka di tengah genangan.
Dusun Karya Baru menjadi wilayah paling parah.
Di kawasan ini, banjir tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga memutus akses jalan.
Pada sejumlah titik, tinggi air mencapai dua meter.
Anak-anak terpaksa membatasi aktivitas di luar rumah.
Baca juga: Longsor Terjang Rumah di Desa Sanjai, Banjir Rendam Desa Patalassang Sinjai Timur
Mobilitas warga terganggu.
Aktivitas ekonomi pun berjalan tersendat.
Desa yang selama ini bergantung pada sektor pertanian perlahan kehilangan sumber penghasilannya.
Sedikitnya 50 hektar lahan pertanian dan perkebunan terendam.
Tanaman jagung, kakao, dan nilam yang menjadi andalan warga gagal panen setelah berpekan-pekan terendam air.
Batang jagung menguning dan perlahan membusuk.
Padahal sebagian besar tanaman sudah mendekati masa panen.
"Semua gagal panen," ujar Linda.
Menurut dia, banjir bermula setelah tanggul penahan luapan Sungai Masamba jebol.
Air kemudian masuk ke kawasan permukiman dan bertahan selama berminggu-minggu.
Anggota Tim BPBD Luwu Utara, Zulkarnain, mengatakan tingginya curah hujan di wilayah hulu menjadi pemicu utama banjir yang mulai terjadi sejak pertengahan Mei 2026.
Hujan yang berlangsung dalam waktu lama membuat debit sejumlah sungai meningkat drastis.
Di antaranya Sungai Masamba, Benuang, Baliase, Kanjiro, dan Bungadidi.
Arus banjir juga membawa material berupa potongan kayu yang diduga berasal dari kawasan pegunungan.
Dampak banjir tidak hanya dirasakan warga Desa Malangke.
Data BPBD Luwu Utara hingga 2 Juni 2026 mencatat 3.557 kepala keluarga atau 12.307 jiwa terdampak di berbagai wilayah.
Kelompok rentan yang terdampak terdiri atas 29 ibu hamil, 558 lansia, 330 balita, dan enam penyandang disabilitas.
Kerusakan infrastruktur yang ditinggalkan banjir juga cukup besar.
Sebanyak 34 rumah ibadah, 10 fasilitas kesehatan, delapan kantor pemerintahan, dan 27 fasilitas pendidikan terdampak.
Banjir juga merusak sekitar 121 kilometer jalan, 29 kilometer tanggul, 14 kilometer talud, serta enam jembatan.
"Di sektor pertanian, kerugian membentang lebih luas lagi. Sedikitnya 11.663 hektare lahan pertanian dan perkebunan terdampak banjir," katanya.
Bagi warga Desa Malangke, angka-angka itu hanyalah catatan dari persoalan yang terus berulang.
Yang mereka hadapi setiap hari adalah rumah yang tak kunjung kering, jalan yang sulit dilalui, dan lahan pertanian tak lagi bisa diharapkan.
Ketika banjir datang hampir setiap tahun, persoalannya bukan lagi sekadar bencana.
Banjir perlahan berubah menjadi bagian dari kehidupan yang terpaksa dijalani warga.
Akses Terputus
Kepala Dusun Karya Baru, Nurul Suprayatin, mengatakan seluruh lahan pertanian dan perkebunan di wilayahnya terdampak banjir.
Dari sekira 12 hektar lahan yang dimanfaatkan warga, sebagian besar ditanami jagung, kelapa sawit, dan kakao.
Seluruhnya gagal panen setelah terendam selama hampir dua bulan.
"Semua gagal panen karena banjir dari Sungai Masamba," kata Nurul.
Menurutnya, para petani tidak bisa berbuat banyak.
Hampir seluruh lahan masih terendam sehingga tidak memungkinkan untuk kembali diolah.
"Tidak ada yang bisa dilakukan petani. Kebunnya sudah begitu semua. Pasrah," ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sebagian warga memilih bekerja sebagai buruh kasar di proyek-proyek sekitar.
Sebagian lainnya meninggalkan dusun dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Nurul mengatakan hampir seluruh warga Dusun Karya Baru telah mengungsi sejak banjir merendam permukiman mereka.
Sebagian tinggal sementara di rumah kerabat di Kecamatan Mappedeceng sambil menunggu air surut.
"Mereka evakuasi mandiri. Barang-barang juga dibawa semua," katanya.
Dari puluhan warga yang sebelumnya menetap di dusun itu, kini hanya tersisa satu kepala keluarga yang masih bertahan.
Keluarga tersebut dihuni empat orang.
Mereka adalah keluarga Hane yang berusia sekira 50 tahun.
Meski akses jalan terputus sepanjang sekitar 10 meter, keluarga itu memilih tetap tinggal untuk menjaga harta benda yang tersisa.
Di sekitar rumah mereka, genangan air masih mencapai satu meter.
Jalan yang biasanya menjadi akses keluar masuk dusun kini berubah menjadi kubangan yang sulit dilalui.
Sementara sebagian warga berusaha mencari nafkah sebagai buruh harian, keluarga yang bertahan hanya bisa menunggu air surut.
Di Dusun Karya Baru, banjir tak hanya menenggelamkan rumah dan kebun.
Banjir juga menghapus hasil kerja berbulan-bulan yang semestinya segera dipanen.
Gagal Panen
Mustafa seharusnya bersiap memanen jagung di kebunnya yang berada di Dusun Karya Baru.
Tanaman jagung berusia sekira 70 hari itu tinggal menunggu waktu untuk dipetik.
Namun harapan tersebut hilang bersama banjir yang merendam wilayahnya selama dua bulan terakhir.
Air setinggi dada orang dewasa menggenangi kebun miliknya.
Lebih dari empat hektare lahan yang ditanami menggunakan 100 kilogram bibit jagung rusak total.
Seluruh tanaman mati sebelum sempat dipanen.
"Kondisinya habis semua. Gagal panen. Sudah umur 70 hari, padahal sebentar lagi panen," kata Mustafa.
Banjir akibat luapan Sungai Masamba tidak hanya merendam rumah warga.
Bencana ini juga melumpuhkan aktivitas pertanian yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.
Bagi Mustafa, gagal panen berarti kehilangan seluruh pendapatan yang selama ini ditunggu untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Sudah tidak ada lagi yang ditunggu. Tidak ada penghasilan sama sekali," ujarnya.
Untuk bertahan hidup, ia terpaksa mencari pekerjaan lain.
Seperti banyak warga lainnya, Mustafa kini bekerja sebagai buruh panen sawit demi memperoleh pemasukan harian.
Ia mengatakan kondisi seperti ini bukan pertama kali terjadi.
Banjir hampir selalu datang setiap tahun dan berulang kali merendam lahan pertanian warga.
"Yang kami butuhkan sekarang penanganan banjir. Karena ini sudah lebih satu bulan banjir menggenang. Di sini memang langganan banjir setiap tahun," katanya.
Menurut Mustafa, pemerintah daerah kerap datang meninjau saat banjir terjadi.
Namun persoalan yang sama terus berulang setiap musim penghujan.
"Sudah sering pemerintah turun. Tapi mau bagaimana lagi kalau kondisinya begini terus," ujarnya.(*)