TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU – Geliat pelestarian adat dan budaya di Bumi Daranante kembali bersiap mencapai puncaknya.
Panitia pelaksana Gawai Adat Dayak Nosu Podi XXII Kabupaten Sanggau secara intensif terus mematangkan seluruh lini persiapan menjelang perhelatan akbar yang dijadwalkan menghentak pada 7 hingga 9 Juli 2026 mendatang.
Dipusatkan di ikon budaya suprastruktur Sanggau, Rumah Betang Raya Dori Mpulor, gawai tahunan ini dirancang tidak sekadar sebagai ritus ucapan syukur atas hasil panen, melainkan juga sebagai ruang pamer eksistensi dan revitalisasi seni tradisi Dayak di era modern.
Ketua Panitia Gawai Adat Dayak Nosu Podi XXII, Marselus Junihardi, menegaskan bahwa roda persiapan telah bergerak cepat pasca-rapat koordinasi lintas seksi yang digelar beberapa waktu lalu.
Setiap bidang dalam kepanitiaan kini tengah melakukan finishing touch terhadap jadwal dan teknis pelaksanaan di lapangan.
"Setiap seksi panitia dipastikan sudah siap mengeksekusi jadwal kegiatan masing-masing. Gawai kali ini akan menyajikan harmoni yang seimbang antara kesakralan ritual adat dan kemeriahan pesta rakyat melalui berbagai perlombaan," ujar Marselus di Sanggau.
Marselus memaparkan, daya pikat Gawai Nosu Podi XXII kali ini terletak pada kayanya ragam kompetisi yang digelar. Selain mempertahankan ritual-ritual adat yang menjadi roh dari gawai itu sendiri, panitia menyusun rangkaian perlombaan kompetitif yang melibatkankan basis massa dari berbagai kalangan.
Untuk kategori seni dan estetika, panggung Betang akan diguncang oleh Lomba Tari Kreasi Dayak dan Lomba Lagu Daerah. Tak kalah prestisius, pemilihan duta budaya melalui Lomba Domamangk Domia serta Lomba Abang Ayong dipastikan menjadi daya tarik utama bagi generasi muda.
Kategori Perlombaan dan Ketangkasan Tradisional:
Ketangkasan & Olahraga Tradisional: Lomba Menyumpit dan Lomba Pangkak Gasing.
Kriya & Seni Rupa: Lomba Melukis Perisai serta Lomba Memahat.
Ketahanan Pangan & Domestik: Lomba Menumbuk dan Menampik Padi, serta Lomba Masakan Tradisional.
Sastra Lisan: Lomba Cerita Dongeng.
Lebih dari sekadar panggung budaya, Gawai Nosu Podi XXII juga diproyeksikan menjadi stimulus bagi sektor ekonomi kreatif lokal.
Panitia menyediakan area khusus untuk stand pameran produk kerajinan tangan (handicraft) serta pasar kuliner tradisional yang dapat dinikmati pengunjung sepanjang hari.
Memasuki malam hari, atmosfer Rumah Betang Raya Dori Mpulor akan dihidupkan oleh panggung hiburan rakyat yang menyajikan performa musik dan kesenian lokal.
Marselus memprediksi, eskalasi kunjungan masyarakat dan perantau sudah akan terlihat beberapa hari sebelum pembukaan resmi. Ia pun melempar undangan terbuka bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk hadir menyaksikan langsung otentisitas budaya Dayak Sanggau.
"Bahkan dari tanggal 5 Juli kemungkinan area Rumah Betang sudah mulai ramai dan semarak. Silahkan datang dan kunjungi. Narasi besar kita adalah bergembira bersama, namun tetap dengan komitmen kolektif untuk bersama-sama menjaga situasi yang aman, damai, tertib, dan nyaman bagi semua pihak," pungkas Marselus optimistis. (*)