Ketika Ekonomi Masuk ke Meja Makan
Irfani Rahman June 09, 2026 07:52 AM

(Pelajaran di Balik Rupiah Rp18.000 dan Pentingnya Menjaga Harapan)

Oleh: R.K. Ariyandi
Praktisi Perbankan

BANJARMASINPOST.CO.ID- BEBERAPA pekan lalu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan keyakinannya bahwa tekanan terhadap rupiah diperkirakan lebih banyak dipengaruhi faktor-faktor musiman dan berpotensi mereda pada semester kedua tahun ini.

Pernyataan tersebut memberikan pesan optimisme bahwa pelemahan yang terjadi tidak serta-merta mencerminkan melemahnya fondasi ekonomi Indonesia.

Namun dinamika pasar sering kali bergerak lebih cepat daripada berbagai proyeksi. Hari ini, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Bagi pelaku pasar, angka tersebut mungkin menjadi indikator yang terus dipantau. 

Namun bagi sebagian besar masyarakat, yang lebih penting bukanlah angka kurs itu sendiri, melainkan dampak yang mungkin ditimbulkannya terhadap kehidupan sehari-hari.

Di sinilah sesungguhnya persoalan ekonomi menjadi relevan bagi semua orang. Karena pada akhirnya, setiap gejolak ekonomi akan menemukan jalannya menuju kehidupan keluarga.

Ia mungkin berawal dari pasar keuangan, tetapi dampaknya dapat terasa pada harga kebutuhan, biaya usaha, daya beli, hingga perencanaan masa depan rumah tangga.

Pertanyaan terpenting bukanlah apakah rupiah akan kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dapat kita pelajari setiap kali nilai tukar berada dalam tekanan.

Nilai tukar bukan sekadar persoalan pasar keuangan. Ia merupakan salah satu indikator yang menggambarkan bagaimana sebuah perekonomian menghadapi dinamika global yang terus berubah.

Ketika rupiah berada di bawah tekanan, dampaknya tidak selalu langsung terasa. Namun secara perlahan, tekanan tersebut dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi.

Biaya impor menjadi lebih mahal. Harga bahan baku mengalami tekanan. Biaya produksi meningkat. Dunia usaha harus melakukan berbagai penyesuaian. Dalam kondisi tertentu, dampak tersebut kemudian dapat memengaruhi harga barang dan jasa yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Karena itulah, gejolak ekonomi pada akhirnya tidak berhenti di ruang rapat para ekonom atau pelaku pasar. Ia bergerak lebih jauh hingga menyentuh kehidupan keluarga.

Bagi pelaku pasar, pergerakan rupiah mungkin dibaca dalam grafik dan angka. Bagi ekonom, ia dibaca melalui indikator dan proyeksi.

Namun bagi masyarakat, dampaknya dibaca dengan cara yang jauh lebih sederhana: melalui harga kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan, biaya transportasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga.

Dengan kata lain, ketika gejolak ekonomi berlangsung cukup lama, ia perlahan berpindah dari layar komputer ke meja makan keluarga.

Dan di situlah ekonomi benar-benar diuji. Meja makan adalah tempat semua kebijakan ekonomi pada akhirnya diuji.

Di meja makan, keluarga memutuskan bagaimana mengatur pengeluaran. Di meja makan, orang tua memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya.

Di meja makan, pelaku usaha kecil menghitung apakah keuntungan yang diperoleh masih cukup untuk mempertahankan usahanya.

Di meja makan pula, harapan tentang masa depan sering kali dibicarakan dengan jujur dan sederhana.

Karena itu, keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari pertumbuhan, cadangan devisa, atau stabilitas pasar keuangan. Keberhasilan ekonomi juga diukur dari kemampuan menjaga daya beli masyarakat, menciptakan lapangan kerja, serta menghadirkan rasa optimistis terhadap masa depan.

Sering kali kita terlalu fokus pada angka sehingga lupa pada manusia yang berada di balik angka tersebut. Padahal tujuan akhir dari setiap kebijakan ekonomi bukanlah sekadar menghasilkan statistik yang baik, melainkan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dalam berbagai periode sulit yang pernah dilalui bangsa ini, kita belajar bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alam, investasi, atau kebijakan fiskal dan moneter.

Kekuatan terbesar Indonesia justru berada pada kemampuan masyarakatnya untuk beradaptasi dan bertahan menghadapi perubahan.

Ketika keadaan tidak mudah, para pelaku UMKM tetap membuka usaha. Para petani tetap menanam.

Para nelayan tetap melaut. Para pekerja tetap menjalankan aktivitasnya. Mereka mungkin tidak mengikuti pergerakan kurs setiap hari, tetapi merekalah yang menjaga roda ekonomi tetap berputar.

Karena itu, tantangan ekonomi hari ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai ancaman. Ia juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat fondasi yang selama ini masih perlu dibenahi. Produktivitas harus terus ditingkatkan.

Inovasi harus terus didorong. Kualitas sumber daya manusia harus terus diperkuat. Dunia usaha perlu diberikan ruang untuk tumbuh. Daerah-daerah perlu terus mengembangkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Meski demikian, situasi yang sedang kita hadapi tidak perlu disikapi secara berlebihan. Tekanan terhadap rupiah hari ini tentu menjadi perhatian bersama, tetapi Indonesia bukanlah bangsa yang baru pertama kali menghadapi ketidakpastian ekonomi.

tantangan dan gejolak pernah datang silih berganti, dan setiap kali itu pula kita belajar untuk beradaptasi, memperkuat diri, dan bangkit kembali.

Optimisme bukan berarti menutup mata terhadap tantangan. Optimisme adalah keyakinan bahwa tantangan dapat dihadapi dan dilewati bersama. Karena itulah, kita perlu tetap waspada tanpa kehilangan harapan, tetap realistis tanpa kehilangan keyakinan.

Pada akhirnya, masyarakat mungkin tidak mengingat berapa nilai tukar rupiah pada suatu hari tertentu. Mereka akan lebih mengingat apakah pada masa itu mereka masih memiliki kesempatan untuk bekerja, berusaha, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.

Sebab ketika ekonomi masuk ke meja makan, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya kekuatan rupiah. Yang sedang diuji adalah kemampuan kita menjaga harapan, memperkuat ketahanan, dan terus bergerak maju sebagai bangsa.

Dan jika sejarah dapat menjadi guru, maka ada satu pelajaran yang layak kita pegang: berbagai gejolak telah kita lewati bersama, dan tantangan hari ini pun dapat kita lewati bersama. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.