TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Gembiranya wisatawan di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, saat embun es atau embun upas muncul menyelimuti kompleks Candi Arjuna, Selasa (9/6/2026) pagi.
Mereka pun langsung mengabadikan momen langka ini lewat foto dan video.
Pantauan di lokasi, sekitar pukul 05.30 WIB, butiran es halus menyelimuti kompleks Candi Arjuna.
Tak hanya menutup rerumputan, embun es ini juga menempel di benda-benda yang ada di luar ruangan.
Embun es yang menempel di meja bahkan terlihat tebal hingga bisa diserok menggunakan sendok.
Pemandangan yang menyerupai hamparan salju itu menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang sejak pagi.
Baca juga: Catat Jadwal Dieng Culture Festival 2026: Potong Rambut Gimbal dan Jazz Atas Awan Magnet Utama
Warga lokal Dieng, Hasta Priandono mengatakan, fenomena embun upas telah muncul selama tiga hari berturut-turut.
"Iya, sudah muncul dari 3 hari ini sejak hari Minggu (7/6/2026)," ungkapnya.
Menurut Hasta, kemunculan embun es di hari Minggu masih tipis dan hanya muncul di beberapa titik.
Kondisi tersebut kemudian meluas pada Senin (8/6/2026) dan semakin tebal pada Selasa pagi ini.
"Hari Senin kemarin lumayan luas juga, dan sekarang lebih tebal lagi," sebutnya.
Kemunculan embun upas dipicu suhu udara yang turun drastis saat malam hingga dini hari.
Hasta menyebut, suhu di kawasan Dieng sempat mencapai titik beku.
"Kalau dari semalam, itu sudah 0 derajat ya, sampai pagi ini ada kabar juga tadi minus 1 derajat," ucapnya.
Embun es tidak hanya terlihat di sekitar Kompleks Candi Arjuna.
Fenomena serupa juga mulai menyelimuti sejumlah lahan pertanian milik warga, khususnya area perkebunan kentang yang berada di sekitar kawasan wisata.
"Ini saya lihat di sekitar Kompleks Candi Arjuna bahkan sudah sampai ke lahan pertanian kentang warga," ujarnya.
Fenomena embun upas tahun ini juga memicu peningkatan kunjungan wisatawan.
Menariknya, keramaian tidak hanya terjadi saat akhir pekan tetapi juga pada hari kerja.
Hasta mengaku, setiap pagi, banyak kendaraan dari luar daerah yang datang untuk menyaksikan embun es secara langsung.
"Walaupun hari biasa, bukan di weekend, ramai juga," sebutnya.
Menurutnya, waktu terbaik menikmati fenomena alam ini adalah antara pukul 05.00 hingga 06.30 WIB.
Setelah Matahari mulai meninggi, lapisan es perlahan mencair.
"Kalau jam 7, sudah mencair karena sinar Matahari sudah keluar dan panas kan jadinya," ungkapnya.
Sebagian besar wisatawan memanfaatkan momen itu untuk berfoto dan membuat konten media sosial.
Selain wisatawan umum, sejumlah kreator konten juga terlihat berburu gambar embun es yang hanya muncul pada waktu-waktu tertentu.
Meski ketebalan embun upas pada Selasa pagi dinilai cukup tebal, fenomena tersebut diperkirakan belum mencapai puncaknya.
Baca juga: Pantas Sembelih 890 Hewan Kurban, Profil Desa Batur Dieng dan Kehidupan Warganya
Hasta menjelaskan, musim kemarau di Dieng masih berlangsung dan peluang terbentuknya embun es yang lebih tebal masih terbuka dalam beberapa bulan ke depan.
"Puncaknya, mungkin di sekitar bulan Agustus," ucapnya.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, suhu udara di Dieng bahkan dapat turun hingga minus 4 sampai minus 5 derajat Celsius saat musim kemarau mencapai puncak. (*)