Cerpen: Uang Regis
Dion DB Putra June 10, 2026 08:19 AM

Oleh: Felix Sugar *

POS-KUPANG.COM - “Minggu depan ayah kirim uang regis, ya, Nak.”  Suara ayah terdengar pelan dari seberang telepon. 

Aku membayangkan wajahnya yang mungkin sedang dibasahi keringat setelah seharian bekerja. 

Sudah lama aku tidak melihatnya secara langsung. Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali kami duduk bersama lebih dari satu jam.

“Iya Ayah, aku tunggu yah. Terima kasih.” jawabku singkat. Telepon langsung terputus. 

Aku masih memandangi layar ponsel yang perlahan menggelap. Kalimat itu terus terngiang di kepalaku dengan khusuk.

“Minggu depan ayah kirim uang regis.” 

Baca juga: Cerpen: Dara di Puncak Rembulan 

Kalimat sederhana yang seharusnya membuatku lega, justru menghadirkan kegelisahan yang sulit dijelaskan. 

Entah kenapa, aku pun tak tahu. Atau? Mungkin karena aku terlalu mengenal keadaan kami yang jauh dari kelimpahan.

***

Ayahku adalah seorang perantau tulen. Sejak aku kecil dan duduk di kelas  IV SD, hidupnya dihabiskan jauh dari rumah. Bahkan ketika ibu mengandung adik bungsuku, ayah sudah berangkat ke kota lain untuk bekerja. 

“Adakah pada kami rumah mewah, kulkas mewah atau sofa empuk? Tidak akan mungkin ada. Yang ada hanyalah gubuk kecil yang atapnya dari pohon enau dan dindingnya dari ayaman bambu.

Sejak saat itu hidup kami berjalan dengan pola yang sama. “Ayah pergi. Ayah mengirim uang. Ayah pulang setahun sekali. Lalu pergi lagi.” 

Kadang aku merasa ayah lebih akrab dengan jalanan daripada dengan keluarganya sendiri. Namun aku tidak pernah menyalahkannya. 

Aku tahu alasan semua itu. Kekurangan. Kata yang sederhana, tetapi mampu mengubah banyak hal dalam hidup seseorang.

Ayah bekerja sebagai kurir di sebuah toko bangunan. Setiap harinya Ia mengantar semen, pasir, batu bata, dan berbagai bahan bangunan ke pelosok kota. 

Upahnya tidak besar. Tetapi dari pekerjaan itulah kami hidup. Kadang ia mengeluh sakit, tapi hanya bergumam saja. 

Selama bertahun-tahun, setiap rupiah yang dikirim ayah selalu pas. Tidak pernah kurang. Tidak pernah lebih. 

Aku dan ibu sudah terbuasa menunggu, kalau ada syukur kalau tidak pun serasa biasa. Aku menyaksikan ayah berjuang setengah mati. 

Apalagi ibuku di rumah setiap harinya selalu dengan bau tanah di kukunya terasa tak asing lagi dengan air.

***

Suatu pagi di awal bulan ini, aku kaget dengan sebuah notifikasi transfer masuk ke rekeningku, aku sampai mengira sedang salah melihat angka. 
Rp2.500.000. Aku membaca angka itu berulang kali. Dua juta lima ratus ribu rupiah. Jumlah yang tidak biasa. 

“Ini uang siapa? Pasti ini salah kirim?’ gumamku.

Dengan perasaan mengguncang, aku segera menelepon ayah. “Ayah, kenapa uangnya banyak sekali?” Di ujung telepon terdengar suara kendaraan dan angin. 

Baca juga: Cerpen: El Samoa

“Tidak apa-apa. Ayah ada rezeki lebih.” 

“Rezeki apa?” Ayah tertawa kecil. “Sudah, tidak usah dipikirkan. Dipakai baik-baik. Hemat-hemat yak nak.”

Sebelum aku sempat bertanya lagi, telepon pun terputus. Aku menatap layar ponsel cukup lama. 

Rezeki lebih? Entah mengapa kalimat itu terasa janggal. Aku hanya tersentum tipis. Ah, barangkali ayah benar juga.

***

Sebagai anak sulung, aku terbiasa hidup dengan kekurangan. Aku kuliah di ibu kota provinsi. Untuk mengurangi beban orang tua, aku bekerja apa saja yang bisa kukerjakan. 

Sore hari sepulang kuliah aku mencuci piring di warung makan dekat kos. Malam membantu menyetrika di laundry milik tetangga. 

Kadang-kadang menjadi petugas kebersihan paruh waktu di kampus. Penghasilannya tidak seberapa, tetapi cukup untuk menambah uang makan. Aku tidak pernah malu. Bagiku, bekerja lebih baik daripada menunggu belas kasihan. 

Karena itulah aku tahu betapa berharganya uang yang dikirim ayah. Lima ratus ribu rupiah saja bisa membuatku bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. 

Apalagi dua juta lima ratus ribu. Jumlah itu terasa terlalu besar untuk ukuran kami.

Malam itu aku teringat sebuah kaus bekas yang pernah kulihat di pasar barang lelang. Sudah lama aku menginginkannya. Harganya tidak mahal. 

Namun setiap kali memiliki uang lebih, aku selalu mengurungkan niat untuk membeli. Masih ada kebutuhan lain yang lebih penting. Aku membuka aplikasi belanja dan melihat-lihat kaus yang mirip. Untuk sesaat aku tergoda. 

Tetapi tiba-tiba bayangan ayah muncul di kepalaku. Tubuhnya yang kurus. 

Tangannya yang kasar. Punggungnya yang semakin membungkuk. Aku menutup aplikasi itu. Entah kenapa, uang kiriman itu justru membuatku merasa tidak nyaman. Aku melawan egoku sendiri.

***

Di kampung halaman, ibu tinggal sendirian. Adik bungsuku kini menetap di asrama milik para suster. Adikku yang lain sedang duduk di kelas tiga SMA. 

Rumah kami semakin sepi. Ibu menghabiskan hari dengan berkebun dan membantu tetangga memasak saat ada pesta atau hajatan. Upahnya tidak besar. Tetapi ibu selalu berkata bahwa bekerja membuatnya merasa tetap berguna. 

Suatu sore aku menelepon ibu karena rindu sudah tak tertahab lagi.

“Ayah ada telepon, Bu?” 

“Tidak ada Nak!” 

“Biasanya ada, kan?”

“Belakangan ini memang jarang.” 

Aku terdiam. 

“Kenapa, Nak?” 

“Tidak apa-apa.” Aku tidak ingin membuat ibu khawatir. Padahal saat itu perasaan tidak enak mulai tumbuh dalam diriku.

Seminggu berlalu. Tidak ada kabar dari ayah. Pesan-pesanku hanya centang satu. Teleponku tidak pernah diangkat. 

Aku mulai gelisah. Biasanya sesibuk apa pun, ayah akan menghubungi kami. Minimal sekali. Tetapi kali ini tidak.

Hari demi hari berlalu. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa mungkin ayah sedang sibuk. Mungkin ponselnya rusak. Mungkin sinyal di tempat kerjanya buruk. 

Namun semakin aku mencari alasan, semakin besar rasa takut yang muncul.  Malam-malamku menjadi tidak tenang. Aku sering terbangun dan langsung memeriksa ponsel. 

Tetapi tidak ada apa-apa. Hanya layar kosong. Dan kesunyian. Tapi, Aku yakin saja ayah sedang baik-baik saja.

***

Malam itu hujan turun deras dibarengi angin kencang. Listrik di kos juga ikut mati. Aku baru saja tertidur ketika suara notifikasi membangunkanku. 

Dengan mata masih setengah terpejam, aku meraih ponsel. Transfer masuk dengan cepat. Rp1.500.000. Jantungku langsung berdegup kencang.

“Ayah!” Aku yakin uang itu dikirim oleh ayah. Setelah menunggu kabar dari 
Ayah, aku sedikit kaget senang rasanya.

Namun beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal. “Terima kasih. Ayahmu telah kami tangkap.” 

Aku membaca pesan itu berulang kali. Tanganku mulai gemetar. Dengan buru-buru aku menelepon nomor ayah. Beberapa saat kemudian seseorang menjawab.

“Selamat malam.” 

“Ini nomor ayah saya. 

Siapa ini?”

“Apa benar Anda anak Pak Sipri?” 

“Iya itu ayahku.” Ada apa?

Terdengar suara napas di seberang sana. Kemudian laki-laki itu berkata dengan nada datar. 

“Kami dari kepolisian. Ayah Anda sedang menjalani pemeriksaan karena diduga terlibat jaringan judi online.” 

Dunia terasa berhenti. Aku tidak lagi mendengar kalimat berikutnya. Hujan masih menghantam atap kos. 

Tetapi suaranya terasa sangat jauh. Aku terduduk di lantai. Ponsel terlepas dari tangan. 

Pikiranku kosong. Hening membisu, nafasku setengah mati, jantungku rasanya mau copot. Malam itu aku tidak tidur. Aku mencoba mengingat semua hal yang terjadi beberapa minggu terakhir. Telepon ayah yang semakin sering. 

Uang kiriman yang tiba-tiba bertambah. Janji untuk membayar uang registrasi kuliahku. Dan sekarang semuanya terasa masuk akal. Ayah sedang berusaha mendapatkan uang dengan cara yang salah.

Entah karena terdesak. Entah karena putus asa. Entah karena merasa tidak punya pilihan lain. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku tidak marah. 

Justru itu yang membuat dadaku semakin sesak. Aku mengenal ayah. Ia bukan orang jahat. Ia hanya seorang laki-laki yang terlalu lama bertarung dengan kemiskinan.

***

Beberapa hari kemudian, aku akhirnya memberi tahu ibu. Awalnya ibu tidak percaya. “Ayahmu tidak mungkin begitu.” 

Aku berharap ibu benar. Tetapi kenyataannya tidak. Ibu menangis lama sekali. Untuk pertama kalinya aku mendengar suara tangis yang begitu putus asa. “Ayahmu cuma ingin kalian sekolah,” katanya.

Kalimat itu membuatku semakin hancur. Karena aku tahu itu benar. Ayah tidak pernah membeli apa pun untuk dirinya sendiri. Bajunya itu-itu saja. 

Sandalnya sering putus lalu diperbaiki lagi. Bahkan saat pulang kampung, oleh-oleh untuk kami selalu lebih banyak daripada barang yang ia bawa untuk dirinya. 

Ayah mungkin salah. Tetapi kesalahannya lahir dari keinginannya melihat kami hidup lebih baik. Dan itulah yang paling menyakitkan.

Hari-hari berikutnya terasa berat. Aku tidak memiliki cukup uang untuk datang menghadiri setiap proses hukum yang dijalani ayah. 

Aku hanya bisa menunggu kabar. Setiap malam aku memandangi rekening yang masih menyimpan uang kiriman terakhir darinya. 

Aku tidak sanggup menggunakannya. Uang itu seperti menyimpan luka. Aku teringat kembali pada kaus bekas yang dulu sangat kuinginkan. 

Tiba-tiba benda itu terasa tidak berarti. Begitu juga banyak hal lain yang selama ini kupikir penting. 

Di luar jendela, matahari mulai tenggelam. Aku duduk sendiri di kamar kos yang sempit.

Ponselku berada di atas meja. Tidak ada lagi telepon dari ayah. Tidak ada lagi suara beratnya yang selalu berusaha terdengar tegar. Yang tersisa hanya satu kalimat yang terus berputar di kepalaku. 

“Minggu depan ayah kirim uang regis, ya, Nak.” Aku menunduk. Air mata kembali jatuh. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berharap ayah tidak pernah menepati janji itu.

Kini rindu itu semakin jauh. Sudah lama tak bertemu. Dan kini ayah hanya menunggu putusan hakim, yang akan hanya menambah waktu kami untuk tidak bertemu. (*)

*) Felix Sugar berasal dari Manggarai-Flores, NTT adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero. Ia telah giat dalam menulis dibeberapa media lokal maupun pada jurnal ilmiah. Selain itu, Ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.