Reses di Dowansiba, Buruh Sekop Pasir Curhat soal Pangkalan dan Harga Pasir ke Aloysius Siep
Roifah Dzatu Azmah June 10, 2026 12:44 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua Barat (DPRPB), Aloysius Paulus Siep, menggelar Reses II bersama para buruh sekop pasir di Kampung Dowansiba, Kabupaten Manokwari, Senin (8/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara interaktif itu menjadi wadah bagi para buruh sekop pasir untuk menyampaikan berbagai aspirasi, yang selama ini mereka hadapi dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari.

Aspirasi utama yang disampaikan para buruh yakni kebutuhan pembangunan pangkalan permanen di tiga titik lokasi kerja, mulai dari kawasan Amban Pantai hingga Mandopi. 

Selain itu, mereka juga meminta adanya kepastian harga pasir yang dinilai masih belum menentu.

Baca juga: Bupati Teluk Bintuni Pimpin Upacara HUT ke-23, Kunjungi Stan Kuliner UMKM

Ketua Buruh Sekop Pasir, Andarias Tobida, mengatakan para buruh membutuhkan perhatian serius dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten, mengingat pekerjaan mereka turut mendukung pembangunan daerah.

"Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan buruh sekop pasir, terutama terkait pembangunan pangkalan permanen dan penetapan harga pasir yang lebih layak. Selama ini kami bekerja secara manual dan belum memiliki fasilitas maupun jaminan yang memadai," jelasnya.

Menurut Andarias, para buruh sekop pasir berperan penting dalam penyediaan material pembangunan, baik pasir maupun batu yang digunakan berbagai proyek konstruksi di Manokwari.

Ia menjelaskan, selain pangkalan permanen, para buruh juga membutuhkan sejumlah perlengkapan kerja seperti sekop, baju kerja, singlet, topi, hingga alat penggaruk pasir untuk menunjang aktivitas mereka di lapangan.

Andarias juga menyoroti harga pasir yang saat ini dinilai belum sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan para pekerja.

"Saat ini harga satu bak pasir rata-rata Rp150 ribu, padahal ukuran bak berbeda-beda. Kami bekerja menggunakan tenaga manusia sehingga harga tersebut masih belum sesuai dengan beban pekerjaan yang kami lakukan," katanya.

Baca juga: Puskesmas Prafi Kekurangan Dokter, Dinkes Manokwari Pastikan Perbaikan Pelayanan

Ia berharap pemerintah dapat membantu menetapkan standar harga pasir yang lebih adil bagi para buruh.

Dalam kesempatan tersebut, Andarias menyebut jumlah anggota buruh sekop pasir yang telah terdata mencapai sekitar 687 orang.

"Ada tiga lokasi utama tempat buruh bekerja, yakni di belakang rumah Pak Mandacan, sekitar Jembatan Kali Pami, dan Mandopi," ujarnya.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Aloysius Paulus Siep menyatakan komitmennya untuk menampung dan memperjuangkan kebutuhan para buruh sekop pasir kepada pemerintah daerah.

Menurutnya, seluruh aspirasi yang telah disampaikan akan menjadi perhatian dan akan diperjuangkan secara bertahap sesuai kewenangan yang ada.

"Pada prinsipnya, apa yang menjadi kebutuhan bapak-bapak sudah didengarkan. Aspirasi ini akan kami perjuangkan dan dilengkapi secara bertahap," kata Aloysius.

Ia juga mendorong para buruh sekop pasir untuk memperkuat kelembagaan organisasi melalui pembentukan badan hukum, agar lebih terorganisir dan memiliki posisi yang kuat dalam memperjuangkan hak-hak mereka.

"Yang paling penting adalah adanya wadah organisasi yang memiliki badan hukum sehingga seluruh anggota dapat terorganisir dengan baik dan lebih mudah dalam memperoleh perhatian maupun program pemberdayaan dari pemerintah," tutupnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.