TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax kembali menjadi sorotan utama masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Sumatera Barat.
Di tengah tekanan ekonomi yang masih belum sepenuhnya pulih, lonjakan harga ini langsung berdampak pada pola konsumsi energi warga.
Di Kota Padang, masyarakat mulai merasakan beban tambahan akibat meningkatnya biaya transportasi harian.
Sejumlah pengendara kendaraan pribadi mengaku harus mulai menghitung ulang pengeluaran agar tetap bisa bertahan dalam kondisi harga yang naik.
Tidak sedikit warga yang kini mempertimbangkan untuk beralih dari BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi sebagai langkah penghematan.
Perubahan perilaku konsumsi ini terlihat dari meningkatnya antrean di sejumlah SPBU yang menyediakan bahan bakar bersubsidi.
Pelaku usaha transportasi juga mulai menyesuaikan tarif demi menutup biaya operasional yang terus meningkat.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan efek domino terhadap harga kebutuhan pokok jika tren kenaikan terus berlanjut.
Pemerintah daerah dan pihak terkait pun didorong untuk mencari solusi agar dampak kenaikan harga BBM tidak semakin meluas.
Di tengah situasi ini, masyarakat dituntut untuk lebih bijak dalam mengatur penggunaan kendaraan dan konsumsi bahan bakar sehari-hari.
Baca juga: Efek Rupiah Anjlok Mulai Terasa, Harga Bahan Bangunan di Nunukan Melonjak Tajam, Cat Naik 70 Persen
Seperti diketahui, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax 92, membuat sejumlah konsumen mulai bersiap pindah ke Pertalite, Rabu (10/6/2026).
Diketahui per hari ini, terjadi kenaikan harga Pertamax 92 di Sumbar dari Rp12.900 menjadi Rp17 ribu per liter.
Kenaikan harga yang mencapai 31 persen ini membuat para konsumen mulai mengambil ancang-ancang untuk beralih ke BBM Subsidi jenis Pertalite.
Saat ini harga BBM subsidi jenis Pertalite masih Rp10 ribu per liter atau 70 persen lebih murah dari harga Pertamax 92.
Pengguna BBM jenis Pertamax, Teguh, mengatakan berencana akan beralih ke Pertalite jika memang kondisi keuangannya tidak lagi memungkinkan.
“Kalau seandainya sudah tidak sanggup pasti beralih. Biar harus ngantre sekalipun,” ujarnya kepada Kompas.com.
Teguh menyebut, selama ini alasannya tetap mengisi pertamax 92 akibat antrean panjang Pertalite dan perbedaan harga yang tidak terlalu mencolok.
Hanya saja, saat perbedaan harga mencolok ia mungkin akan memikir ulang keputusannya yang sudah berlangsung selama satu tahun terakhir.
Berbeda dengan Teguh, Didit masih yakin dengan kualitas Pertamax 92 meski mengalami kenaikan harga.
“Saya mengisi pertamax sebenarnya untuk menjaga kualitas mesin kendaraan. Jadi kalau harganya naik tentu saya harus menyesuaikan,” ujarnya.
Ia menyebut langkah antisipasi yang akan ia gunakan mungkin akan mengurangi bepergian yang tidak efektif untuk menghemat bahan bakar.
“Kalau beralih ke pertalite agam sedikit takut, soalnya akan berdampak pada performa mesin. Belum lagi antreannya panjang,” katanya.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)