Dari Bandung ke Rantai Pasok Global, Indonesia Gandeng Turki Siap Bangkitkan Industri Dirgantara
Seli Andina Miranti June 10, 2026 02:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Indonesia punya sejarah panjang dalam industri dirgantara. Namun, setelah masa kejayaan IPTN meredup pascakrisis ekonomi, sektor ini seperti berjalan di tempat. 

Kini, harapan untuk menghidupkan kembali rantai industri tersebut muncul dari kerja sama Indonesia-Turki yang tak hanya berbicara soal membeli atau menjual pesawat, tetapi membangun industri komponen hingga fasilitas perakitan di dalam negeri.

Hal itu mengemuka dalam Indonesia Aerospace Ecosystem Forum (IAEF) 2026 yang digelar PT Turkish Aerospace Indonesia (TAID) dimana Indonesia tak boleh lagi hanya menjadi pasar bagi produk dirgantara negara lain.

Baca juga: Bandara Husein Bandung Bakal Kembali Layani Pesawat Jet, Pelaku Pariwisata Dukung Penuh

Managing Director PT Turkish Aerospace Indonesia (TAID), Adi Aviantoro, mengatakan Indonesia sesungguhnya telah memiliki pondasi kuat untuk kembali bangkit sebagai pemain industri dirgantara.

“Indonesia ini secara sejarah memang background industrinya sudah diarahkan ke industri aerospace. Industri yang dibangun para pendahulu kita, Pak Habibie, adalah industri aerospace,” ujar Adi saat ditemui di BRI Tower, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/6/2026).

Menurut dia, industri tersebut sempat mengalami masa sulit sehingga ekosistem pendukungnya ikut melemah. 

Namun, masuknya investasi Turkish Aerospace sejak 2022 diharapkan menjadi momentum kebangkitan baru, terutama bagi industri manufaktur komponen pesawat.

“Setelah Turkish Aerospace Indonesia berinvestasi di Indonesia, kami harapkan industri aerospace pendukungnya mulai berkembang, terutama di industri manufacturing,” katanya.

Adi menilai kerja sama Indonesia dan Turki bukan sekadar hubungan bisnis biasa. Kedua negara memiliki kedekatan historis dan kesamaan budaya yang telah terjalin lama.

Ia menyebut ketika Turkish Aerospace atau TUSAŞ berkembang pada dekade 1970-an, Indonesia sudah dipandang memiliki potensi besar di sektor penerbangan.

“Turki memberikan inspirasi bahwa basic industri aerospace itu ada di Indonesia. Oleh karenanya Turki berinvestasi di Indonesia untuk industri pesawat terbang yang memang sudah punya basis, terutama di Bandung,” ujarnya.

Baca juga: Rencana BIJB Kertajati Jadi Bengkel Pesawat Hercules, Tokoh Cirebon Khawatir Jadi Pangkalan Militer

Bandung pun kembali disebut sebagai titik penting kebangkitan industri dirgantara nasional.

Menurut Adi, Kota Kembang dinilai paling siap karena memiliki ekosistem yang sudah terbentuk sejak lama, mulai dari perguruan tinggi dengan program studi penerbangan hingga sumber daya manusia yang berpengalaman di industri pesawat terbang.

“Bandung harusnya paling siap karena didukung universitas yang punya jurusan penerbangan, kemudian industrinya memang dari dulu pusatnya ada di Bandung. Teman-teman di TUSAŞ Indonesia ini juga background-nya dari industri pesawat terbang yang sudah ada,” katanya.

Meski demikian, fokus investasi Turki di Indonesia saat ini belum sampai pada produksi pesawat utuh.

Adi menjelaskan, langkah awal yang dipilih adalah memperkuat industri komponen atau part manufacturing sebagai pondasi utama.

“Sekarang yang harus kita perkuat secara fundamental adalah mengembangkan industri part manufacturing yang kemudian berkembang ke arah assembly pesawat terbang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan Turkish Aerospace juga tengah mempelajari pembangunan fasilitas perakitan atau assembly pesawat di Indonesia.

“Selain membuat perusahaan Turkish Aerospace Indonesia, Turki juga berinvestasi untuk ke depannya membuat fasilitas assembly pesawat terbang,” katanya.

Namun, nilai investasi tersebut masih dalam tahap studi sehingga belum dapat dipublikasikan.

Terkait lokasi fasilitas assembly, Adi menyebut Kertajati menjadi salah satu opsi yang mengemuka.

“Saat ini ada beberapa pilihan, belum diputuskan. Yang kemarin juga sudah ramai soal GMF di Kertajati, mungkin arahnya ke depan juga ke Kertajati,” ujarnya.

Dalam tahap awal, TAID akan lebih dulu fokus pada produksi komponen helikopter komersial.

Produk Turkish Aerospace sendiri terdiri atas pesawat sayap tetap (fixed wing) dan helikopter (rotary wing), baik untuk kebutuhan militer maupun sipil.

“Sekarang ini kita fokus untuk yang komersial, helikopter,” kata Adi.

Baca juga: Kertajati Bakal Jadi Pusat Rawat Pesawat Militer AS, Pengamat Unpar: Harus Ada Transfer Teknologi

Meski pasar utamanya masih untuk memenuhi kebutuhan Turkish Aerospace, peluang pemasaran di Indonesia juga terbuka.

Di sisi lain, tantangan terbesar industri dirgantara nasional justru masih berada di dalam negeri.

Industrialization Operations Manager Turkish Aerospace (TUSAŞ), Emrah Ekri, menilai Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang mendukung pengembangan industri dirgantara.

“Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kompetitif, kemampuan industri yang terus berkembang, serta posisi strategis di kawasan. Dengan pengembangan ekosistem yang kuat dan berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memainkan peran yang lebih signifikan dalam rantai pasok dirgantara global,” kata Emrah.

Sementara itu Ketua Indonesian Aerospace Community (INACOM), J. Adi Sasongko, menilai peluang Indonesia sebenarnya sangat besar karena memiliki pasar domestik yang luas dan kebutuhan transportasi udara tinggi sebagai negara kepulauan.

Ia mencontohkan bagaimana Amerika Serikat membangun industri aviasinya dengan mengembangkan industri komponen otomotif menjadi pemasok industri pesawat.

“Harapannya kita bisa mengikuti seperti Amerika. Tentunya ini tidak bisa bekerja sendiri, harus didukung pemerintah, baik dari kebijakan jangka panjang maupun pembiayaan yang kompetitif,” ujarnya.

Namun, ia tak menampik bahwa birokrasi dan regulasi masih menjadi hambatan utama.

“Birokrasi dan regulasi itu tetanggaan, sama-sama ruwet. Tapi kami tidak akan menunggu sampai ideal, karena kalau menunggu ideal mungkin tidak akan pernah datang,” katanya.

Menurut Adi Sasongko, Indonesia justru harus berani mengambil lompatan agar tidak semakin tertinggal dari negara-negara lain yang dulu pernah belajar dari Indonesia.

“Negara Korea, Turki, belajarnya juga dulu dari Indonesia. Tapi kenapa kita semakin tertinggal? Kita harus melakukan perubahan, lompatan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ironi bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia masih bergantung pada pesawat impor.

“Kita ini pasar yang sangat besar, dari Sabang sampai Merauke butuh transportasi udara. Harusnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sekarang yang beterbangan di atas kita pesawat impor semua,” katanya.

Menurutnya, jika Indonesia mampu membangun rantai pasok industri secara utuh, mulai dari komponen hingga perakitan, manfaatnya bukan hanya bagi sektor manufaktur, tetapi juga mendukung konektivitas nasional.

Transportasi udara, kata dia, tetap menjadi pilihan paling efektif untuk wilayah kepulauan, terutama untuk mobilitas manusia, distribusi obat-obatan, hingga logistik yang membutuhkan kecepatan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.