BANGKAPOS.COM, BANGKA – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24.331.71 Desa Gadung, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tampak sepi, Rabu (10/6/2026) siang.
Di bawah papan merah bertuliskan Pertamax, lajur ini bersih, tak ada deru mesin yang saling menyahut. Selama kurun waktu 20 menit, area ini bak ruang tunggu yang sepi.
Hanya ada dua unit kendaraan minibus yang datang, mengisi bahan bakar tanpa perlu mengantre, lalu pergi dalam sekejap. Pemandangan sangat berbeda jika melirik ke sisi sebelah. Hanya berjarak beberapa meter, pemandangan riuh langsung menyergap mata.
Lajur Pertalite menjelma menjadi antrean kendaraan yang mengular panjang. Puluhan sepeda motor tampak berjejal rapat.
Sesekali pengemudinya menyeka keringat di dahi. Di belakang mereka, mobil pick up dan kendaraan pribadi ikut berbaris sabar, menunggu giliran mengisi bahan bakar bersubsidi tersebut.
Tak kalah padat, pemandangan serupa juga terlihat di lajur Bio Solar. Di sana, antrean memanjang didominasi oleh truk. Asap tipis dan gemuruh mesin diesel yang khas saling bersahutan.
Ridwan (29) seorang pengendara sepeda motor memilih untuk membeli BBM jenis Pertalite di tengah kenaikan harga Pertamax. Meskipun harus mengantre lebih lama, hal itu menurutnya lebih bisa menghemat pengeluarannya sehari-hari.
“Sekarang beralih ke Pertalite karena Pertamax naik cukup banyak. Walaupun harus antre enggak apa-apa,” katanya.
Ridwan mengaku baru mengetahui kenaikan harga setelah membuka media sosialnya pagi tadi. Ia sempat terkejut dan nyaris tak percaya harga BBM non subsidi jenis Pertamax mengalami kenaikan.
Dirinya berharap pemerintah bisa segera memberikan solusi kepada masyarakat. Supaya masyarakat kelas menengah ke bawah tidak berdampak secara signifikan.
“Semoga bisa segera ada solusi terkait kenaikan harga BBM non subsidi ini,” ujar Ridwan.
Pengawas SPBU 24.331.71 Desa Gadung, Fauzi mengatakan per hari ini harga bahan bakar non subsidi Pertamax mengalami kenaikan sebesar Rp4.050 atau 32,14 persen. Dari sebelumnya Rp12.600 kini menjadi Rp16.650 per liter.
Meski terjadi lonjakan harga yang cukup signifikan, kondisi penjualan dan aktivitas pengisian bahan bakar masih terpantau normal.
“Untuk harga Pertamax sejak semalam berlaku jam 00.01 WIB itu Rp16.650 per liter. Harga sebelumnya Rp12.600 per liter,” kata dia kepada Bangkapos.com.
Menurutnya hanya harga Pertamax yang mengalami penyesuaian. Harga BBM lainnya yang berlaku saat ini yakni Pertalite Rp10.000 per liter, Solar Subsidi Rp6.800 per liter, Pertamax Turbo Rp21.200 per liter, Dexlite Rp23.500 per liter, dan Pertamina Dex Rp25.350 per liter. Namun pada hari pertama pemberlakuan harga baru, belum terlihat adanya perubahan perilaku konsumen.
Kata Fauzi pihaknya terus memantau perkembangan pasca kenaikan harga tersebut. Hingga saat ini situasi di lapangan masih berjalan normal tanpa adanya lonjakan antrean maupun penurunan aktivitas pembelian yang mencolok. Konsumen yang datang ke SPBU juga masih melakukan transaksi seperti hari-hari biasa.
“Kalau menyikapi antisipasi stok kita cukup. Cuma untuk sekarang ini belum ada hal-hal yang bergejolak karena mulai berlaku hari ini,” beber Fauzi.
Meski demikian, dampak kenaikan harga terhadap daya beli masyarakat belum dapat dipastikan. Sebab, kebijakan harga baru tersebut baru berjalan sehingga diperlukan waktu untuk melihat respons konsumen secara lebih jelas.
Pihak SPBU memilih menunggu perkembangan dalam beberapa hari kedepan sebelum menarik kesimpulan terkait tren penjualan.
Terkait ketersediaan pasokan, Fauzi memastikan stok Pertamax di SPBU Desa Gadung dalam kondisi aman. Pasokan dari Pertamina disebut terus berjalan sesuai kebutuhan dan permintaan yang diajukan pihak SPBU. Selama ini tidak pernah terjadi kendala distribusi ketika permintaan tambahan diajukan.
Volume pasokan yang diterima SPBU bervariasi tergantung tingkat konsumsi masyarakat. Dalam kondisi tertentu, pengiriman dapat mencapai empat hingga delapan ton untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Bahkan pasokan empat ton disebut mampu mencukupi kebutuhan penjualan hingga sekitar dua pekan.
“Kalau empat ton Pertamax sekitar dua minggu baru habis,” urainya.
Fauzi menegaskan hingga kini belum ada indikasi gangguan distribusi BBM di wilayahnya. Setiap permintaan yang diajukan kepada Pertamina selalu mendapat respons dan pengiriman sesuai kebutuhan. Fauzi berharap volume penjualan Pertamax tidak mengalami penurunan dalam waktu dekat.
Sebab, penjualan BBM non subsidi menjadi salah satu penopang aktivitas usaha SPBU. Namun proyeksi tersebut masih sulit diprediksi karena bergantung pada respons pasar dalam beberapa hari mendatang.
“Saya lihat masih stabil, tidak ada masalah. Tapi tidak tahu prediksi kedepan seperti apa, mudah-mudahan jangan menurun untuk penjualan,” pungkas Fauzi.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)