TRIBUNJAKARTA.COM - Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Purbaya Yudhi Sadewa menyerahkan penanganan pelemahan nilai tukar rupiah kepada Bank Indonesia (BI) menyusul kurs rupiah yang terus tertekan hingga mendekati level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS).
"Pertama itu kan jurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal aja," kata Purbaya di Kompleks Parlemen pada Rabu (3/6/2026).
BI lalu menyambutnya dengan menaikkan suku bunga.
BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen pada hari ini, Selasa (9/6/2026).
Kenaikan BI rate pada hari ini dilakukan hanya berselang 20 hari dari keputusan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20 Mei 2026.
Pada Mei 2026, BI menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen.
"Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo.
Di sisi lain ekonom senior, Ferry Latuhihin menduga sikap Purbaya yang terus menekan BI, karena ia mengincar jabatan sebagai Gubernur BI.
Dengan tegas Ferry lalu menyebut Purbaya Yudhi Sadewa tak pantas memegang jabatan sebagai Gubernur BI.
Hal tersebut diungkapkan Ferry Latuhihin saat menjadi narasumber di YouTube Helmy Yahya Berbicara.
"Kalau dia memang mampu, enggak apa-apa, tapi masalahnya dia enggak punya dasar yang kuat," ucap Ferry.
"Mau siapapun jadi Menkeu, tapi tidak dengan memindahkan Purbaya ke BI," imbuhnya.
Ferry menilai Purbaya tidak memiliki kemampuan dasar untuk menjadi Gubernur BI.
Menurut Ferry Latuhihin, kenaikan suku bunga tidak akan cukup untuk menarik minat investor jika persoalan utamanya adalah kepercayaan atau trust.
Meski pemerintah menaikkan suku bunga untuk menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dan membuat investasi di Indonesia lebih menarik, langkah tersebut bisa menjadi tidak efektif apabila investor masih meragukan kondisi ekonomi, konsistensi kebijakan, kepastian hukum, atau stabilitas pemerintah.
"Karena dia tidak punya basic sama sekali, sekarang tugas BI apa sih? Kalau dia mau jadi gubernur, dia mau apa? Mau memperbaiki Rupiah? Naikin suku bunga? Gak mungkin," kata Ferry.
"Mau naikin suku bunga beberapa persen juga enggak dimakan (investor asing), karena persoalannya adalah trust (re: kepercayaan)," imbuhnya.
"Cadangan devisa bisa habis, tapi dia merasa prestise (re: bergengsi) kalau bisa jadi Gubernur BI," imbuhnya.
Ferry bahkan sampai memohon kepada Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menjadikan Purbaya sebagai Gubernur BI.
"Jadi Pak Presiden please jangan pindahkan dia jadi Gubernur BI, karena dia tidak punya kapasitas dan pengalaman sama sekali," tegas Ferry.
Di media sosial sempat beredar isu yang menyebut Purbaya Yudhi Sadewa bakal dijadikan Gubernur Bank Indonesia.
Isu itu merebak berbarengan dengan menguatnya kabar Presiden Prabowo Subianto tengah menimbang Chatib Basri menjadi Menteri Keuangan.
Namun Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan bahwa Prabowo belum ada rencana untuk mengganti posisi Purbaya sebagai Menkeu.
"Saya kira tadi sore juga sudah disampaikan oleh Beliau. Tidak ada, tidak ada rencana pergantian," kata dia.
Prasetyo juga menegaskan bahwa Presiden belum memiliki agenda untuk membahas pergantian Menkeu.
Di sisi lain, Purbaya juga membantah isu pengunduran dirinya melalui pesan singkat yang diterima Kompas.com, Kamis (20/6/2026)
"Tidak benar (isu pengunduran diri). Tidak hari ini (berikan pernyataan soal isu penguduran diri)," ucapnya.