Imbas Harga Pertamax Naik, Burhanadi Karyawan di Yogyakarta Kini Megap-megap: Pemerintah Gak Peduli
ninda iswara June 10, 2026 05:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Kritik keras datang dari masyarakat buntut naiknya harga BBM jenis Pertamax.

Keresahan menghampiri masyarakat yang kini harus berhadapan dengan kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja.

Harga kebutuhan pokok semakin melejit, sedangkan kantong semakin menipis.

Rabu (10/6/2026), Pertamax RON 92 dan Pertamax Green 95 mengalami kenaikan yang cukup drastis.

Harga BBM Pertamax 92 yang awalnya Rp 12.300 per liter, kini menjadi Rp 16.250 per liter.

Kenaikan hampir Rp 4.000 ini cukup membuat masyarakat resah dan mengeluhkan kondisi ekonomi mereka.

Dampak paling terasa dialami oleh pengendara yang memakai BBM jenis Pertamax untuk mobilitas sehari-hari mereka.

Banyak yang memilih Pertamax demi menjaga kondisi mesin kendaraan mereka.

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Warga Bantul Yogyakarta Khawatir Pertalite Ikut Melonjak, Takut Stok Kosong

Namun ada juga yang memakai Pertamax karena malas mengantre panjang di jalur Pertalite.

Seorang karyawan swasta di Yogyakarta bernama Burhanadi ungkap keresahannya sebagai pengguna Pertamax.

Ia mengaku memakai BBM nonsubsidi dikarenakan terpaksa.

Jenis motor yang ia gunakan membuatnya harus menyesuaikan jenis bahan bakar yang dipakai.

Meski harga Pertamax makin melejit, Burhanudi tak memiliki pilihan lain.

​"Saya memang konsisten pakai Pertamax. Alasannya, karena menyesuaikan sama jenis motor yang saya pakai, terus antrean Pertalite kan panjang banget. Mau enggak mau, harus tetap ngisi Pertamax meski harganya bikin geleng-geleng," keluhnya, Rabu (10/6/26), dikutip dari TribunJogja.

Kenaikan harga Pertamax yang cukup tajam menjadi tekanan baru bagi Burhanadi.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, lonjakan harga BBM tersebut semakin membebani pengeluaran rumah tangganya.

Sebelum harga Pertamax mengalami penyesuaian, Burhanadi mengaku keluarganya sudah lebih dulu merasakan dampak kenaikan berbagai kebutuhan pokok.

Harga sejumlah bahan pangan di pasar terus merangkak naik dan membuat pengeluaran harian semakin membengkak.

Situasi itu membuat beban ekonomi yang dirasakan keluarganya datang secara berlapis.

Tidak hanya kebutuhan konsumsi sehari-hari yang meningkat, biaya lain yang harus ditanggung juga ikut bertambah.

"Ya sebelum Pertamax naik saja harga bahan-bahan pokok sudah melejit. Istriku sudah sambat (mengeluh) dari kemarin-kemarin itu, apa-apa naik, kebutuhan sehari-hari semakin mahal. Belum lagi token listrik rasanya kok lebih cepat habis sekarang," tuturnya.

Menurut Burhanadi, kondisi tersebut membuat anggaran rumah tangga harus diatur lebih ketat.

Kenaikan harga yang terjadi di berbagai sektor memaksanya untuk lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Baca juga: Harga BBM Naik per 10 Juni, di Solo Pertamax 92 jadi Rp 16.250, Pertamax Green di Klaten Rp 17.000

HARGA PERTAMAX NAIK - Naiknya harga Pertamax memberatkan masyarakat
HARGA PERTAMAX NAIK - Naiknya harga Pertamax memberatkan masyarakat (Dok Pertamina)

Pemerintah Terkesan Menyepelekan

Melemahnya nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian serius bagi Burhanadi.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah menjadi sinyal awal yang mengkhawatirkan, terutama bagi masyarakat dari kalangan pekerja yang harus menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

Ia menilai dampak dari kenaikan harga BBM tidak hanya dirasakan pada sektor transportasi, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Situasi ini dikhawatirkan membuat daya beli masyarakat terus menurun dan kebutuhan sehari-hari semakin sulit dijangkau.

Bahkan, Burhanadi mengaku tingkat keresahan yang dirasakannya saat ini lebih besar dibandingkan ketika Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang berkembang saat ini terasa semakin menekan masyarakat kecil.

"Terus terang resah banget, lebih meresahkan dibanding zaman Covid-19 dulu. Apalagi pemerintah kesannya kayak menyepelekan ya, seolah enggak peduli sama gejolak di masyarakat bawah," cetusnya.

Ia berharap berbagai peringatan yang telah disampaikan para ekonom dapat segera mendapat perhatian dari pemerintah.

Langkah konkret dinilai penting untuk mencegah gejolak harga yang semakin membebani masyarakat.

"Sudah banyak ekonom yang memperingatkan, tolong bisa ditindaklanjuti. Setidaknya bikin harga-harga kebutuhan itu stabil, jangan sampai tidak terjangkau lagi sama masyarakat kecil," tambahnya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan beralih ke Pertalite yang memiliki harga lebih rendah, Burhanadi mengaku belum mempertimbangkan opsi tersebut.

Ia justru melihat adanya potensi masalah baru yang muncul di lapangan.

Menurut perkiraannya, kenaikan harga Pertamax akan mendorong lebih banyak pengendara beralih ke Pertalite.

Akibatnya, antrean di SPBU berpotensi semakin panjang, terutama di sejumlah wilayah di Yogyakarta.

Selain itu, ia juga mengkhawatirkan ketersediaan Pertalite jika lonjakan permintaan terjadi secara signifikan dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.

"Sepertinya enggak (beralih ke Pertalite). Kalau harga Pertamax segini, pasti antrean di Pertalite bakal semakin menggila. Terus, takutnya Pertalite malah jadi langka juga di lapangan," pungkasnya.

(TribunTrends/Ninda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.