Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Pemerintah Provinsi Bengkulu menggelar monitoring dan evaluasi SPMB 2026 di Gedung Pola Merah Putih, Kantor Gubernur Bengkulu, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan ini dihadiri Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, unsur Kepolisian, Kejaksaan, serta Ombudsman RI Perwakilan Bengkulu.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Bengkulu melaporkan pelaksanaan SPMB kepada Gubernur Helmi Hasan.
Helmi Hasan kemudian menyampaikan bahwa Pemprov telah mengeluarkan surat edaran agar pelaksanaan SPMB 2026 berjalan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Ia menegaskan sejak awal pemerintah berkomitmen memperbaiki proses penerimaan murid baru.
Evaluasi dilakukan karena pada pelaksanaan tahun sebelumnya masih terdapat sejumlah persoalan yang bahkan menjadi perhatian hingga tingkat nasional.
“Sejak awal kita sudah mengeluarkan kebijakan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu sebagai bentuk komitmen kuat agar proses penerimaan murid baru berjalan lebih baik dibandingkan tahun lalu,” kata Helmi Hasan dalam rapat Monev tersebut, Rabu (10/6/2026).
Ia menilai secara umum pelaksanaan SPMB 2026 di Bengkulu berjalan lebih baik. Namun, masih terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian, khususnya di SMAN 5 Kota Bengkulu.
“Saya sudah mendengar penjelasan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu dan saya melihat pelaksanaannya jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Hanya saja masih ada satu persoalan yang tersisa di SMAN 5,” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, Helmi Hasan secara langsung mempertanyakan alasan pihak sekolah tidak mengumumkan skor atau nilai hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tersebut.
Helmi menegaskan pentingnya keterbukaan informasi agar masyarakat dapat mengetahui dasar penetapan peserta yang diterima maupun yang tidak lolos seleksi.
“Ada Kepala Sekolah SMAN 5 di sini? Kenapa skornya tidak diumumkan?” tanya Helmi Hasan ke Plt Kepala Sekolah SMAN 5 Kota Bengkulu.
Klarifikasi Plt Kepsek SMAN 5
Menanggapi soal itu,Plt Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Kota Bengkulu, Lusi Rafiska, memberikan klarifikasi terkait tidak ditampilkannya skor SPMB 2026 saat pengumuman hasil seleksi.
Menurut Lusi, keputusan tersebut diambil karena keterbatasan waktu serta proses verifikasi data yang masih berlangsung hingga menjelang batas akhir pengumuman.
"Karena waktu sudah sore dan banyak telepon masuk menanyakan mengapa sekolah belum mengumumkan hasil seleksi, kami mengambil kebijakan untuk terlebih dahulu mengumumkan nama-nama peserta yang diterima," kata Lusi saat ditanya Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan.
Ia menjelaskan, proses penilaian dan penyusunan peringkat dilakukan melalui sistem yang memerlukan pengecekan ulang secara manual.
Sekolah khawatir terjadi kesalahan apabila skor langsung ditampilkan tanpa proses verifikasi yang matang.
"Kami khawatir terjadi kesalahan penampilan data akibat pengambilan data yang kurang tepat. Karena itu, kami mengumumkan hasil penerimaan terlebih dahulu, sementara skor dan peringkat masih diverifikasi kembali," ujarnya.
Lusi menuturkan, sesuai ketentuan, hasil seleksi wajib diumumkan pada hari yang sama. Sementara itu, tim panitia baru menyelesaikan proses menjelang batas waktu pengumuman.
Ia menambahkan, skor peserta sebenarnya telah tersedia dan ditempelkan di lingkungan sekolah setelah dilakukan pengecekan secara manual oleh panitia.
Terkait masa sanggah, SMAN 5 Bengkulu membuka layanan sanggah pada Selasa mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB.
Sebanyak 20 calon murid bersama orang tua datang mengajukan sanggahan dan seluruhnya telah dilayani serta diberikan kesempatan melihat skor masing-masing.
"Dari total sanggahan yang masuk, terdapat 13 sanggahan pada jalur prestasi akademik, lima sanggahan pada jalur prestasi non-akademik, dan dua sanggahan pada jalur afirmasi. Semuanya sudah kami verifikasi langsung," jelasnya.
Lusi mengungkapkan, salah satu kendala dalam proses SPMB tahun ini adalah banyak calon murid yang tidak melakukan verifikasi berkas langsung ke sekolah setelah mendaftar secara daring.
Menurutnya, dari ratusan pendaftar yang mengikuti proses seleksi, hanya sekitar 46 calon murid yang menyerahkan dokumen pendukung ke sekolah.
Akibatnya, sekolah kesulitan melakukan pengecekan keabsahan sejumlah dokumen prestasi yang digunakan peserta saat mendaftar.
"Banyak peserta menganggap proses selesai setelah melakukan validasi di dinas dan pendaftaran secara online. Padahal, sekolah membutuhkan dokumen pendukung untuk memastikan keabsahan piagam atau prestasi yang digunakan dalam seleksi," ungkapnya.
Lusi memastikan seluruh sanggahan yang masuk telah ditindaklanjuti. Setelah masa sanggah berakhir, panitia dan dewan guru juga menggelar rapat untuk memverifikasi ulang seluruh laporan serta mengecek kembali data peserta yang menjadi objek sanggahan.
"Seluruh sanggahan sudah kami verifikasi dan kami bahas kembali dalam rapat panitia untuk memastikan proses seleksi berjalan sesuai ketentuan," tutupnya.