SURYA.co.id, Surabaya - Di lantai 23 BRI Tower, Jalan Basuki Rahmat, angin Kota Pahlawan seolah membawa pesan dari masa lalu sekaligus harapan untuk masa depan.
Pada Rabu (10/6/2026), suasana di ruangan tersebut tidak seperti biasanya. Di antara deretan jas rapi dan diskusi perbankan yang serius, tampak 19 artefak meteorit yang memancarkan aura magis.
Itulah "Mahkota dari Langit", sebuah mahakarya yang menjadi saksi bisu peringatan 118 tahun Lelang di Indonesia.
Mahakarya itu dipamerkan dalam acara bertajuk "Gebyar Lelang Indonesia: Auction Energy for Recovery".
Ini merupakan acara sinergi antara Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Jawa Timur bersama BRI Regional Office 12 Surabaya dan Regional Office 13 Malang.
Arie Wibowo, CEO BRI Regional Office 13 Malang membuka sambutan dengan seloroh hangat tentang "honor panitia", membawa audiens memahami mengapa Jawa Timur begitu spesial.
Sejak 2009, besarnya potensi Jawa Timur membuat BRI harus membelah wilayah kerjanya menjadi dua kantor regional.
"Jawa Timur ini luar biasa. Kita adalah gudang pangan Indonesia," ujar Arie.
Dengan kekuatan 50 kantor cabang dan lebih dari 15.000 personel, Arie menegaskan bahwa tema Energy for Recovery adalah ruh untuk menggerakkan perubahan di Jawa Timur.
"Energi adalah kekuatan yang menggerakkan. Melalui kolaborasi ini, lelang bukan lagi sekadar ajang jual aset, tapi instrumen untuk menciptakan nilai ekonomi baru dan transparansi bagi masyarakat," tambahnya.
Di sudut ruangan, perhatian tamu undangan tersedot pada benda-benda angkasa yang dipamerkan. Ada mahkota, meja, hingga kursi (singgasana) yang terbuat dari meteorit.
Suyanto, pemilik koleksi sekaligus CEO Jember Fashion Carnaval (JFC), menceritakan kisah di balik benda-benda tersebut dengan nada misterius.
"Koleksi ini saya simpan selama sepuluh tahun. Ditemukan di pulau-pulau kecil sekitar Bawean dan Madura," ungkap Suyanto kepada SURYA.co.id.
Ia mengungkapkan sebuah fakta yang sulit dinalar: berat mahkota-mahkota tersebut berkisar antara 3 kg hingga 30 kg.
"Secara logika, tidak mungkin manusia memakai mahkota seberat 30 kg di kepala. Ini memicu pertanyaan besar: apakah ini untuk ritual, hiasan, atau ada peradaban yang jauh lebih tua dari yang kita tahu? Bahkan ada simbol-simbol yang menyerupai simbol Atlantis," tuturnya.
Di sisi lain, ornamen-ornamen yang dipamerkan juga sangat rapi. Khas peradaban modern di Jawa atau Nusantara.
Menurut Suyanto, koleksi ini disebut berasal dari masa sebelum Kerajaan ada, sebuah fragmen sejarah yang belum terjamah penelitian museum pemerintah maupun keraton.
Walau demikian, belum ada penelitian mumpuni terkait klaim tersebut. Suyanto juga membuka ruang agar barang-barang yang diperkirakan berusia ribuan tahun itu diteliti.
Dan yang pasti, Pemilihan jumlah 19 artefak pun tidak sembarang. Angka ini merupakan simbolisme dari 11+8, menandai usia 118 tahun perjalanan lelang di tanah air.
Bagi Arik Hariyono, Kepala Kanwil DJKN Jawa Timur, acara ini adalah titik balik literasi lelang. Sebagai punggawa yang telah 35 tahun mengabdi sebagai ASN, Arik melihat lelang dengan kacamata yang lebih dalam.
"Dalam perbankan, lelang mungkin dianggap last resort atau jalan terakhir. Namun, dalam sistem keuangan negara, lelang adalah solusi pemulihan (recovery)."
"Kami ingin masyarakat paham bahwa melalui lelang yang modern, transparan, dan kredibel, ada nilai ekonomi yang kembali ke negara melalui PNBP," tegas Arik.
Sinergi ini juga diperkuat dengan sesi Talk Show edukatif mengenai Proses Lelang dan KPR Solusi, memberikan jembatan bagi nasabah prioritas untuk memiliki aset terbaik dengan skema pembiayaan yang aman.
Hari itu, di ketinggian lantai 23, sebuah komitmen baru lahir. Dengan jargon "Energi Baru, Lelang Tumbuh, Pemulihan Dimulai", DJKN dan BRI tidak hanya melelang aset, tetapi juga sedang menawarkan optimisme bagi ekonomi Indonesia dan dunia. Sebuah mahakarya dari langit, untuk bumi pertiwi.