Ironi SPMB Kabupaten Semarang: Sekolah Tengah Kota Tolak Siswa, Sekolah Pinggiran Tak Penuhi Kuota
rika irawati June 10, 2026 07:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Fenomena kekurangan murid terjadi di sejumlah SMP negeri di wilayah pinggiran Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, banyak sekolah tidak mampu memenuhi kuota rombongan belajar (rombel).

Kondisi ini disebut sebagai dampak menurunnya jumlah lulusan SD. 

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang Joko Sriyono mengatakan, hasil pemantauan yang dilakukannya menunjukkan, sejumlah SMP yang mengalami krisis murid di antaranya SMP Negeri 3 Pringapus, SMP Negeri 1 Tuntang, SMP Negeri 3 Tuntang.

Kemudian, SMP Negeri 3 Bringin, SMP Negeri 2 Bringin, SMP Negeri 3 Pabelan, SMP Negeri 3 Bancak, SMP Negeri 2 Suruh.

Ada juga SMP Negeri 2 Getasan, SMP Negeri 3 Getasan, SMP Negeri 3 Tengaran, SMP Negeri 4 Tengaran, SMP Negeri 1 Kaliwungu, dan SMP Negeri 2 Kaliwungu. 

"Di daerah pinggiran, masih banyak yang tidak sesuai kuota yang dibutuhkan."

"Ada sekolah yang kuotanya tiga rombel, tetapi siswa yang diterima tidak sampai memenuhi tiga rombel, sehingga nanti ada kelas yang jumlah siswanya kecil," terangnya, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Siswa Nekat Konvoi dan Pakai Knalpot Brong di Kabupaten Semarang Bakal Ditindak Tegas

Menurut Joko, kondisi tersebut dipicu menurunnya jumlah lulusan SD yang tersedia.

Bisa jadi, program keluarga berencana yang digaungkan pemerintah beberapa tahun lalu berhasil sehingga jumlah lulusan SD kini kian berkurang.

Ia menilai, fenomena ini perlu menjadi evaluasi bagi dunia pendidikan di Kabupaten Semarang.

Sebab, tren penurunan jumlah siswa tidak hanya terjadi saat ini, tetapi berpotensi berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.

"Kalau melihat jumlah siswa yang masuk SD sekarang juga menurun. Misalnya, di Kecamatan Suruh, hanya sekitar 350-an siswa."

"Lima tahun ke depan, saat mereka lulus, SMP bisa semakin kesulitan mendapatkan murid karena jumlah lulusannya memang berkurang," jelasnya. 

Masalah di Persebaran

Di sisi lain, lanjut Joko, cukup banyak sekolah di wilayah perkotaan menolak siswa pada SMPB 2026. 

Menurut Joko, fenomena tersebut menunjukkan persoalan dalam penerimaan siswa baru tidak hanya soal persaingan masuk sekolah negeri favorit, tetapi juga berkaitan dengan persebaran siswa yang tidak merata.

Ia mencontohkan, SMP negeri di kawasan Ungaran, seperti SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 3, dan SMP Negeri 4 Ungaran masih menjadi tujuan utama para lulusan SD sehingga kuotanya cepat terpenuhi. 

Kondisi serupa juga ditemukan di Kecamatan Sumowono.

Berdasarkan hasil pemantauan Dewan Pendidikan, SMP Negeri 1 Sumowono menolak sejumlah calon siswa.

Baca juga: Seorang Siswa SMP di Semarang Viral akibat Dugaan Perundungan, Sejumlah Anggota Badan Alami Memar

Namun, ketika dilakukan penelusuran ke sekolah-sekolah lain di wilayah tersebut, jumlah pendaftar yang masuk tidak menunjukkan peningkatan signifikan.

"SMP Negeri 1 Sumowono menolak sekitar 80 siswa. Tapi, ketika kami cek ke sekolah lain, termasuk sekolah swasta, ternyata tidak banyak tambahan pendaftar."

"Ini yang perlu dicermati, sebenarnya mereka melanjutkan ke mana," ujarnya.

Joko menyebut, sebagian keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih, memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah berasrama atau pondok pesantren di luar wilayah setempat.

Menurut dia, perlu ada evaluasi terhadap pelaksanaan SPMB, terutama terkait pemerataan siswa melalui jalur domisili.

Evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penataan daya tampung sekolah agar ketimpangan antara sekolah yang kelebihan peminat dan sekolah yang kekurangan siswa tidak semakin lebar pada tahun-tahun mendatang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.