Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Jepang kehilangan salah satu tokoh politik paling berpengaruh dalam sejarah politik modernnya. Yōhei Kōno, mantan Ketua Majelis Rendah Jepang (DPR Jepang), mantan Menteri Luar Negeri, dan mantan Presiden Partai Demokrat Liberal (LDP), meninggal dunia pada 8 Juni 2026 dalam usia 89 tahun.
Kabar duka tersebut terungkap melalui keterangan sejumlah sumber yang dekat dengan keluarga dan kalangan politik Jepang pada Rabu (10/6/2026).
Kōno lahir pada 15 Januari 1937 di Kota Hiratsuka, Prefektur Kanagawa. Ia merupakan putra dari Ichirō Kōno, mantan Menteri Pertanian Jepang dan salah satu tokoh politik berpengaruh pada era pascaperang.
Mengikuti jejak sang ayah, Kōno pertama kali terpilih sebagai anggota Majelis Rendah Jepang pada pemilu tahun 1967.
Pada 1976, ia mengejutkan dunia politik Jepang dengan keluar dari Partai Demokrat Liberal (LDP) karena mengkritik budaya politik uang yang berkembang saat itu. Bersama sejumlah politisi muda, ia kemudian mendirikan Partai New Liberal Club (Shin Jiyū Club).
Namun beberapa tahun kemudian, Kōno kembali bergabung dengan LDP dan terus menapaki karier politik hingga menduduki berbagai jabatan penting.
Salah satu warisan politik yang paling dikenal adalah "Pernyataan Kōno" (Kōno Statement) yang diumumkannya pada tahun 1993 saat menjabat Kepala Sekretaris Kabinet dalam pemerintahan Perdana Menteri Kiichi Miyazawa.
Baca juga: Masalah Kebisingan Picu Penusukan Sesama WNI di Yamanashi Jepang
Dalam pernyataan tersebut, pemerintah Jepang mengakui keterlibatan militer Jepang dalam sistem "comfort women" atau perempuan penghibur selama Perang Dunia II serta menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf. Pernyataan itu hingga kini tetap menjadi salah satu dokumen paling penting dalam hubungan Jepang dengan negara-negara Asia, terutama Korea Selatan.
Setelah LDP kehilangan kekuasaan pada 1993, Kōno terpilih menjadi Presiden LDP dan memimpin upaya reformasi serta konsolidasi partai hingga kembali menjadi kekuatan utama politik Jepang.
Sepanjang kariernya, ia juga pernah menjabat Menteri Luar Negeri, Wakil Perdana Menteri, dan Ketua Majelis Rendah Jepang periode 2003–2009.
Di dalam negeri Jepang, Kōno dikenal sebagai politikus moderat yang sering menyerukan dialog, rekonsiliasi, dan hubungan baik dengan negara-negara tetangga di Asia. Sikapnya yang moderat membuatnya dihormati banyak kalangan, meskipun sering menuai kritik dari kelompok konservatif.
Di luar Jepang, terutama di Korea Selatan dan China, Kōno dikenal sebagai salah satu tokoh Jepang yang berupaya memperbaiki hubungan regional melalui pendekatan yang lebih terbuka terhadap sejarah masa perang.
Yōhei Kōno juga dikenal sebagai ayah dari Tarō Kōno, politikus senior Jepang yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, Menteri Reformasi Administrasi dan beberapa kali disebut sebagai kandidat kuat Perdana Menteri Jepang.
Yohei bersekolah di Sekolah Menengah Waseda Gakuin dan kemudian masuk Universitas Waseda. Di universitas, ia menjadi anggota klub trek dan balap, mendukung tim sebagai manajer. Pada tahun 1958, ia mengalami memenangkan kejuaraan keseluruhan di Kejuaraan Antar Perguruan Tinggi Jepang, dan pada tahun 1959, ia berpartisipasi sebagai manajer delegasi Jepang di Universiade di Turin.
Setelah bekerja di Marubeni Iida (sekarang perusahaan Marubeni), ia mencalonkan diri untuk Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 1967 sebagai kandidat dari Partai Demokrat Liberal, menggantikan ayahnya Ichiro dan terpilih.
Setelah itu, ia membangun karirnya sebagai anggota Diet Nasional, memegang posisi seperti Kepala Sekretaris Kabinet, Presiden Partai Demokrat Liberal, dan Menteri Luar Negeri. Dia juga menjabat sebagai Ketua Parlemen Jepang.
Di lintasan dan lapangan, ia menjadi direktur Asosiasi Federasi Atletik Jepang pada tahun 1983, dan menjabat sebagai presiden Federasi Mahasiswa Jepang dari tahun 1989.
Dari tahun 1999, setelah pengunduran diri presiden ke-5, Hanji Aoki, yang menggantikan Kenzo, ia menjadi presiden ke-6 Asosiasi Federasi Atletik Jepang (posisi yang dipegangnya hingga 2013).
Baca juga: Tiga Wanita Ditemukan Tewas di Apartemen Sapporo Jepang, Polisi Selidiki Dugaan Bunuh Diri Bersama
Selama masa jabatannya di posisi kunci, ia bekerja keras untuk menjadi tuan rumah acara internasional seperti Universiade Fukuoka dan Kejuaraan Dunia Osaka.
Ia menerima Medali Perak dari Federasi Atletik Internasional (IAAF, kini World Athletics) sebagai bentuk penghargaan.
Selain itu, ia juga lama menjabat sebagai Ketua Waseda Athletic Club, yaitu organisasi alumni (OB/OG) klub atletik kompetitif Universitas Waseda.
Kepergian Yōhei Kōno menandai berakhirnya era salah satu tokoh sentral politik Jepang pascaperang yang selama puluhan tahun memainkan peran penting dalam pemerintahan, diplomasi, dan perkembangan demokrasi Jepang.
Tokoh ini dikenang sebagai salah satu politikus Jepang yang paling berpengaruh dalam hubungan Jepang dengan Asia serta dalam upaya reformasi politik di dalam negeri Jepang.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com