Cerita Adriansyah Pelari yang Tiga Kali Tamatkan WMM Jelang Tampil di Herbalife Run 2026
Hasiolan Eko P Gultom June 10, 2026 07:38 PM

Cerita Adriansyah Pelari yang Tiga Kali Tamatkan WMM Jelang Tampil di Herbalife Run 2026

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ajang Herbalife Run 2026 memiliki tempat tersendiri di hati Adriansyah Chaniago atau yang akrab disapa Om Aat.

Pelari yang telah menuntaskan tiga kali World Marathon Majors (WMM) itu memastikan diri kembali ambil bagian dalam Herbalife Run 2026 yang akan digelar pada 27 September mendatang di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.

Bahkan, Om Aat rela melepas kesempatan tampil di Berlin Marathon demi kembali merasakan atmosfer event yang sudah diikutinya sejak masih digelar di kawasan Ancol.

“Saya akan ikut kategori 24 kilometer. Awalnya jadwalnya bentrok dengan Berlin Marathon, tetapi saya memutuskan ikut Herbalife Run,” ujar Om Aat  kepada Tribunnews usai konferensi pers Herbalife Run 2026 di Kawasan Kemang, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Bagi Om Aat, keikutsertaan tahun ini menjadi yang keempat kalinya di Herbalife Run.

Ia mengaku masih mengingat momen saat pertama kali mengikuti ajang tersebut lebih dari satu dekade lalu.

“Saya pernah ikut saat masih di Ancol, lalu beberapa kali di Serpong. Yang paling saya ingat adalah jersey pertamanya. Warnanya biru-hijau dan sangat nyaman dipakai. Sampai sekarang saya masih mengingatnya,” kenangannya.

Siapa sangka, pelari yang kini sudah menuntaskan World Marathon Majors sebanyak tiga kali itu justru memulai olahraga lari bukan karena hobi.

Pada 2013, Om Aat sempat mengalami gangguan serius pada paru-paru hingga harus menjalani perawatan intensif dan dirawat di ruang isolasi rumah sakit.

Setelah kondisinya membaik, dokter menyarankan dirinya rutin berolahraga untuk menjaga kesehatan sistem pernapasan.

Saran tersebut kemudian mengubah jalan hidupnya.

Om Aat mulai berlari pada akhir 2014. Awalnya ia hanya mampu menempuh jarak pendek seperti dua hingga tiga kilometer. Saat itu, berlari lima kilometer saja terasa sulit untuk dibayangkan.

Namun latihan yang dilakukan secara rutin membuat kemampuannya terus meningkat. Dalam waktu relatif singkat, ia mampu menyelesaikan lomba 10 kilometer sebelum beralih ke half marathon dan kemudian full marathon.

Seiring berjalannya waktu, Om Aat mulai memasang target yang lebih besar.

Salah satunya adalah mengikuti World Marathon Majors, seri maraton paling bergengsi di dunia yang terdiri dari Boston, Chicago, Tokyo, Berlin, London, dan New York City Marathon.

Chicago Marathon menjadi ajang WMM pertama yang berhasil diikutinya setelah lolos melalui sistem undian.

Sejak saat itu, target demi target terus ia ciptakan untuk menjaga motivasi berlatih.

“Saya membuat target setiap tahun supaya tetap terpacu latihan. Kalau tidak punya target, biasanya motivasi mudah hilang di tengah jalan," ujarnya.

Kini Om Aat telah menuntaskan tiga kali World Marathon Majors dan hanya membutuhkan dua seri lagi untuk mencatatkan empat kali finish World Marathon Majors.

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat mengikuti Boston Marathon.

Ketika itu ia harus berlari dalam cuaca ekstrem, hujan sepanjang lintasan dengan suhu di bawah nol derajat Celsius.

Meski berhasil mencapai garis finis, ia sempat mendapatkan penanganan medis setelah lomba usai.

Perjalanan panjang tersebut membuat Om Aat percaya bahwa konsistensi adalah kunci utama bagi setiap pelari.

Menurutnya, latihan empat hingga lima kali dalam sepekan sudah cukup untuk menjaga perkembangan kemampuan, asalkan dilakukan secara disiplin dan terencana.

Melalui kisahnya, Om Aat berharap semakin banyak masyarakat yang berani memulai hidup sehat melalui olahraga.

“Dengan memiliki target, kita akan terpacu untuk terus berlatih. Jangan hanya berpikir untuk satu atau dua tahun ke depan, tetapi bagaimana bisa tetap aktif dan sehat hingga puluhan tahun mendatang,” pungkasnya.

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.