Saat Pramono Isyaratkan Naikkan Tarif Transjabodetabek, Warga Jakarta Kini Terbebani Kenaikan BBM
Jaisy Rahman Tohir June 10, 2026 10:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Ongkos mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya semakin berat.

Saat Gubernur Jakarta Pramono Anung mengisyaratkan akan menaikkan tarif Transjabodetabek, pemerintah pusat menaikkan harga BBM nonsubsidi, Pertamax dan Pertamax Green.

Seperti diketahui, harga Pertamax (ron 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per lite oer hari ini, Rabu (10/6/2026).

Selain itu, Pertamax Green 95 (RON 95) yang semula harganya Rp. 12.900/liter, naik menjadi Rp. 17.000/liter.

Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek

Gubernur Pramono mengatakan, Pemprov DKI saat ini tengah mengkaji sejumlah rute Transjabodetabek yang dinilai membutuhkan penyesuaian tarif karena besaran subsidi yang ditanggung pemerintah masih cukup tinggi.

Hal ini disampaikan Pramono menanggapi penyesuaian tarif Transjabodetabek rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta yang akan segera diumumkan.

“Untuk tarif Transjabodetabek Blok M segera akan kamu putuskan,” ucapnya saat ditemui di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Jumat (5/6/2026).

Pramono menjelaskan, pembahasan tarif tidak hanya menyasar rute menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

Pemprov DKI juga akan mengevaluasi sejumlah koridor Transjabodetabek lainnya yang saat ini beroperasi dengan skema subsidi besar dari pemerintah.

“Pada bulan-bulan ini kami akan memutuskan beberapa rute, bukan hanya Blok M ke Soekarno-Hatta, tetapi juga Transjabodetabek lainnya yang perlu penyesuaian karena memang subsidinya terlalu besar,” ujarnya.

Meski demikian, Pramono belum mengungkap rute mana saja yang akan mengalami penyesuaian tarif layanan.

Sebagai informasi tambahan, seluruh layanan Transjabodetabek yang beroperasi saat ini masih mematok tarif sebesar Rp3.500.

Tarif ini sama seperti layanan Transjakarta yang belum berubah sejak tahun 2005 silam.

Dengan adanya penyesuaian tarif ini, maka layanan Transjabodetabek di sejumlah rute akan mengalami kenaikkan tarif.

Terbebani Kenaikan BBM

Sementara itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku mulai Rabu (10/6/2026) dini hari membuat sejumlah pengendara sepeda motor di Jakarta Utara terkejut.

Para pengendara yang mengisi BBM di SPBU Plumpang, di Jalan Plumpang Semper Raya, Koja, Jakarta Utara mengaku sebelumnya tidak mengetahui adanya rencana kenaikan harga tersebut.

Akibatnya, banyak pengguna Pertamax baru menyadari perubahan harga saat hendak mengisi bahan bakar pada pagi hari.

Pantauan di lokasi pada Rabu siang, antrean di jalur pengisian Pertamax tidak terlalu padat dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Sebaliknya, antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite terlihat lebih panjang.

Salah seorang pengendara sepeda motor, Agus Saman mengaku kaget saat mengetahui harga Pertamax melonjak dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.

Menurut Agus, kenaikan hampir Rp 4.000 per liter itu cukup memberatkan, terutama bagi pengguna kendaraan roda dua yang setiap hari bergantung pada BBM untuk aktivitas bekerja.

Ia mengatakan, biasanya uang Rp 35 ribu sudah cukup untuk mengisi tangki motornya hingga penuh.

Namun setelah harga naik, jumlah BBM yang didapat dengan nominal yang sama jauh berkurang.

"Kalau untuk harga sih pastinya keberatan lah," ujarnya.

Agus berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan kenaikan harga Pertamax tersebut.

Menurut dia, lonjakan harga yang mencapai hampir Rp 4.000 per liter tergolong sangat tinggi.

"Ya turunin hargalah harga BBM-nya. Tinggi lah kalau naiknya sampai Rp 4.000," katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan pengendara lainnya, Fadli At Tamiri.

Fadli mengaku terkejut mengetahui harga Pertamax naik drastis saat hendak mengisi BBM pada dini hari.

Ia menilai kenaikan tersebut semakin membebani masyarakat yang saat ini masih menghadapi tekanan ekonomi.

"Tinggi banget menurut saya. Memberatkan masyarakat, masyarakat umum," ucap Fadli.

Meski demikian, Fadli mengaku tetap akan menggunakan Pertamax untuk kendaraannya.

Menurut dia, penggunaan BBM dengan oktan yang lebih rendah dikhawatirkan dapat memengaruhi performa mesin motor yang digunakannya setiap hari.

"Tetap Pertamax, soalnya kalau Pertalite takut rusak motornya," kata dia.

Para pengendara berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali harga Pertamax agar tidak semakin membebani masyarakat, khususnya pengguna sepeda motor yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.