Ekonom ULM: Kenaikan Pertamax Tak Terlalu Pengaruhi Inflasi, Tapi Bisa Picu Efek Domino
Ratino Taufik June 10, 2026 10:49 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dinilai tidak akan memberikan tekanan besar terhadap inflasi secara langsung. Namun, dampak tidak langsung yang muncul justru perlu menjadi perhatian.

Ekonom dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof Handry Imansyah mengatakan, secara teknis pengaruh kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi nasional relatif terbatas. Karena penggunaannya tidak mendominasi konsumsi BBM masyarakat.

“Jika pangsa Pertamax hanya sekitar 10 hingga 15 persen dari total konsumsi BBM, maka shock efektif terhadap harga BBM agregat diperkirakan hanya sekitar 3,2 sampai 4,8 persen. Dengan demikian, tambahan tekanan inflasi langsung secara teknis tidak terlalu besar,” katanya, Rabu (10/6/2026).

Menurut Handry, perhatian justru perlu diarahkan pada dampak lanjutan yang berpotensi muncul setelah kenaikan harga tersebut.

Salah satunya adalah kemungkinan terjadinya pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Selisih harga yang semakin lebar dapat mendorong sebagian pengguna BBM nonsubsidi beralih ke BBM bersubsidi untuk menghemat pengeluaran.

Baca juga: Cegah Aksi Balap Liar, Satlantas Polresta Banjarmasin Optimalkan Patroli Presisi

“Kenaikan harga Pertamax dapat mendorong sebagian konsumen beralih ke Pertalite. Pergeseran konsumsi ini berpotensi meningkatkan permintaan Pertalite dan menambah beban subsidi atau kompensasi energi,” katanya.

Dia menilai peningkatan permintaan Pertalite berisiko menimbulkan tekanan terhadap pasokan BBM bersubsidi di lapangan, apabila tidak diantisipasi dengan baik.

“Jika permintaan Pertalite meningkat tajam, risiko antrean, kelangkaan lokal, atau pembatasan konsumsi dapat muncul dan memperbesar keresahan masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, Handry menyinggung adanya efek psikologis yang sering kali lebih besar dibanding dampak teknis kenaikan harga BBM itu sendiri.

Menurutnya, pelaku usaha dapat menjadikan kenaikan harga BBM sebagai dasar untuk menyesuaikan harga barang dan jasa meskipun kenaikan biaya produksi yang mereka alami tidak terlalu signifikan.

“Pelaku usaha bisa menggunakan kenaikan harga BBM sebagai alasan menaikkan harga barang dan jasa, walaupun struktur biayanya tidak terlalu terpengaruh secara langsung,” ujarnya.

Dia menjelaskan kondisi tersebut berpotensi memicu inflasi yang lebih luas karena dipengaruhi ekspektasi pasar dan perilaku antisipatif masyarakat.

“Inilah yang paling dikhawatirkan. Kenaikan yang secara perhitungan sebenarnya kecil bisa berubah menjadi tekanan inflasi yang lebih luas melalui ekspektasi, perilaku antisipatif, dan penyesuaian harga di tingkat pasar,” katanya. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.