Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orangtua merasa anak mereka aman dari rokok karena masih duduk di bangku sekolah dasar.
Padahal kenyataannya, paparan rokok di lingkungan sekitar membuat rasa penasaran anak muncul jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
Baca juga: Danpuspom Ungkap Keterlibatan Oknum TNI dalam Peredaran Rokok Ilegal: Potensi Sanksi Pemecatan
Mulai dari melihat ayah merokok di rumah, kakak yang menggunakan rokok elektrik, hingga iklan yang mudah ditemui di sekitar lingkungan sehari-hari.
Kondisi ini membuat anak-anak mulai mengenal rokok sejak usia sangat muda.
Afiq Putra Pradana dari Yayasan Kepedulian untuk Anak (Yayasan KAKAK) mengatakan fenomena tersebut menjadi perhatian serius karena anak memiliki kecenderungan kuat untuk meniru apa yang mereka lihat.
"Karena anak itu sebenarnya punya prinsip children see, children do. Bagaimana mereka melihat, mereka akan melakukan," katanya dalam diskusi Momspiration bertajuk Lampu Kuning! Bahaya Adiksi Rokok dan Gula bagi Mental & Fisik Buah Hati di kanal YouTube Tribun Health, Kamis (11/6/2026).
Menurut Afiq, angka anak yang pernah mencoba rokok sudah berada pada level yang mengkhawatirkan.
"Di data kita itu, 59 persen anak mereka mencoba rokok di usia di bawah 12 tahun," ujarnya.
Artinya, banyak anak yang bahkan belum memasuki masa remaja sudah mengenal dan mencoba rokok.
Dalam berbagai kegiatan edukasi di sekolah, Afiq mengaku sering mendengar cerita langsung dari siswa.
Beberapa anak mengaku tertarik mencoba rokok hanya karena melihat puntung rokok yang ditemukan di jalan.
"Aku kemarin pulang sekolah, Mas, terus aku namain puntung, aku kepo. Aku pengen tahu rasa puntungnya itu kayak gimana," kata Afiq menirukan pengakuan seorang anak.
Masalahnya, paparan rokok tidak hanya berasal dari keluarga.
Anak-anak juga melihat iklan rokok berukuran besar di sekitar lingkungan mereka.
Belum lagi berbagai promosi yang dibuat menarik dan mudah dijangkau.
"Nggak cuma di toko saja, tapi kayak iklan yang gede, yang cukup masif di sekitar sekolah," katanya.
Fenomena ini semakin diperkuat dengan hadirnya berbagai varian rokok elektrik yang dikemas menggunakan rasa-rasa menarik.
"Bahkan kalau di rokok elektrik itu ada yang rasa taipi, rasa es, rasa apa. Itu kan dibuat untuk menarik mereka, agar mereka kepo dengan itu," lanjutnya.
Jika dulu rokok identik dengan laki-laki, kini situasinya berubah.
Afiq mengatakan anak perempuan juga mulai menjadi sasaran.
Baca juga: Inara Rusli Keluhkan Anaknya Terpapar Asap Rokok di Rumah Virgoun, Febby Carol: Ada Smoking Room
"Bahwa rokok itu laki-laki. Sekarang tidak hanya laki-laki, bahkan anak perempuan pun juga sekarang banyak yang mereka merokok rokok elektrik," katanya.
Tak sedikit yang menganggap penggunaan rokok elektrik sebagai bagian dari gaya hidup.
"Bahkan mereka ketika menggunakan kalung rokok elektrik, mereka merasa, wah aku keren ya. Lifestyle-nya," ujarnya.
Padahal menurutnya kondisi tersebut merupakan bentuk normalisasi perilaku yang sebenarnya berbahaya.
Afiq mengingatkan bahwa anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Karena itu, paparan rokok pada anak tidak boleh dianggap sepele.
"Anak ini sebenarnya memiliki hak. Salah satunya itu hak tumbuh dan berkembang," katanya.
Ketika kecanduan rokok mulai muncul sejak usia dini, risiko dampaknya bisa berlangsung hingga dewasa.
Karena itu, perlindungan anak dari paparan rokok tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar.