TRIBUNNEWS.COM - Kondisi di Timur Tengah kembali membara setelah Amerika Serikat (AS) melakukan serangan di wilayah Iran.
Serangan dari Washington tersebut dibalas oleh Iran dengan Teheran menghujani pangkalan militer AS di Yordania dan sejumlah negara Teluk menggunakan rentetan rudal.
Kepastian mengenai serangan udara ini dikonfirmasi langsung oleh otoritas Washington.
Pihak AS berdalih operasional militer tersebut terpaksa dilakukan demi melumpuhkan fasilitas militer Iran, setelah mengendus adanya ancaman fatal yang mengincar aset-aset penting milik AS di kawasan tersebut.
"AS kembali menyerang target-target di dalam wilayah Iran seiring dengan meningkatnya ketegangan," demikian laporan dari AP News.
Hanya berselang beberapa saat setelah bom AS mengguncang wilayahnya, Teheran langsung mengambil tindakan balasan yang ekstrem.
Pasukan elite Iran meluncurkan serangan rudal secara masif yang diarahkan ke fasilitas militer dan perlindungan milik AS di Yordania, serta beberapa titik strategis di negara-negara Teluk.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa aksi saling serang ini merupakan hak sah mereka dalam mempertahankan kedaulatan negara dari agresi asing.
Sebelumnya, Trump mengatakan AS akan terus melanjutkan serangannya di wilayah Iran.
"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras," tegas Trump, Rabu (10/6/2026), dikutip dari POLITICO.
Baca juga: Iran-AS Perang Narasi: Saling Bantah soal Penutupan Selat Hormuz dan Trump yang Hubungi Pejabat Iran
Komentar Trump itu muncul hanya beberapa jam setelah ia mengancam Iran akan "menanggung akibatnya".
Ancaman tersebut ditujukan kepada Iran karena menolak menerima kesepakatan.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa militer Iran adalah "kekacauan total" dan bahwa sebagian besar darinya "bahkan sudah tidak ada lagi".
"Mereka telah dikalahkan sepenuhnya," tulis Trump melalui Truth Social.
"Iran hanya banyak bicara dan tidak bertindak. Si Pengganggu Timur Tengah telah MATI!!! Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayar harganya!!!" lanjutnya.
Trump tidak memberikan detail tambahan dalam unggahannya, tetapi dia mengatakan kepada Fox News bahwa dia "hampir" memerintahkan serangan baru terhadap pembangkit listrik dan jembatan Iran.
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Namun seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan bahwa "pembicaraan masih berlanjut" dan Presiden "akan terus mengerahkan tekanan maksimal untuk mencapai kesepakatan".
"Mereka harus percaya setiap kata yang dia ucapkan," ucap pejabat tersebut.
"Mereka tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kesepakatan," lanjutnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump dan Wakil Presiden JD Vance sama-sama bersikeras bahwa kesepakatan perdamaian sudah dekat.
Baca juga: AS Lanjutkan Serangan ke Iran, Menhan Pete Hegseth: Kita Akan Bernegosiasi dengan Bom
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangan balasan besar-besaran.
Teheran mengeklaim telah menggempur dan menghancurkan sedikitnya 18 target vital milik militer AS di kawasan tersebut.
Langkah agresif ini diambil Iran sebagai respons langsung atas gelombang serangan udara bertubi-tubi yang sebelumnya dilancarkan oleh armada tempur Washington ke wilayah kedaulatan Iran.
IRGC mengerahkan kawanan pesawat drone kamikaze untuk menembus pertahanan udara pangkalan tersebut.
"Dalam gelombang serangan drone militer ini, instalasi radar penting serta antena komunikasi yang menopang sistem pertahanan rudal Patriot milik Armada Kelima AS berhasil dihancurkan," tulis laporan resmi IRGC yang dikutip media setempat.
Ketegangan geopolitik antara dua kekuatan ini sebetulnya telah memuncak sejak awal pekan.
Trump secara terbuka memberikan lampu hijau kepada pasukannya untuk melanjutkan operasi ofensif ke Iran.
Perintah tempur Trump tersebut dipicu oleh insiden jatuhnya sebuah helikopter militer Angkatan Darat AS.
Washington menuduh penembakan jatuh helikopter tersebut didalangi secara langsung oleh militer Iran.
Tak butuh waktu lama bagi Iran untuk membalas gertakan Trump.
Selain menggempur pangkalan militer di Bahrain, angkatan bersenjata Iran juga dilaporkan menghujani kapal-kapal perang AS yang tengah berpatroli di dekat Selat Hormuz dengan menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone.
(Tribunnews.com/Whiesa)