Jaga Kebutuhan Energi Masyarakat, Pertamina Salurkan 54.263 Gas Elpiji 3 Kg di Kuranji Padang
Rezi Azwar June 11, 2026 01:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Menanggapi keluhan masyarakat, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) terus mengoptimalkan penyaluran serta menjaga ketersediaan elpiji 3 Kg di Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Langkah ini diambil dengan tujuan untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi distribusi dan pemantauan penyaluran secara berkelanjutan.

Pada periode 1 hingga 10 Juni 2026, penyaluran elpiji 3 Kg di Kecamatan Kuranji telah mencapai 54.263 tabung untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat.

"Berdasarkan hasil pemantauan bersama agen dan pangkalan resmi, ketersediaan stok elpiji 3 Kg di wilayah Kecamatan Kuranji saat ini berada dalam kondisi yang relatif aman dan penyaluran kepada masyarakat terus berjalan," kata Fahrougi, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: Pertamax Rp17.000 per Liter di Sumbar, Ekonom Unand Sebut Travel dan Wisata Paling Terdampak

Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan elpiji secara bijak sesuai kebutuhan serta melakukan pembelian di pangkalan resmi.

Hal ini bertujuan agar distribusi energi bersubsidi dapat tepat sasaran dan dinikmati oleh masyarakat yang berhak.

Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan agen dan pangkalan elpiji agar penyaluran dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku serta tepat sasaran kepada masyarakat yang berhak menerima.

"Selain itu, Pertamina juga menyiapkan produk elpiji nonsubsidi Bright Gas sebagai alternatif energi bagi masyarakat sesuai kebutuhan," sebutnya.

Fahrougi mengimbau masyarakat membeli elpiji 3 Kg di pangkalan resmi agar memperoleh harga sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

Untuk perhitungan Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 kg di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) secara resmi mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) Sumbar Nomor 95 Tahun 2014.

Baca juga: Agenda Wako Padang 11 Juni 2026: Teken Kerja Sama Ombudsman RI hingga MoU Investasi Padang Sarai

Berdasarkan aturan dasar tersebut, HET di tingkat pangkalan ditetapkan sebesar Rp17.000 per tabung," ujarnya.

Dampak kelangkaan ini, sejumlah masyarakat mengeluh dan bahkan terpaksa menggunakan kompor minyak tanah sebagai solusi sementara.

Salah satu masyarakat yang ditemui TribunPadang.com di kawasan Pasar Pagi Lubuk Lintah bernama Kamaruli mengatakan bahwa ia sudah mencari ke beberapa kedai hingga agen untuk mendapatkan gas subsidi tersebut.

Akan tetapi, jawaban yang diterima dari pedagang selalu sama, yakni stok gas elpiji 3 kilogram kehabisan stok.

"Sudah dua minggu seperti ini, saya sudah cari di beberapa tempat tapi tidak dapat, saat ditanya ke pedagang, selalu habis," kata dia, Rabu (10/6/2026).

Ia mengaku harus beralih sementara ke kompor minyak tanah, sebab selain susah didapat, harga gas elpiji juga melonjak naik.

Baca juga: Lapau Rindu Raso UIN Imam Bonjol Padang Hadir Dalam EKKN 2026 di Magelang

Kata dia, karena minimnya ketersedian, harga gas subsidi tersebut dijual Rp24.000 hingga 27.000 per tabung.

"Harganya juga mahal dari biasa, lebih baik saya pakai kompor minyak tanah saja," jelasnya.

Senada, warga lainnya bernama Fitri menuturkan jika tak hanya di kawasan Lubuk Lintah, upaya ia mencari gas juga sampai ke Andalas, Kalawi dan Ketaping, Jalan By Pass.

Akan tetapi, sejumlah pedagang menyebut stok gas elpiji tersebut sudah kosong sejak empat hari hingga dua minggu.

"Selain itu pedagang juga menyebut baru datang, langsung diburu masyarakat. Gas yang masuk tidak banyak hanya empat, tapi sudah langsung habis," sebutnya.

Setelah pencarian hampir satu jam, akhirnya Fitri berhasil mendapatkan gas tersebut di Ampang dengan harga Rp24.000 per tabung.

Ia mengaku sangat membutuhkan gas tersebut untuk memasak, sebab tak sanggup membeli makanan secara terus menerus.

Baca juga: Harga Pertamax Rp17.000 per Liter, Konsumen di Padang Kaget tapi Belum Banyak yang Beralih

"Akhirnya setelah beberapa tempat dicari, baru dapat di Ampang, harganya Rp24.000. Saya sangat butuh sekali, karena masak pakai gas," tambahnya.

Selain itu, pedagang bernama Delmi juga menyebut masyarakat yang datang ke kedainya setiap hari hampir 20 hingga 30 orang, untuk menanyakan ketersedian gas elpiji 3 kilogram.

Akan tetapi, ia tak dapat berbuat banyak karena stok dari agen hingga pangkalan juga tidak tersedia.

"Banyak warga datang mencari di sini, sehari bisa 20 sampai 30 orang. Saya sudah sarankan cari di tempat lain, tapi mereka menyebut juga tidak ada stoknya," kata Delmi.

Delmi Mengaku Tak Jual Gas Selama 10 Hari Akibat Elpiji 3 Kg Langka

GAS ELPIJI SUBSIDI - Tumpukan gas elpiji 3 kilogram di kedai milik Delmi, kawasan Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Rabu (10/6/2026). Delmi mengaku sudah sepuluh hari tak jual gas elpiji 3 kilogram, stok tidak ada di agen hingga pangkalan.
GAS ELPIJI SUBSIDI - Tumpukan gas elpiji 3 kilogram di kedai milik Delmi, kawasan Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Rabu (10/6/2026). Delmi mengaku sudah sepuluh hari tak jual gas elpiji 3 kilogram, stok tidak ada di agen hingga pangkalan. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Sudah sepuluh hari lamanya Delmi tak lagi berjualan gas elpiji subsidi 3 kilogram di kawasan Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Kondisi gas subsidi ini telah langka sejak dua pekan terakhir, membuat masyarakat hingga pedagang sulit mendapatkannya.

Bahkan Delmi yang selalu menjual gas elpiji tersebut untuk masyarakat juga bingung, stok di agen hingga pangkalan tak lagi tersedia.

Namun ia tetap berusaha mengambil gas subisidi tersebut di kedai yang memiliki banyak stok di bandingkan lokasi lainnya.

Meski harga modal lebih mahal, setidaknya ia bisa menjawab permintaan masyarakat di tengah kelangkaan itu.

Baca juga: Pengendara Terjebak Sejam Lebih, Aksi Sopir Terobos Antrean Picu Macet Jalur Sitinjau Lauik Padang

"Tapi saya sudah tidak lagi jualan gas elpiji 3 kilogram sepuluh hari terakhir, tabung-tabungnya masih ada, cuma tak berisi," kata Delmi saat ditemui TribunPadang.com di kedainya, Rabu (10/6/2026).

Kata dia, susahnya mendapatkan gas elpiji 3 kilogram di pasaran mulai ia rasakan ketika Idul Adha 2026.

Bahkan sebelum itu, harga gas elpiji 3 kilogram dibanderol Rp20.000 per tabung. Namun usai Idul Adha 2026, modalnya sudah mencapai Rp22.000.

Tentu kata Delmi, modal mahal tentu harus mendapatkan untung meski sedikit. Setiap tabungnya, ia mengaku hanya mengambil hasil Rp1.000 hingga 2.000.

"Kalau modalnya Rp22.000, saya jual palingan Rp23.000-24.000 per tabung. Tapi sekarang, stoknya saja susah didapat, makanya tidak jualan gas lagi," tuturnya.

Baca juga: Gas Elpiji 3 Kg Langka di Padang, Pedagang Gorengan: Terpaksa Rehat Jualan, Mau Bagaimana Lagi

Tak hanya modal mahal, di tempat ia mengambil gas di sebuah kedai yang memiliki banyak stok, juga dibatasi.

Sebab kata dia, kedai yang berlokasi di Andalas tersebut tak menjualnya untuk para pedagang yang dijual kembali.

Sehingga, masyarakat atau perorangan lah yang bisa membelinya. Namun, Delmi menggunakan cara serupa, membeli sendiri, lalu meminta adik dan saudara lainnya melakukannya.

"Dia jual per orangan, dan hanya bisa jual dua, tidak mau jual di kedai untuk dijual lagi. Jadi, sebelum saya tidak berjualan sepuluh hari ini, cara itu saya pakai," tambahnya.

Kompor Minyak Tanah Sebagai Alternatif

Gas elpiji subsidi 3 kilogram sulit ditemukan di kawasan Lubuk Lintah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang hampir dua pekan terakhir.

Dampak kelangkaan ini, sejumlah masyarakat mengeluh dan bahkan terpaksa menggunakan kompor minyak tanah sebagai solusi sementara.

Baca juga: Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg di Padang Picu Kenaikan Harga hingga Rp27.000

Salah satu masyarakat yang ditemui TribunPadang.com di kawasan Pasar Pagi Lubuk Lintah bernama Kamaruli mengatakan bahwa ia sudah mencari ke beberapa kedai hingga agen untuk mendapatkan gas subsidi tersebut.

Akan tetapi, jawaban yang diterima dari pedagang selalu sama, yakni stok gas elpiji 3 kilogram kehabisan stok.

"Sudah dua minggu sepeti ini, saya sudah cari di beberapa tempat tapi tidak dapat, saat ditanya ke pedagang, selalu habis," kata dia, Rabu (10/6/2026).

Ia mengaku harus beralih sementara ke kompor minyak tanah, sebab selain susah didapat, harga gas elpiji juga melonjak naik.

Kata dia, karena minimnya ketersedian, harga gas subsidi tersebut dijual Rp24.000 hingga 27.000 per tabung.

"Harganya juga mahal dari biasa, lebih baik saya pakai kompor minyak tanah saja," jelasnya.

Baca juga: Panorama II Jadi Titik Macet Parah Jalur Padang-Solok, Antrean Kendaraan Mengular hingga Tahura

Senada, warga lainnya bernama Fitri menuturkan jika tak hanya di kawasan Lubuk Lintah, upaya ia mencari gas juga sampai ke Andalas, Kalawi dan Ketaping, Jalan By Pass.

Akan tetapi, sejumlah pedagang menyebut stok gas elpiji tersebut sudah kosong sejak empat hari hingga dua minggu.

"Selain itu pedagang juga menyebut baru datang, langsung diburu masyarakat. Gas yang masuk tidak banyak hanya empat, tapi sudah langsung habis," sebutnya.

Setalah pencarian hampir satu jam, akhirnya Fitri berhasil mendapatkan gas tersebut di Ampang dengan harga Rp24.000 per tabung.

Ia mengaku sangat membutuhkan gas tersebut untuk memasak, sebab tak sanggup membeli makanan secara terus menerus.

Baca juga: Panorama II Jadi Titik Macet Parah Jalur Padang-Solok, Antrean Kendaraan Mengular hingga Tahura

"Akhirnya setelah beberapa tempat dicari, baru dapat di Ampang, harganya Rp24.000. Saya sangat butuh sekali, karena masak pakai gas," tambahnya.

Selain itu, pedagang bernama Delmi juga menyebut masyarakat yang datang ke kedainya setiap hari hampir 20 hingga 30 orang, untuk menanyakan ketersedian gas elpiji 3 kilogram.

Akan tetapi, ia tak dapat berbuat banyak karena stok dari agen hingga pangkalan juga tidak tersedia.

"Banyak warga datang mencari di sini, sehari bisa 20 sampai 30 orang. Saya sudah sarankan cari di tempat lain, tapi mereka menyebut juga tidak ada stoknya," kata Delmi.

Gas Elpiji 3 Kilogram Langka

Sudah berlangsung dua minggu, gas elpiji 3 kilogram mulai langka di beberapa tempat di Kota Padang.

Gas subsidi tersebut tak hanya susah didapat di kedai-kedai kecil, tapi juga di agen hingga pangkalan.

Baca juga: Perda Pajak Solok Selatan Disahkan, Wabup Pastikan Tarif Tetap Perhatikan UMKM

Sejumlah pedagang yang ditemui TribunPadang.com di kawasan Lubuk Lintah sekira pukul 11.19 WIB mengatakan kondisi tersebut membuat masyarakat resah.

Pedagang, Delmi mengatakan sudah dua pekan gas elpiji 3 kilogram susah ia dapat dari agen maupun pangkalan.

Ia tak mengetahui pasti alasan kelangkaan gas tersebut, namun pihak agen maupun pangkalan tempat Delmi membeli, menyebut stok tidak ada.

"Sudah dua minggu ini gas susah, saya sudah cari ke sana kemari, tapi tidak dapat. Kalau alasannya tidak ada stok," ucapnya saat memberikan keterangan di lapaknya, Lubuk Lintah, Kota Padang, Rabu (10/6/2026).

Akan tetapi, beberapa pedagang bisa mendapatkan stok gas elpiji. Hanya saja, harga yang diberikan lebih tinggi dari biasanya.

Baca juga: Harga Pertamax di Padang Meroket Rp 17.000 per Liter, Pemotor di Padang Ramai-Ramai Antre Pertalite

Sebelumnya Delmi mengaku juga memesan beberapa gas elpiji 3 kilogran kepada agen, namun terbatas dan maksimal lima tabung.

"Tapi sekarang sudah tidak bisa seperti itu, karena di beberapa tempat susah, termasuk agen ataupun pangkalan," sebutnya.

Terkadang kata Delmi, ia terpaksa mengambil beberapa tabung gas elpiji ke pedagang lainnya, hanya sebagai stok.

Akan tetapi, harga yang diberikan tidaklah seperti di agen ataupun pangkalan. Sebab, mereka juga mengambil untung, lalu ditambah kondisi gas yang susah didapat.

"Kadang saya ambil di pedagang lainnya, Rp23.000 per tabung, lalu dijual lagi 24.000 hingga 25.000, ambil untungnya tipis, hanya 1.000-2.000," tuturnya.

Baca juga: Kantongi 6 Paket Sabu, Seorang Pemuda Ditangkap Polres Solok di Lembang Jaya

Kondisi serupa juga dirasakan pedagang, Deri. Di lapaknya, kawasan Pasar Pagi Lubuk Lintah ia menyebut gas elpiji 3 kilogram memang susah didapat.

Kondisi tersebut sudah berlangsung dua minggu, bahkan beberapa daerah seperti Andalas, Kalumbuk hingga Lubuk Lintah juga merasakan kondisi serupa.

"Tak hanya di Lubuk Lintah, saya sudah cari gas elpiji di Kalumbuk dan Andalas, sama-sama susah. Terkadang saya ambil di pedagang lain di daerah Belimbing, jual lagi di sini," jelasnya.

Di tengah kelangkaan gas, masyarakat juga bertanya alasannya. Ia mengaku tak dapat menjawab dan hanya menjelaskan terkait kondisi sekarang.

Untuk itu, Deri berharap pihak terkait dapat menambah stok gas elpiji agar pedagang maupun masyarakat tidak kesusahan.

"Banyak warga cari gas ke sini, cuma karena tidak ada, apa yang bisa saya jual. Semoga kondisi seperti ini bisa teratasi, stoknya bisa ditambah," pungkasnya.

Senada, masyarakat bernama Kamaruli menuturkan gas elpiji 3 kilogram sudah terjadi kelangkaan dalam dua minggu terakhir.

Ia sudah mencari gas subsidi tersebut ke beberapa pedagang, namun tidak berhasil mendapatkannya.

"Sangat susah sekarang, sudah dua minggu seperti ini, masak pun tidak bisa," terang Kamaruli seusai mencari gas elpiji di lapak milik Deri. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.