TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di tengah menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah dan euforia Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pariwisata Bali ternyata tetap menunjukkan daya tarik yang kuat di mata wisatawan mancanegara.
Kekhawatiran bahwa arus wisata global akan beralih ke negara-negara tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia itu tidak terbukti.
Sepanjang empat bulan pertama 2026, kunjungan wisatawan asing ke Pulau Dewata justru mencatat pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan dunia meski dihadapkan pada tantangan ekonomi global dan persaingan destinasi internasional.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, mengungkapkan bahwa situasi ekonomi global saat ini ibarat pisau bermata dua bagi industri pariwisata di Bali.
Di satu sisi, melemahnya Rupiah menjadi daya tarik tersendiri bagi turis asing karena biaya berlibur menjadi jauh lebih murah.
Baca juga: Wayan Sukadana Bongkar Tren Taktik Piala Dunia 2026, Low Block dan Counter Attack Jadi Senjata Utama
"Di satu sisi itu menjadi berkah karena mereka mempunyai kesempatan untuk expand-nya lebih banyak," ujar pria yang akrab disapa Cok Ace tersebut pada Kamis 11 Juni 2026.
Menurutnya, penguatan mata uang asing membuat wisatawan merasa diuntungkan meskipun saat ini sedang terjadi kenaikan harga tiket pesawat secara global.
"Walaupun ada kenaikan harga tiket pesawat, tapi kalau dikompensasikan dengan keseluruhan cost-nya dia untuk traveling, saya kira itu masih memudahkan atau lebih menguntungkan kepada wisatawan," lanjut Cok Ace.
Namun, di sisi lain, keperkasaan dolar menjadi tantangan berat bagi para pelaku usaha akomodasi dan restoran di Bali.
Pasalnya, pendapatan yang diterima berbasis Rupiah, sementara biaya operasional untuk bahan baku premium masih sangat bergantung pada impor yang menggunakan denominasi dolar AS.
"Bagi kami pelaku pariwisata, karena kami menerima uang dalam bentuk Rupiah, sedangkan pembelanjaan kami lebih banyak juga pakai dolar, ke US Dolar khususnya," jelasnya.
Cok Ace merinci, sejumlah kebutuhan utama pariwisata seperti daging berkualitas tinggi hingga minuman beralkohol mau tidak mau harus didatangkan dari luar negeri.
Situasi ini menjepit margin keuntungan para pengusaha karena mereka berkomitmen untuk tidak menurunkan standar pelayanan demi menjaga reputasi Bali.
"Daging berapa kami pakai impor, berapa minuman-minuman alkohol juga kami mesti impor dan lain-lain banyak mesti kami impor," ujar dia.
"Kalau menurunkan kualitas juga tidak mungkin, nah ini menjadi tantangan kita ke depan untuk pintar-pintarlah mengatur diri," tegas mantan Wakil Gubernur Bali tersebut.
Tantangan pariwisata Bali tahun ini kian kompleks dengan bergulirnya Piala Dunia 2026 yang berlangsung di tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Berdasarkan siklus empat tahunan, perhatian dunia dan arus pergerakan wisatawan global biasanya tersedot secara masif ke negara-negara pelaksana turnamen.
Ditambah lagi, dinamika geopolitik di Timur Tengah masih membayangi jalur penerbangan internasional.
Meski digempur demam sepak bola dunia dan isu keamanan global, performa pariwisata Bali justru menunjukkan anomali yang menggembirakan.
Berdasarkan data kuartal pertama hingga April 2026, akumulasi kunjungan wisman ke Bali tetap menunjukkan grafik menanjak jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
"Kalau kita melihat dari kuartal lah katakan sampai bulan April, empat bulan berbanding tahun lalu, masih ada peningkatan sekarang," tutur dia.
"Overall selama empat bulan pertama 2026 posisi kita meningkat daripada tahun sebelumnya, ini wisman," imbuh Cok Ace.
Ia tidak menampik sempat terjadi penurunan performa minor di awal tahun, namun hal tersebut murni dipicu oleh faktor alam, bukan karena kehilangan pasar akibat daya tarik Piala Dunia 2026 di benua Amerika.
"Januari 2025 ke Januari 2026, ah hanya itu yang turun satu. Tapi kita jangan lupa pada waktu itu kita lagi banyak persoalan masalah cuaca dan lain sebagainya. Setelah itu Februari kalau kita bandingkan dengan tahun sebelumnya, meningkat," urainya.
Dari segi pemetaan pasar, Australia masih kokoh mempertahankan posisinya sebagai penyumbang turis asing terbesar ke Bali.
Menariknya, lonjakan signifikan justru datang dari pasar Asia Selatan yang menjadi penyelamat di tengah fluktuasi global.
"Australia tetap, masih. Justru India yang banyak mendongkrak kita sekarang. India sekarang yang banyak," ungkap Cok Ace.
Keberhasilan mengamankan pasar India ini dinilai sebagai buah manis dari strategi promosi dan ekspansi rute penerbangan langsung menuju Bali.
Pasar India terbukti lebih tangguh terhadap guncangan geopolitik karena tidak melewati zona rawan.
"Artinya berhasil (promosi pariwisata). Lah dia kan tidak terpengaruh sama kondisi yang terjadi di Middle East, penerbangannya langsung ke Bali," tutup Cok Ace.
Sebagai informasi tambahan, perhelatan Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung dari Juni hingga Juli 2026 memang menjadi edisi terbesar dalam sejarah dengan melibatkan 48 negara kontestan dan 104 pertandingan.
Sejumlah laga menarik akan tersaji pada hari perdana Piala Dunia 2026, tepatnya pada 11 Juni 2026 waktu setempat atau tanggal 12 Juni 2026 dini hari WIB.
Pertandingan menarik berikut ini termasuk pertandingan tuan rumah serta duel tim-tim unggulan.
Berikut adalah jadwal selengkapnya.
Grup A
- Meksiko vs Afrika Selatan (12 Juni 2026 pukul 00.00 WIB)
- Korea Selatan vs Cekoslovakia (12 Juni 2026 pukul 08.00 WIB)
Grup F
Belanda vs Jepang (12 Juni 2026 pukul 02.00 WIB)
(*)
Meskipun sebagian besar belanja pariwisata olahraga global terkonsentrasi di kota-kota tuan rumah seperti New York, Los Angeles, Mexico City, hingga Toronto.
(*)