Jeritan Driver Ojol di Jogja, Kenaikan Harga Pertamax Picu Antrean Panjang Pertalite di SPBU
Yoseph Hary W June 11, 2026 04:03 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax per 10 Juni 2026 yang menembus angka Rp16.250 per liter mulai memicu dampak di hilir.

Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Yogyakarta mulai dipadati antrean kendaraan yang diduga kuat bermigrasi ke jenis bensin Pertalite.

​​Hanafi, seorang driver ojek online (ojol) di Kota Yogyakarta, mengeluhkan kondisi SPBU yang berbeda dari biasanya, pada Rabu (10/6/2026) malam.

Saat hendak mengisi bahan bakar di SPBU kawasan Jalan Wonosari, Rejowinangun, ia dikejutkan oleh antrean Pertalite yang mengular panjang meski waktu sudah menunjukkan hampir dini hari.

​"Wah, tadi malam aku sekitar jam 11-an sengaja mampir pom buat isi bensin, tapi antrean Pertalite-nya panjang banget," ujarnya, Kamis (11/6/26).

​Menurut Hanafi, kondisi tersebut terbilang tidak wajar, lantaran pada hari-hari biasa di jam yang sama, antrean di SPBU tersebut cenderung sepi dan hanya menyisakan beberapa kendaraan.

Ia mengaku tidak tahu pasti apakah lonjakan antrean ini merupakan efek langsung dari masyarakat yang beralih dari Pertamax ke Pertalite pasca kenaikan harga. 

​"Enggak tahu pasti, ya. Tapi, biasanya landai jam segitu, cuma dua atau tiga motor. Nah, semalam sudah hampir pagi kok antreannya sepanjang itu," keluhnya.

Harus antre untuk dapatkan pertalite

​​Untuk mendapatkan Pertalite, ia pun harus rela menghabiskan waktu hingga puluhan menit di atas sepeda motor yang jadi senjatanya mengais nafkah. 

Sebuah situasi cukup menyiksa bagi seorang driver yang baru saja menyelesaikan seharian penuh mencari pundi-pundi rupiah dengan menyusuri jalanan.

​"Antre sekitar 20 menit, ada lebih dari 20 motor itu di depanku. Sudah posisi capek, ngantuk, habis narik, masih harus antre panjang buat ngisi bensin," tuturnya.

Saat ditanya apakah ada rencana untuk beralih ke Pertamax demi menghindari antrean yang melelahkan, Hanafi langsung menggelengkan kepala.

Baginya, banderol Pertamax yang kini melejit begitu pesat sudah berada di luar jangkauan kantong para pekerja sektor informal seperti dirinya.

​"Kalau dulu masih bisa, begitu antrean panjang, geser ke Pertamax. Lah, sekarang harganya Pertamax sudah Rp16 ribu lebih. Kalau buat ojol kayak saya yang setiap hari mondar-mandir ke sana kemari, ya susah," tegasnya.

"Jadi, mau enggak mau, tetap bertahan pakai Pertalite, disabar-sabarkan saja lah, semoga segera ada kabar baik. Capek juga setiap hari gonjang-ganjing begini," pungkas Hanafi. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.