Fakta Mengejutkan Pemuda Sumba Disekap dan Disiksa di Bali, Terjebak Loker Palsu: Difitnah & Diperas
Eri Ariyanto June 11, 2026 03:10 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus memilukan menimpa Yubilate Kristian Bulu (23), seorang pemuda asal Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merantau ke Bali dengan harapan mendapatkan pekerjaan layak.

Namun harapan itu berubah menjadi mimpi buruk setelah Yubilate Kristian Bulu diduga terjebak dalam lowongan kerja (loker) palsu yang ternyata jebakan sindikat.

Alih-alih mendapat pekerjaan, korban justru dilaporkan mengalami penyekapan di sebuah lokasi tertutup oleh pihak tak dikenal.

Tidak hanya itu, korban juga diduga mendapat perlakuan kekerasan fisik selama berada dalam kondisi terkurung dan tidak berdaya.

Situasi semakin tragis ketika korban disebut-sebut turut difitnah melakukan kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Fitnah tersebut diduga digunakan sebagai alasan untuk menekan dan memeras korban agar menyerahkan sejumlah uang.

Keluarga korban yang berada di kampung halaman pun dibuat panik setelah kehilangan kontak dalam waktu cukup lama.

Upaya pencarian kemudian dilakukan hingga akhirnya kasus ini mulai terungkap dan menarik perhatian publik luas.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus penipuan loker palsu yang menjerat para pencari kerja di perantauan.

Kini pihak berwenang tengah menelusuri jaringan pelaku yang diduga terlibat dalam praktik kejahatan tersebut.

Baca juga: Gebrakan Terbaru Kepala BGN Nanik S Deyang, Berencana Ubah Skema MBG: Dari SPPG ke Kantin Sekolah

Seperti diketahui, kasus penipuan loker Bali bermodus lowongan kerja palsu kembali memakan korban. Yubilate Kristian Bulu (23), seorang pemuda asal Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi korban penyekapan di Bali dan penganiayaan berat oleh sindikat kejahatan.

Peristiwa pilu yang dialami oleh Sarjana Pariwisata (S.Par) ini terjadi selama enam hari, tepatnya pada 4–9 Mei 2026, di kawasan Seminyak dan Kedonganan, Badung, Bali.

Krisno, sapaan akrabnya, baru berani membeberkan detail kejadian tersebut saat ditemui di kediamannya pada Rabu (10/6/2026).

Berikut adalah 7 fakta mengejutkan di balik kasus warga NTT disekap di Bali yang dihimpun dari pengakuan korban dan pihak keluarga:

1. Terjebak Lowongan Kerja Bidang Pariwisata di Aplikasi Tinder

Niat awal Krisno merantau ke Denpasar pada 1 Mei 2026 adalah untuk mencari kerja setelah menyelesaikan kontrak magang selama satu tahun di Jepang. Namun baru tiga hari menumpang di kos sepupunya, Krisno melihat lowongan kerja di bidang pariwisata yang tertera di aplikasi kencan Tinder.

Tergiur dengan informasi tersebut, ia langsung mengirimkan lamaran dan diminta datang untuk sesi wawancara ke Hotel Liberta Seminyak pada hari yang sama, yakni 4 Mei 2026. Ia pun diantar oleh sepupunya menggunakan sepeda motor.

2. Modus Wawancara Kerja Palsu dan Pelamar Settingan

Setibanya di lobi hotel, Krisno ditemui oleh dua orang perempuan yang diduga pimpinan sindikat, yakni Adrisryanti Tanah Paluang alias Kenso (disebut sebagai bos perusahaan) dan Ayasha Amanda Amira Putri alias Amanda.

Saat wawancara berlangsung, ada satu pelamar lain yang ikut bersamanya bernama Yohanes. Belakangan Krisno menyadari bahwa Yohanes hanyalah bagian dari komplotan penipu yang berpura-pura menjadi pelamar demi mengelabui dirinya.

"Saya dinyatakan diterima, sedangkan Yohanes tidak diterima. Belakangan saya mengetahui bahwa Yohanes merupakan bagian dari kelompok tersebut. Mereka hanya berpura-pura untuk mengelabui saya," ungkap Krisno.

Kenso kemudian menawarkan posisi sebagai asisten pribadi dengan iming-iming proyek pariwisata bernilai ratusan juta rupiah bersama warga negara asing.

PENYEKAPAN - Ilustrasi penyekapan, Pemuda Sumba disekap di Bali usai terjebak loker palsu, difitnah dan diperas sindikat kejam! viral!. 

3. Pelaku Fasih Berbahasa Inggris dan Manipulasi Agama

Krisno mengaku terjebak dan percaya sepenuhnya kepada pelaku karena profil Kenso yang sangat meyakinkan. Selain fasih berbahasa Inggris, pelaku juga kerap membawa nama Tuhan untuk meyakinkan korban dan ibunya bahwa mereka adalah pengusaha yang jujur.

"Saat wawancara, dia fasih berbahasa Inggris dan meyakinkan saya bahwa kami sama-sama orang Kristen yang harus percaya kepada Tuhan. Dia mengatakan bahwa orang baik pasti diberi jalan oleh Tuhan. Karena berulang kali menyebut nama Tuhan, saya percaya. Dalam hati saya, orang ini bukan penipu," tutur Krisno.

4. Ponsel Disita dan Dihujani Tuduhan Palsu untuk Pemerasan

Penyekapan dimulai tak lama setelah wawancara usai. Telepon genggam milik Krisno langsung disita. Pola intimidasi pun dimulai dengan melayangkan rentetan tuduhan palsu: Krisno dituduh mencuri uang Kenso sebesar Rp 2 juta, dituduh merusak mobil BMW, hingga dituduh melakukan pelecehan seksual.

Tuduhan palsu tersebut digunakan pelaku sebagai alat untuk memeras keluarga korban. Pada 5 Mei 2026, pelaku memaksa Krisno meminta uang Rp 4 juta kepada ibunya dengan alasan biaya jahit seragam hotel. Tak berhenti di situ, menggunakan ponsel Krisno, pelaku membalas pesan WhatsApp sang ibu seolah-olah kondisi Krisno baik-baik saja.

5. Penganiayaan Brutal dan Paksaan Menjilat Darah Sendiri

Puncak penyiksaan paling berat terjadi pada 8–9 Mei 2026, ketika korban dipindahkan dari Hotel Liberta Seminyak ke Hotel Liberta Kedonganan menggunakan mobil rental. Di bawah pengawalan dua orang bodyguard, Krisno dipukuli di sepanjang jalan selama satu jam.

Siksaan semakin brutal saat berada di dalam kamar hotel baru. Krisno dikeroyok oleh lima orang pelaku (Kenso, Amanda, Yohanes, dan dua bodyguard). Wajah, kepala, perut, kaki, hingga area sensitif korban dihantam berulang kali hingga dahi kirinya robek dan harus menerima tiga jahitan. Sadisnya, darah korban yang berceceran di lantai dipaksa untuk dijilat kembali sampai bersih.

Sambil menyiksa, para pelaku menelepon ibu korban dan meminta uang tebusan sebesar Rp 100 juta. Jika tidak ditransfer, mereka mengancam akan memotong jari tangan Krisno dan membunuhnya.

"Saya pasrah. Jika memang harus pergi dengan cara seperti ini, saya hanya meminta agar jenazah saya dikembalikan ke Sumba Barat Daya," ucap Krisno yang saat itu sempat pasrah kehilangan nyawa.

6. Kabur Tanpa Baju Memanfaatkan Kelengahan Pelaku yang Mabuk

Pada malam 9 Mei 2026, para pelaku menggelar pesta minuman keras di dalam kamar hotel. Krisno dipaksa menenggak belasan botol minuman keras oleh para bodyguard. Namun, di tengah kondisi para pelaku yang akhirnya tumbang dan tertidur lelap akibat mabuk, Krisno justru tetap sadar sepenuhnya.

Melihat kesempatan tersebut, Krisno nekat melarikan diri meski harus merelakan barang berharganya seperti iPhone 15, ponsel Android, laptop, paspor, dan koper yang ditahan pelaku.

"Saya melarikan diri hanya mengenakan celana panjang tanpa baju. Darah masih mengalir dari wajah saya. Saya melewati meja front office. Saat itu ada seorang petugas yang melihat saya, tetapi tidak bereaksi," kenangnya.

Krisno terus berlari keluar hotel, meminjam ponsel di warung Madura terdekat untuk menelepon ibunya, lalu berlindung di rumah kos warga NTT sebelum akhirnya dijemput keluarga untuk melaporkan kasus tersebut ke Polsek Kuta.

7. Ibu Korban Meminta Keadilan Langsung kepada Presiden dan Kapolri

Meski Krisno telah melaporkan kasus ini ke Polsek Kuta pada hari pelariannya, Sabtu (9/5/2026), penanganan kasus terkesan mandek. Saat polisi mendatangi TKP, para pelaku sudah kabur. Hingga satu bulan berlalu sejak pelaporan, komplotan tersebut belum juga berhasil ditangkap.

Kekecewaan ini membuat ibunda Krisno, Adriana Miku Mere, melayangkan permohonan terbuka kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo agar segera mengatensi kasus ini.

“Perbuatan para pelaku yang menyekap dan menyiksa anak saya seperti binatang tidak boleh dibiarkan berkeliaran. Tindakan tegas harus diambil demi mencegah agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali kepada masyarakat lainnya,” tegas Adriana penuh emosional, Rabu (10/6/2026).

Adriana juga mengimbau keras masyarakat Sumba Barat Daya agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan instan dengan fasilitas mewah di media sosial, terutama melalui aplikasi non-karier.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.