TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak, serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA PPO) Polda Sumut menggagalkan praktik perdagangan orang jaringan Indonesia ke Malaysia.
Sebanyak lima orang tersangka dengan berbagai peran ditangkap Polisi, dalam pengungkapan ini.
Direktur Reserse PPA dan PPO, Kombes Kristinattara Wahyuningrum mengatakan, kelimanya ialah, B (55), warga Kelurahan Bagan Asahan, Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan.
Ia berperan sebagai tekong atau nahkoda yang mengemudikan kapal.
Kemudian IN (44), warga Jalan Sei Terusan, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjung Bala, berperan sebagai kepala kamar mesin atau mekanik kapal.
MJ alias MJT (32) warga Jalan Sei Terusan, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjung Balai, berperan sebagai juru masak atau koki, juga ABK.
Lalu AA (47), warga Desa Air Joman, Kecamatan Air Joman, Kecamatan Air Joman, Kabupaten Asahan, berperan sebagai penambat kapal dan membantu juru masak.
Selanjutnya P alias I (41), warga Desa Bangun Sari, Kecamatan Datuk Tanah Datar, Kabupaten Batu Bara, berperan sebagai penambat kapal yang membantu juga juru masak.
"Adapun yang menjadi dasar daripada pengamanan terhadap kelima tersangka ini adalah adanya laporan polisi model A. Itu semua berdasarkan hasil kerja sama antara Ditres PPA/PPO, Polda Sumatera Utara dan Satgas Bais Tanjung Balai Asahan,"kata Kombes Kristinattara Wahyuningrum, Kamis (11/6/2026).
Kristinattara Wahyuningrum mengatakan, dalam kasus ini sebanyak 8 orang korban atau calon pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal diselamatkan dari tindak pidana perdagangan manusia lintas negara.
Kedelapannya adalah SO, warga Dusun I, Desa Perkebunan Hessa, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan, MF, Desa Tanjung Tiram, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara.
Kemudian, SI, warga Desa Cermin Kiri, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, TD, warga Kabupaten Serdang Bedagai, SL, warga Kabupaten Asahan.
Selanjutnya, WI, warga Kabupaten Asahan, AM, warga dari Kabupaten Asahan, serta MO warga dari Kabupaten Asahan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, para korban mau diberangkatkan ke Malaysia setelah membayar kepada tersangka.
Mereka tergiur dengan upah besar di negeri Jiran, karena jauh lebih besar dibandingkan di Indonesia.
Rencananya, mereka akan dipekerjakan sebagai kuli bangunan, dan nelayan di Malaysia dengan upah sekitar 70 Ringgit Malaysia, atau sekitar Rp 300 ribu, sampai Rp 800 ribu perhari.
Sedangkan, uang yang mereka bayarkan ke para tersangka sekitar Rp 1,5 juta, sampai Rp 5 juta.
"Bahwa rencananya, korban ini akan diberangkatkan ke negara Malaysia untuk dipekerjakan sebagai nelayan dan juga buruh bangunan."
*Kronologis Pengungkapan, dan Pengakuan Tersangka*
Kombes Kristinattara Wahyuningrum mengatakan, pengungkapan dilakukan pada Selasa 2 Juni kemarin, di perairan Laut Kuala Bagan Asahan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.
Setelah mendapat informasi adanya pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal, Polisi, Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan BP3MI bergerak ke lokasi.
Disini mereka menghentikan kapal ikan mengangkut para korban, yang akan dikirim ke Malaysia.
"Dari tambatan kapal PT Timur Jaya Teluk Nibung, Kota Tanjung Balai lainnya, dengan cara menumpang kapal kayu pukat jaring warna biru merah pada hari Selasa tanggal 2 Juni 2006 yang akan berangkat pada dini hari, yaitu pada saat air laut pasang, dengan tekong atau nahkoda berinisial B, yang saat ini bekerja menyelundupkan WNI yang dibantu dengan kru atau ABK dari kapal tersebut,"ungkapnya.
Hasil pemeriksaan sementara, para tersangka dikendalikan oleh agen pengiriman pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal, yang berada di Malaysia.
Mereka meminta sejumlah uang kepada korban sebesar Rp 1,5 juta, hingga Rp 5 juta sekali berangkat.
Sedangkan untuk praktik perdagangan orang ini sudah berlangsung selama 8 bulan.
Meski demikian, Polda Sumut belum berhasil menangkap agen penyalur.
Agen atau bos para tersangka berada di Malaysia.
"Jadi, agennya itu ada di Malaysia, mereka berkomunikasi melalui telepon, bawa orang sekian, itu, seperti itu."
(Cr25/Tribun-medan.com)