TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Perlambatan penjualan rumah menengah atas mulai dirasakan pelaku industri properti dan material bangunan.
Namun di tengah kondisi tersebut, proyek swasta serta segmen hunian subsidi dinilai masih menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri interior dan konstruksi.
Hal itu mengemuka dalam ajang BuildNext One Day Exhibition 2026 yang berlangsung di Gets Premier Hotel Semarang, Kamis (11/6/2026).
Pameran ini menjadi wadah bagi produsen, distributor, kontraktor, arsitek, hingga pengembang untuk memamerkan produk unggulan, memperluas jejaring bisnis, serta menangkap tren dan inovasi terbaru di industri.
Diselenggarakan oleh PCN Indonesia (Principal Collective Network Indonesia), yang merupakan hasil rebranding dari MitraPabrik.com, BuildNext One Day Exhibition digelar secara berkelanjutan di berbagai kota di Indonesia.
Pada tahun 2026, Semarang dipilih sebagai kota kelima penyelenggaraan acara tersebut.
Founder PCN Indonesia, Ivan Litan, mengatakan Semarang dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki ekosistem profesi desain dan konstruksi terbesar di Jawa Tengah.
Penyelenggaraan acara mendapat dukungan dari sejumlah asosiasi profesi dan industri, antara lain HDII, IAI, INKINDO, REI, serta AREBI ACE.
Baca juga: Mengaku Sebagai Habib, Pria Paruh Baya Cabuli 8 Santriwati di Ponpes Susukan Kabupaten Semarang
Kegiatan ini juga didukung oleh sponsor utama TACO dan Fortress.
"Untuk Jawa Tengah sendiri kami melihat ada tiga kota utama, yaitu Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Dari sisi ekosistem arsitek, desainer interior, maupun kontraktor, Semarang yang terbesar.
Karena itu kota ini menjadi target utama untuk memperkenalkan produk-produk ke market," ujarnya.
Menurut Ivan, antusiasme pelaku industri terhadap kegiatan tersebut juga terus meningkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah peserta profesional yang hadir selalu menembus angka 500 orang, di luar mahasiswa.
Di sisi lain, Ivan mengakui kondisi ekonomi saat ini berdampak pada sektor properti, terutama rumah dengan harga di atas Rp1 miliar.
Berdasarkan komunikasi yang dilakukannya dengan sejumlah pengembang, penjualan rumah pada segmen tersebut mengalami perlambatan sehingga banyak developer mulai mengalihkan fokus ke rumah dengan harga yang lebih terjangkau.
"Saat ini rumah-rumah yang nilainya di atas Rp1 miliar memang pergerakannya agak lambat.
Bahkan beberapa developer yang sebelumnya bermain di segmen tertentu mulai masuk ke rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar," katanya.
Meski demikian, Ivan menilai proyek-proyek komersial dan swasta masih menunjukkan performa yang cukup baik.
Menurutnya, banyak pembangunan rumah pribadi tetap berjalan karena pemilik proyek sudah memiliki anggaran dan perencanaan sebelum memulai pembangunan.
"Kalau private house rata-rata mereka sudah punya proyek dulu baru membangun. Jadi saya lihat untuk segmen itu masih cukup oke," tambahnya.
Head of Regional 3 Sales Project Fortres, Muhammad Al Amin Soleh, mengatakan perlambatan sektor developer mendorong perusahaan mencari peluang baru di pasar perumahan subsidi.
Menurutnya, kebutuhan hunian terjangkau masih tinggi sehingga produsen material perlu menghadirkan produk yang sesuai dengan kemampuan pasar.
"Developer memang sedang lesu, tetapi mereka tetap ingin eksis. Karena itu Fortres menghadirkan alternatif berupa pintu untuk rumah subsidi dengan harga di bawah Rp1 juta," ujarnya.
Ia menilai strategi menghadirkan produk yang lebih ekonomis menjadi salah satu cara agar industri bahan bangunan tetap bertumbuh di tengah perlambatan pasar properti menengah atas. (arl)