Oleh: Valentino Febryan Perkasa, Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Kereta komuter pada pagi hari sering kali menyajikan pemandangan yang sama. Gerbong penuh sesak oleh penumpang, tetapi suasananya nyaris tanpa percakapan. Sebagian besar orang menundukkan kepala, menatap layar telepon genggam di tangan mereka. Tidak ada sapaan, tidak ada interaksi, bahkan kontak mata pun menjadi hal yang langka.
Fenomena ini telah menjadi potret kehidupan modern. Media sosial yang awalnya diciptakan untuk memudahkan komunikasi dan mendekatkan orang-orang yang terpisah jarak, kini justru menghadirkan paradoks. Di tengah kemudahan untuk terhubung dengan siapa saja, banyak orang semakin menjauh dari lingkungan sosial di dunia nyata.
Salah satu persoalan utama terletak pada kualitas hubungan yang dibangun melalui media sosial. Platform digital menawarkan kemudahan berinteraksi lewat tombol suka, komentar singkat, atau emoji. Sekilas, hal itu menciptakan kesan bahwa seseorang memiliki banyak teman dan relasi.
Namun, hubungan semacam ini sering kali bersifat dangkal dan tidak mampu menggantikan interaksi langsung yang melibatkan ekspresi wajah, bahasa tubuh, nada suara, serta empati yang lahir dari pertemuan nyata.
Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng Tekankan Pentingnya Kompres Hangat untuk Bantu Turunkan Demam pada Anak
Akibatnya, kemampuan berkomunikasi secara interpersonal perlahan mengalami penurunan. Banyak orang lebih nyaman mengetik pesan daripada berbicara langsung. Mereka semakin terbiasa berinteraksi melalui layar dan kehilangan keterampilan sosial yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Masalah lain yang muncul adalah meningkatnya kecemasan sosial. Media sosial telah berubah menjadi panggung tempat setiap orang menampilkan versi terbaik dari hidup mereka.
Foto liburan, pencapaian karier, gaya hidup mewah, hingga momen kebahagiaan terus membanjiri linimasa. Paparan yang berulang terhadap konten semacam ini sering memunculkan perasaan tertinggal atau tidak cukup baik dibandingkan orang lain.
Fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO) ini banyak dialami, terutama oleh generasi muda. Alih-alih merasa termotivasi, tidak sedikit yang justru mengalami rasa minder, rendah diri, dan kehilangan kepercayaan diri. Pada akhirnya, mereka memilih menghindari interaksi sosial secara langsung dan menghabiskan lebih banyak waktu di dunia digital yang dianggap lebih nyaman.
Selain itu, media sosial juga berpotensi mengurangi toleransi terhadap perbedaan. Algoritma platform digital dirancang untuk menampilkan konten yang sesuai dengan minat dan pandangan pengguna. Akibatnya, seseorang cenderung hanya menerima informasi dan opini yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Kondisi ini melahirkan apa yang disebut sebagai echo chamber atau kamar gema.
Dalam ruang semacam itu, perbedaan pandangan semakin jarang ditemui. Ketika berhadapan dengan pendapat yang berbeda di dunia nyata, sebagian orang menjadi lebih mudah tersinggung, sulit menerima kritik, bahkan bersikap agresif. Kemampuan berdialog secara sehat dan menghargai keberagaman pendapat perlahan terkikis.
Tentu saja media sosial bukanlah musuh yang harus dihilangkan dari kehidupan modern. Kehadirannya membawa banyak manfaat, mulai dari akses informasi yang cepat hingga kemudahan membangun jaringan komunikasi. Namun, masalah muncul ketika pengguna kehilangan kendali dan menjadikan media sosial sebagai pusat kehidupan sosial mereka.
Karena itu, diperlukan kesadaran untuk menggunakan media sosial secara bijak. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menerapkan digital detox atau pembatasan waktu penggunaan gawai secara disiplin. Notifikasi yang tidak penting dapat dimatikan saat bersama keluarga atau teman.
Ruang-ruang interaksi seperti meja makan, ruang keluarga, dan kedai kopi perlu dikembalikan fungsinya sebagai tempat berbincang dan membangun hubungan antarmanusia.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang memperkuat hubungan sosial, bukan menggantikannya. Jika tidak digunakan secara bijak, media sosial berisiko melahirkan generasi yang sangat terhubung di dunia maya, tetapi semakin terasing di dunia nyata.