Fenomena Ribuan Ikan Mati di Mempawah, Kerugian Membengkak Akibat Penurunan pH Sungai
Maudy Asri Gita Utami June 11, 2026 06:30 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Fenomena kematian ikan secara massal kembali terjadi di kawasan budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) yang berada di sepanjang aliran Sungai Mempawah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis 11 Juni 2026. 

Peristiwa ini menimbulkan kerugian bagi para pembudidaya ikan dan memicu kekhawatiran masyarakat setempat terkait kondisi kualitas air sungai yang menjadi sumber utama kehidupan budidaya perikanan di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, kematian ikan diduga kuat berkaitan dengan perubahan kondisi perairan yang terjadi secara mendadak setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. 

Situasi ini terjadi ketika debit air Sungai Mempawah sedang mengalami penurunan cukup signifikan akibat musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Lapangan Keramba Jaring Apung Tambak Bemban, Andis, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, volume air sungai mengalami penyusutan karena minimnya pasokan air dari wilayah hulu. 

• Tingkatkan Pemahaman JKN, BPJS Kesehatan Gelar BPJS Goes to Campus di Poltekkes Kemenkes Pontianak

Kondisi tersebut menyebabkan daya dukung lingkungan perairan menjadi lebih rentan terhadap perubahan kualitas air.

Menurut Andis, hujan dengan intensitas tinggi yang turun secara tiba-tiba setelah periode kering cukup panjang memicu masuknya aliran air dari berbagai kawasan di sekitar sungai, seperti area hutan, parit perkebunan kelapa sawit, hingga saluran-saluran air lainnya. 

Aliran tersebut diduga membawa kandungan air dengan tingkat keasaman yang lebih tinggi ke badan sungai.

“Dalam beberapa hari sebelumnya debit air sungai memang menurun karena kondisi kemarau. Ketika hujan deras turun secara mendadak, air dari kawasan hutan, parit perkebunan, dan sejumlah saluran lainnya langsung mengalir ke sungai. Air tersebut diduga membawa unsur asam yang kemudian memengaruhi kualitas perairan,” ujarnya.

Ia menerangkan, masuknya air dengan tingkat keasaman yang tinggi menyebabkan nilai pH Sungai Mempawah mengalami penurunan. 

pH Air Berubah Drastis

Perubahan kondisi air yang berlangsung dalam waktu singkat itu membuat sebagian ikan mengalami stres berat hingga akhirnya tidak mampu bertahan hidup.

Andis menambahkan, penurunan pH air merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan ikan, terutama bagi spesies yang membutuhkan kadar oksigen terlarut tinggi dan kondisi perairan yang relatif stabil.

“Kami menduga kuat penurunan pH menjadi salah satu penyebab utama. Ketika tingkat keasaman meningkat, ikan akan mengalami stres. Jika perubahan kualitas air terjadi secara ekstrem dan mendadak, risiko kematian ikan menjadi jauh lebih besar,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak kejadian tersebut tidak dirasakan secara merata oleh seluruh jenis ikan yang dibudidayakan di keramba. 

Berdasarkan pemantauan sementara, ikan mas menjadi spesies yang paling banyak mengalami kematian dibandingkan jenis ikan lainnya.

• Dugaan Korupsi Dana Desa Lorong, Kaur Keuangan Jadi Tersangka dan Ditahan Kejari Sambas

Menurutnya, ikan mas memiliki kebutuhan lingkungan yang lebih sensitif terhadap perubahan pH dan kadar oksigen dibandingkan beberapa jenis ikan air tawar lainnya. Sementara itu, ikan nila dinilai memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik terhadap fluktuasi kualitas air.

“Tidak semua jenis ikan terdampak. Kematian paling banyak terjadi pada ikan mas karena spesies ini membutuhkan kadar oksigen dan pH yang relatif tinggi. Untuk ikan nila, daya tahannya lebih kuat sehingga tidak mengalami dampak separah ikan mas,” ungkapnya.

Andis juga meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat terkait dugaan seluruh ikan di keramba mengalami kematian massal. Ia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan.

“Kalau ada anggapan semua ikan, termasuk nila, ikut mati dalam jumlah besar, itu tidak benar. Berdasarkan pengamatan kami, kejadian ini lebih dominan menyerang ikan mas,” tegasnya.

Di sisi lain, perkembangan terbaru menunjukkan kondisi kualitas air Sungai Mempawah mulai berangsur membaik. Hasil pemantauan yang dilakukan di lokasi memperlihatkan nilai pH air mengalami peningkatan dibandingkan saat awal kejadian.

Saat ini, tingkat keasaman air tercatat mulai bergerak naik hingga berada di atas angka lima. Kondisi tersebut dinilai menjadi indikasi positif bahwa ekosistem perairan perlahan mulai pulih.

“Ketika dilakukan pengecekan terbaru, pH air sudah meningkat menjadi lebih dari lima. Ini menunjukkan kondisi sungai mulai membaik dan proses pemulihan kualitas air sedang berlangsung,” katanya.

Ia menilai hujan yang turun secara merata dan berkelanjutan justru memberikan dampak yang lebih baik terhadap keseimbangan ekosistem sungai dibandingkan hujan dengan intensitas sangat tinggi yang datang secara tiba-tiba setelah periode kemarau panjang.

Menurutnya, hujan ringan hingga sedang yang berlangsung secara konsisten mampu membantu menambah volume air sungai secara bertahap sehingga perubahan kualitas air tidak terjadi secara ekstrem. 

Sebaliknya, hujan lebat mendadak saat debit sungai sedang rendah berpotensi membawa air asam dalam jumlah besar ke badan sungai dan memicu gangguan terhadap kehidupan ikan budidaya.

“Yang paling baik sebenarnya hujan yang turun secara intens dan merata. Jika setelah kondisi kering panjang tiba-tiba turun hujan deras, maka air asam dari berbagai kawasan sekitar bisa langsung masuk ke sungai dalam jumlah besar. Situasi seperti itulah yang berpotensi memicu penurunan pH secara drastis dan berdampak pada ikan,” pungkasnya.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.