Oleh: Yohanes Darmansi, Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Budaya merupakan identitas yang melekat pada suatu masyarakat dan menjadi warisan berharga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Manggarai, budaya tidak hanya tercermin dalam upacara adat, bahasa daerah, atau kesenian tradisional, tetapi juga dalam nilai-nilai kehidupan seperti gotong royong, musyawarah, dan rasa kekeluargaan yang masih terjaga hingga saat ini.
Namun, di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat, budaya Manggarai menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi melalui media sosial telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.
Banyak anak muda yang lebih mengenal tren budaya populer dari luar daerah dibandingkan tradisi yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang sepenuhnya keliru. Keterbukaan terhadap perkembangan global merupakan bagian dari dinamika masyarakat modern. Namun, persoalan muncul ketika generasi muda mulai kehilangan ketertarikan terhadap bahasa daerah, adat istiadat, maupun kesenian tradisional yang menjadi bagian dari identitas mereka.
Baca juga: Mahasiswi Unika Ruteng Sebut Pendidikan Berkualitas Jadi Kunci Kemajuan Bangsa
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin berbagai warisan budaya Manggarai akan semakin terpinggirkan.
Padahal, budaya Manggarai memiliki nilai-nilai luhur yang tetap relevan dalam kehidupan saat ini. Tradisi gotong royong yang dikenal kuat dalam kehidupan masyarakat Manggarai mengajarkan pentingnya kebersamaan dan solidaritas sosial.
Demikian pula budaya musyawarah yang mengedepankan dialog dan kesepakatan bersama menjadi nilai yang sangat dibutuhkan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
Karena itu, upaya pelestarian budaya tidak boleh hanya dilakukan pada saat festival atau perayaan adat semata. Pelestarian budaya harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda.
Mereka perlu diberi ruang untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan budaya agar tidak hanya mengenal tradisi secara teori, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Dunia pendidikan juga memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal. Sekolah dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan budaya Manggarai melalui pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, maupun berbagai program yang mendorong siswa mencintai warisan budaya daerahnya.
Dengan demikian, budaya tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pelestarian budaya. Dukungan dalam bentuk program pembinaan, dokumentasi budaya, pemberdayaan pelaku seni, hingga promosi budaya lokal menjadi langkah penting untuk memastikan budaya Manggarai tetap lestari di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, masa depan budaya Manggarai sangat bergantung pada kesadaran masyarakatnya sendiri. Rasa bangga terhadap identitas budaya harus terus ditumbuhkan, terutama di kalangan generasi muda.
Menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi masa lalu, melainkan menjaga jati diri dan karakter masyarakat Manggarai agar tetap hidup dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman.