Omzet Anjlok 30 Persen, Pedagang Warteg Tak Berani Naikkan Harga, Kini Hadapi Pembeli yang Menawar
Rr Dewi Kartika H June 11, 2026 09:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, KEMBANGAN - Kenaikan harga sejumlah bahan pangan membuat pedagang warteg harus memutar otak agar tetap bisa mempertahankan pelanggan.

Salah satunya dirasakan Heni (45), pedagang Warteg Lurahe di Kembangan Utara, Kembangan, Jakarta Barat. 

Ia mengaku omzet warungnya turun hingga 30 persen sejak harga berbagai kebutuhan pokok merangkak naik.

"Omzet ya menurun sekarang. Menurunnya 30 persen ada," kata Heni saat ditemui, Kamis (12/6/2026).

Menurut Heni, sejumlah bahan pangan yang mengalami kenaikan harga antara lain beras, telur, cabai, hingga berbagai bumbu dapur.

Tak hanya bahan makanan, harga kebutuhan pendukung usaha seperti plastik kemasan dan kantong kresek juga ikut naik.

"Plastik-plastik juga. Yang plastik seperempatan, tengahan, kresek-kresek semua pada naik," kata dia.

Tak Berani Naikkan Harga

Kondisi tersebut membuat Heni terpaksa menyiasati usahanya dengan mengurangi porsi makanan yang dijual. 

Ia memilih langkah tersebut ketimbang menaikkan harga menu karena khawatir pelanggan akan beralih ke tempat lain.

"Paling mengurangi porsi. Kalau buat dinaikin kita enggak bisa. Takutnya pelanggan pada kabur," ujarnya.

Pengurangan porsi dilakukan pada nasi maupun lauk yang disajikan kepada pembeli.

Meski demikian, respons pelanggan beragam. 

Sebagian memahami kondisi yang dialami pedagang, namun tidak sedikit yang mempertanyakan perubahan porsi makanan.

"Ada yang mengerti, ada yang enggak," ucap Heni.

Pelanggan Lebih Hemat

Ia juga melihat perubahan perilaku pelanggan dalam beberapa waktu terakhir. 

Jika sebelumnya pembeli langsung memilih makanan, kini banyak yang lebih dahulu menanyakan harga sebelum membeli.

"Iya, nanya dulu. Yang biasanya per porsi gitu, sekarang nanya, 'Perkedel berapa?' begitu," katanya.

Bahkan, menurut Heni, ada sebagian kecil pelanggan yang mencoba menawar harga makanan.

"Masih ada yang nawar. Mungkin karena keadaannya lagi sulit," ujar dia.

Selain itu, beberapa menu juga sempat tidak dijual karena harga bahan bakunya melonjak tinggi. Salah satunya jengkol.

"Ada, kayak jengkol. Yang biasa Rp25 ribu sampai Rp30 ribu, sekarang Rp40 ribu. Kemarin-kemarin sampai Rp50 ribu, enggak berani jual," kata Heni.

Kenaikan harga bahan pokok juga berdampak pada jumlah masakan yang disiapkan setiap hari. 

Jika sebelumnya warungnya bisa memasak ulang setelah jam makan siang karena dagangan habis, kini kondisi tersebut jarang terjadi.

"Biasanya jam 1 siang habis, terus masak lagi sayuran. Sekarang paling dipanasin terus dihabisin aja," ujarnya.

Heni berharap harga kebutuhan pokok kembali stabil agar daya beli masyarakat meningkat dan usaha kecil seperti warteg bisa kembali berjalan normal.

"Harapannya ya normal kembali. Bahan pokok sama sayuran-sayuran normal lagi, harga standar seperti dulu. Beras juga jangan semakin naik," katanya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.