Kisah Lonceng STOVIA, Saksi Bisu Lahirnya Pergerakan Nasional
Alfa Pratomo June 11, 2026 06:34 PM

Lonceng STOVIA menjadi saksi bisu lahirnya Pergerakan Nasional. Di STOVIA inilah lahir Budi Utomo.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

IntisariOnline.com- Sejarah Indonesia mencatat, pada awal abad ke-19 berdiri School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sekolah pendidikan dokter Hindia Belanda legendaris di Batavia. Sekolah ini didirikan oleh pemerintah kolonial.

STOVIA tidak hanya melahirkan dokter-dokter pertama di Indonesia, tetapi juga menjadi "rahim" bagi pergerakan nasional yang memicu kesadaran berbangsa. Pada1902, STOVIA pindah ke gedung baru di Jalan Hospitaalweg, sekarang Jl. Abdul Rahman Saleh No. 26, di mana sekarang gedungnya menjadi Museum Kebangkitan Nasional.

Setelah sekian lama hanya menerima siswa laki-laki, STOVIA akhirnya mengizinkan perempuan untuk mendaftar. Marie Thomas masuk pada tahun itu dan lulus sebagai dokter wanita pertama di Indonesia pada 1922.

Di Museum Kebangkitan Nasional, kita masih bisa melihat benda-beda peninggalan yang jadi saksi bisu rutinitas STOVIA. Salah satunya adalah lonceng yang kerap terlewat.

Lonceng yang terpasang di dekat ruang yang dulunya diapakai di ruang pengajar dan juga direktur STOVIA itu bukan lonceng biasa.Jika diperhatikan ada papan informasi kecil di sebelah kiri lonceng.

Di situ tertulis LONCENG STOVIA, pengatur aktivitas para pelajar. Lonceng ini memiliki fungsi utama untuk mengatur ritme hidup pelajar STOVIA.

Pada masa operasionalnya sebagai sekolah dokter di awal abad ke-20, gedung ini menerapkan disiplin yang sangat ketat layaknya asrama militer. Karena jam tangan belum menjadi barang yang umum dimiliki oleh semua pelajar kala itu, lonceng inilah yang menjadi jam dinding utama bagi seluruh penghuni asrama.

Bunyi dentang lonceng STOVIA diatur untuk menandai pergantian aktivitas sehari-hari para siswa.

Berbunyi pada saat tertentu

Lonceng STOVIA akan dibunyikan psebagai penanda waktu tertentu. Setidaknya lima kali lonceng itu berdentang.

Pertama saat waktu bangun pagi yang menandakan seluruh siswa harus segera bangun dan bersiap. Kedua, saat makan untuk memanggil para pelajar berkumpul di ruang makan (mensa).Ketiga,saat jam masuk kelas dan praktikum yang menandakan dimulainya jam pelajaran kedokteran. Keempat, saat jam belajar mandiri yang menandakan waktu wajib belajar di malam hari. Kelima, saat jam malam atau istirahat yang menandakan bahwa lampu asrama harus segera dimatikan dan seluruh siswa wajib tidur.

Lonceng STOVIA ini memiliki karakteristik fisik dan desain unik.Dari sisi material, lonceng STOVIA terbuat dari logam tebal (kemungkinan perunggu atau besi tuang) yang menghasilkan bunyi dentang lonceng nyaring sehingga bisa menggema ke seluruh koridor dan halaman dalam gedung STOVIA yang luas.

Lonceng STOVIA memiliki penyangga (bracket) dan tergantung pada struktur penyangga besi tempa bergaya klasik Eropa dengan aksen lengkungan dekoratif (scrollwork) yang kokoh menempel pada dinding semen putih khas arsitektur kolonial. Sedangkan di bagian tali pemukul, tepatnya pada bagian bawah bandul (bandul dalam/clapper), terdapat untaian tali atau kawat.

Dari tali ini petugas atau piket asrama mengayunkannya agar pemukul membuat agar lonceng berbunyi. Lonceng STOVIA ini menjadi saksi bisu lahirnya Pergerakan Nasional.

Lebih dari sekadar alat penunjuk waktu, lonceng ini adalah saksi bisu berkumpulnya para pemuda cerdas dari berbagai penjuru Nusantara. Seperti Soetomo, Gunawan Mangunkusumo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan lain sebagainya.

Bunyi lonceng ini yang setiap hari didengar oleh para mahasiswa tersebut saat mereka berjalan menyusuri lorong yang sama, sebelum akhirnya mereka mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Ini adalah sebuah organisasi yang menjadi pelopor masa Kebangkitan Nasional Indonesia.

Saat ini, lonceng tersebut dipertahankan di posisi aslinya di Museum Kebangkitan Nasional untuk memberikan atmosfer autentik bagi para pengunjung agar bisa membayangkan bagaimana kedisiplinan dan kehidupan para calon dokter pergerakan zaman dulu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.