Harga HP di Jambi Naik hingga Rp500 Ribu, Toko-Toko di Sipin Ungkap Fakta-fakta
asto s June 11, 2026 07:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Harga HP di Jambi naik Rp100 ribu hingga Rp500 ribu, Kamis (11/6/2026).

Kenaikan harga HP (ponsel) imbas penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang menembus angka Rp18.000.

Sejumlah toko ponsel mengaku harus menyesuaikan harga jual, dengan kenaikan yang bervariasi di hampir seluruh merek dan segmen harga.

Pantauan Tribunjambi.com di deretan toko ponsel di Jalan Kolonel Abunjani, Kelurahan Selamat, Kecamatan Telanaipura, Kamis (11/6/2026), menunjukkan aktivitas jual beli masih berlangsung. 

Meski demikian, kenaikan harga membuat konsumen lebih selektif sebelum memutuskan pembelian.

Pembeli tampak membandingkan spesifikasi dan harga dari satu toko ke toko lain. 

Beberapa di antaranya menyambangi sejumlah gerai sekaligus, seperti AK Phone, iBox, Brother Ponsel, Vivo Store, hingga toko ponsel lain di kawasan tersebut.

Kenaikan Harga Capai Rp500 Ribu per Unit

Karyawan AK Phone, Lisa Prasasti (28), mengungkapkan kenaikan harga ponsel sudah terjadi sejak Februari 2026. 

Menurutnya, hampir semua merek terdampak, terutama ponsel kelas menengah ke bawah.

“Untuk ponsel di bawah Rp5 juta, rata-rata naik Rp100 ribu sampai Rp300 ribu per unit. Sementara yang di atas Rp5 juta bisa naik sampai Rp500 ribu,” ujar Lisa.

Kenaikan harga tidak terjadi secara serentak. Pada beberapa merek, perubahan harga bahkan bisa terjadi dalam hitungan hari.

“Ada yang seminggu naik, ada yang dua hari, ada juga yang tiga hari. Tergantung brand-nya,” katanya.

Lisa menuturkan, kenaikan harga berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat. 

Mayoritas konsumen sebelumnya mencari ponsel dengan harga di bawah Rp1,5 juta, yang umumnya sudah mendapatkan RAM 4 GB.

“Sekarang RAM 4 GB paling murah sudah di Rp1,7 juta sampai Rp1,8 juta,” tuturnya.

Dampaknya, jumlah penjualan harian ikut menurun. 

Jika sebelumnya AK Phone mampu menjual lima hingga sepuluh unit ponsel per hari, kini penjualan turun menjadi dua hingga lima unit.

Meski begitu, lonjakan pembeli masih terjadi pada momen tertentu, seperti saat gajian. 

Pada periode tersebut, jumlah konsumen bisa mencapai 20 orang dalam sehari.

Terkait metode pembayaran, Lisa menyebut transaksi tunai dan kredit masih relatif seimbang. 

Ponsel di kisaran Rp2 juta umumnya dibeli secara tunai, sementara ponsel di atas Rp5 juta lebih banyak dibeli dengan sistem kredit.

Kenaikan Berbagai Merek

Hal senada disampaikan PIC Brother Ponsel, Iwan (34). Ia menyebut kenaikan harga ponsel terjadi hampir merata di seluruh merek sejak sekitar tiga bulan terakhir.

Sebagai contoh, Oppo A6X yang pada Februari 2026 dijual seharga Rp1,6 juta, kini dibanderol Rp2,3 juta. Samsung Galaxy A07 yang sebelumnya Rp1.399.000, kini naik menjadi Rp1.799.000.

“Kalau Infinix Smart 20, awalnya Rp1.399.000, sekarang sudah Rp1.499.000,” ujar Iwan.

Dia menjelaskan, kenaikan harga berlangsung bertahap. 

Dalam sepekan, harga bisa naik sekitar Rp50 ribu, dan dalam sebulan bisa mencapai Rp100 ribu.

Dampak Perang Iran dan Penguatan Dolar

Menurut Iwan, kenaikan harga ponsel tidak lepas dari situasi global, termasuk konflik di Iran yang memengaruhi jalur distribusi dan biaya impor barang elektronik.

“Impor jadi sulit dan biaya masuk juga naik. Ditambah sekarang isu dolar yang terus menguat,” katanya.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada volume penjualan. 

Jika sebelumnya Brother Ponsel mampu menjual sekitar 100 unit ponsel per bulan, kini penjualan turun menjadi 60 hingga 70 unit.

Untuk metode pembayaran, Iwan menyebut toko miliknya melayani transaksi tunai dan kredit dengan menggandeng sejumlah perusahaan pembiayaan. 
Namun, tren pembelian kredit kini meningkat.

“Dulu dari 10 konsumen, tujuh beli cash. Sekarang bisa empat sampai lima orang yang kredit,” jelasnya.

Harga RAM dan Chipset Ikut Menyumbang Kenaikan

Sales Leader Vivo Store Jambi, Ari Ramanda (31), menambahkan  kenaikan harga ponsel juga dipicu meningkatnya harga komponen pendukung seperti RAM dan chipset.

Lonjakan permintaan dari industri kecerdasan buatan turut memengaruhi ketersediaan komponen tersebut di pasar global.

“Perusahaan AI banyak memborong chipset dan RAM, jadi harga komponen ikut naik,” ujarnya.

Akibatnya, harga ponsel mengalami kenaikan yang cukup signifikan, berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp900 ribu per unit.

“Yang dulu Rp2 juta, sekarang bisa jadi Rp3 jutaan,” kata Ari.

Dia memperkirakan daya beli konsumen di tokonya turun sekitar 20 persen. 
Meski demikian, transaksi tetap berjalan, dengan metode pembayaran kredit lebih dominan dibanding tunai.

“Sekarang lebih banyak yang kredit. Dari 10 pembeli, mungkin enam kredit dan empat cash,” jelasnya.

Ari berharap harga komponen segera stabil dan nilai tukar rupiah kembali menguat agar harga ponsel bisa kembali normal. (Tribun Jambi/Asto)

Baca juga: Porsi Makanan MBG Air Hangat Dikeluhkan Wali Murid

Baca juga: Sepekan Hilang, Pemancing di Sungai Batang Hari Belum Ditemukan, Warga Diminta Bantu Informasi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.