TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Di tengah meningkatnya biaya produksi yang dipicu kenaikan harga bahan kemasan dan dampak ketidakpastian ekonomi global, pelaku UMKM di Kabupaten Kediri terus dituntut berinovasi agar mampu bertahan dan berkembang.
Salah satu inovasi terbaru datang dari GTT (Gudange Tahu Takwa) Kediri yang meluncurkan produk Gethuk Pisang Dadu. Olahan khas Kediri ini dikemas dengan konsep lebih modern dan memiliki daya tahan lebih lama dibanding gethuk pisang konvensional.
Pemilik GTT Kediri, Gatot Siswanto mengatakan inovasi tersebut lahir dari banyaknya permintaan konsumen luar daerah yang ingin membawa gethuk pisang sebagai oleh-oleh. Namun selama ini produk yang dibungkus daun memiliki keterbatasan umur simpan.
Menurut pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Toyoresmi Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri itu, gethuk pisang tradisional sebenarnya sudah memiliki pasar yang kuat dan cita rasa yang khas.
Baca juga: 3 Santri dari Kediri Terseret Ombak di Pantai Pangi Blitar
Namun ketika dibawa ke luar kota, produk tersebut sering mengalami perubahan kualitas dalam beberapa hari karena pengaruh pembungkus daun pisang.
"Adapun gethuk pisang daun itu sejak dulu memang produknya sudah bagus. Produk tersebut masih ada kelemahan apabila dibawa ke luar kota," ujar Gatot saat ditemui di pusat oleh-oleh GTT Kediri, Kamis (11/6/2026) sore.
Gatot menjelaskan perjalanan gethuk pisang khas Kediri mengalami berbagai perkembangan. Awalnya produk tersebut dijual dalam bentuk gunungan di pasar tradisional, kemudian berkembang menjadi bentuk lontong yang dibungkus daun agar lebih praktis dibawa konsumen.
Meski demikian, persoalan daya tahan produk masih menjadi tantangan utama. Berdasarkan pengalaman konsumen, gethuk pisang yang dibungkus daun biasanya mulai mengalami perubahan rasa setelah dua hingga tiga hari penyimpanan.
"Karena daunnya yang bisa lembab akhirnya ada jamur dan mengenai di produknya. Sebetulnya bukan karena makanannya basi, tetapi terkontaminasi daun sehingga mempengaruhi rasa," jelasnya.
Berangkat dari persoalan tersebut, GTT kemudian melakukan berbagai percobaan hingga akhirnya menemukan formula Gethuk Pisang Dadu yang diklaim mampu bertahan jauh lebih lama.
Produk tersebut dikemas menggunakan baking paper dan plastik kedap udara setelah melalui proses produksi yang higienis. Hasilnya, umur simpan produk meningkat signifikan tanpa mengubah cita rasa khas gethuk pisang.
"Alhamdulillah gethuk pisang dadu ini sampai kami amati dua minggu tidak ada perubahan rasa. Target kami kalau bisa sampai satu bulan produk itu tetap aman," ungkap Gatot.
Meski baru dipasarkan sekitar tiga minggu terakhir, respons konsumen disebut sangat positif. Bahkan permintaan mulai berdatangan dari luar daerah yang selama ini terkendala persoalan ketahanan produk.
Saat ini pemasaran masih dipusatkan di outlet GTT Kediri yang berada di Jalan Pamenang Nomor 1, Desa Toyoresmi Kecamatan Ngasem. Namun Gatot optimistis permintaan akan terus meningkat, terutama menjelang musim liburan dan hari raya tahun depan.
Selain menawarkan kemasan baru, GTT juga menghadirkan empat varian kemasan yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, mulai dari kemasan praktis hingga kemasan khusus untuk souvenir dan hantaran.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai dari rp 9.000 hingga rp 18.000 per kemasan sehingga dapat menjangkau berbagai segmen pasar.
Di balik inovasi tersebut, Gatot mengakui pelaku UMKM saat ini menghadapi tantangan cukup berat akibat kondisi ekonomi global yang berdampak pada kenaikan harga berbagai bahan pendukung produksi.
Baca juga: 20 Sepeda Motor Terjaring Razia karena Belum Membayar Pajak Tahunan di Tulungagung
Menurutnya, salah satu komponen yang mengalami kenaikan signifikan adalah bahan kemasan plastik berkualitas tinggi yang banyak digunakan UMKM makanan untuk menjaga mutu produk.
"Yang jelas mempengaruhi dampak pelaku UMKM, terutama di bahan baku yang impor. Plastik yang kualitasnya bagus itu melonjak hampir 100 persen. Dulu beli sekitar rp 700 per pack, sekarang sudah sekitar rp 1.250 ribu," katanya.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi pelaku usaha untuk berhenti berinovasi. Sebaliknya, tantangan ekonomi justru harus dijawab dengan kreativitas dan peningkatan kualitas produk.
Untuk menjaga kualitas gethuk pisang, GTT tetap mempertahankan penggunaan pisang raja nangka sebagai bahan utama yang dipadukan dengan pisang lain untuk menghasilkan cita rasa khas.
"Kita tetap mempertahankan resep lama. Pisang raja nangka tetap menjadi bahan utama, kemudian dipadukan dengan pisang lain agar rasa gethuknya lebih seimbang," tuturnya.
Saat ini kebutuhan bahan baku pisang untuk produksi mencapai 45 hingga 60 kilogram per hari. Sebagian pasokan diperoleh dari petani di kawasan pegunungan Kabupaten Kediri seperti wilayah Mojo yang selama ini menjadi sentra penghasil pisang.
Melalui inovasi Gethuk Pisang Dadu tersebut, Gatot berharap kuliner khas Kediri tidak hanya mampu bertahan menghadapi tantangan zaman, tetapi juga semakin dikenal sebagai oleh-oleh unggulan yang dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Adapun, proses pembuatan Gethuk Pisang Dadu diawali dengan pemilihan pisang raja nangka yang telah matang tua. Pisang kemudian dikupas dan dikukus selama kurang lebih lima jam hingga menghasilkan warna merah tua yang menjadi ciri khas gethuk pisang Kediri.
Setelah matang, pisang diangkat dan ditimbang sesuai komposisi yang telah ditentukan sebelum dicampur dengan gula dan keju sebagai penambah cita rasa.
Adonan kemudian diaduk hingga merata sebelum dipindahkan ke dalam loyang cetakan berbentuk kotak-kotak. Setelah proses pencetakan selesai, adonan gethuk pisang menjalani proses pengovenan selama sekitar 10 menit untuk memperoleh tekstur yang diinginkan.
Selanjutnya produk masuk ke tahap pengemasan, mulai dari pengepresan menggunakan kemasan kedap udara hingga pengepakan sesuai ukuran yang dipasarkan.
Nama Gethuk Pisang Dadu sendiri berasal dari bentuk potongan produknya yang menyerupai dadu. Gatot menjelaskan, cetakan yang digunakan berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2,8 sentimeter di setiap sisinya sehingga menghasilkan potongan-potongan kecil berbentuk kubus.
Produk ini dipasarkan dalam beberapa pilihan kemasan, mulai ukuran kecil berisi lima potong dadu, kemasan ekonomis berisi sepuluh potong atau dua baris dadu, hingga kemasan premium dan tas jinjing untuk suvenir yang berisi enam belas potong gethuk pisang dadu.
"Waktu lihat cetakannya seperti dadu akhirnya saya kasih nama itu," tandas pria yang juga menjabat sebagai Ketua UMKM Kelud Mandiri ini.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)