Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pertashop di Gunungkidul mengeluhkan penjualan anjlok pascakenaikan harga Pertamax. Harga Pertamax sebelumnya Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 pada Rabu (10/6/2026).
Pemilik Pertashop Gunungkidul, Cokro mengatakan penjualan Pertamax per hari biasanya sekitar 800 hingga 1.000 liter. Namun setelah kenaikan harga Pertamax, penjualannya anjlok menjadi 213 liter.
"Biasanya 800-1000 liter per hari, kemarin itu cuma 213 liter. Dan itu (penurunan penjualan) dirasakan semua pengelola Pertashop. Kita kan ada grup pengelola Pertashop di DIY, itu biasanya tebus Pertamax itu rata-rata per hari 85-110 ribu liter. Tadi saya lihat di grup tebus cuma 33 ribu liter. Turunnya drastis sekali," katanya, Kamis (11/6/2026).
Ia mengeluh kesulitan menjual Pertamax lantaran disparitas harga yang tinggi dengan Pertalite. Sebelum harga Pertamax naik, Pertashop menjadi pilihan masyarakat lantaran selisih harga Rp 2.000 per liter dengan Pertalite. Pun masyarakat mendapatkan BBM dengan kualitas yang lebih baik.
Keberadaan pengecer pun tidak mengancam Pertashop. Hal itu karena masyarakat beranggapan harga Pertalite di eceran dengan Pertamax di Pertashop sama. Takaranan BBM pun lebih dapat dipertanggungjawabkan jika membeli di Pertashop.
"Masyarakat di desa itu antusias dengan adanya Pertashop. Waktu selisih Rp 2.000 itu mayoritas masyarakat belu di Pertashop. Terus pengecer (Pertamax) itu juga kulakan di Pertashop, karena waktu itu Pertalite agak susah. Sekarang kan selisihnya Rp 6.000 (dibanding Pertalite), terus gimana mau jual kita," terangnya.
Ia pesimistis bisnis Pertashopnya dapat bertahan lama. Dengan disparitas harga yang tinggi, ia memperkirakan bisnisnya hanya bertahan dua hingga tiga bulan.
"Siapa yang mau bertahan di Pertashop kalau jual segitu. Teman-teman itu juga mengeluh penurunanya drastis, ada yang tadinya 400 liter jadi 150 liter. Padahal untuk operasional saja, paling tidak Pertashop itu harus menjual sekitar 200 liter per hari. Baru opersionalnya saja lho," lanjutnya.
Dalam waktu dekat, ia dan pengelola Pertashop di DIY dan Jawa Tengah akan mengadakan pertemuan untuk membahas masa depan usaha.
"Tapi baru minggu depan, mau ada diskusi terkait Pertashop seperti apa langkah ke depannya," imbuhnya. (maw)