Margiyono Nilai Pertamax Naik Dipicu Harga Minyak Dunia dan Tekanan Dolar, Tidak Berdampak Inflasi
Junisah June 11, 2026 07:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Margiyono, menilai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya pertamax, merupakan konsekuensi logis dari kenaikan harga minyak dunia yang dipengaruhi gangguan pasokan dan dinamika pasar global.

Ia mengatakan, harga minyak dunia saat ini meningkat akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz. Setiap kali terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah, harga minyak cenderung naik karena jalur distribusi dan transportasi minyak yang melewati kawasan tersebut sangat penting bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

"Nah, setiap kali terjadi ekskalasi konflik yang ada di Timur Tengah, itu pada saat itu pula harga minyak dunia itu meningkat. Kenapa ya? Karena dalam hal ini adalah distribusi atau transportasi minyak dari selat itu yang banyak dinikmati oleh negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, itu adalah berasal dari selat itu. Jadi kalau gangguannya meningkat atau ekskalasinya meningkat, ya harganya meningkat," katanya.

Margiyono menegaskan, kenaikan harga minyak dunia otomatis berdampak pada kenaikan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Dikarenakan harga BBM nonsubsidi sangat bergantung pada mekanisme pasar.

"Kalau harganya meningkat, maka konsekuensi logis atas kenaikan harga minyak dunia. Maka ya terjadi kenaikan harga minyak dalam negeri dalam hal ini adalah untuk BBM nonsubsidi terutama adalah pertamax. Jadi itulah kenaikannya seperti itu," ujarnya.

Baca juga: Harga Pertamax Naik jadi Rp17.000, Berapa Tiket Terbaru Speedboat Nunukan-Tarakan?

Menurut Margiyono, mekanisme harga bukan semata-mata kehendak pemerintah, melainkan dipengaruhi kekuatan permintaan dan penawaran. Ketika pasokan menurun sementara permintaan relatif tetap, harga akan meningkat.

"Tentu mekanisme harga ini adalah bukan maunya pemerintah, bukan maunya siapapun, tetapi ini adalah memang ada invisible hand atau ada tangan yang tidak kentara yang menggerakkan itu. Nah, tangan yang tidak kentara itu ya kekuatan mekanisme demand dengan supply yang mendorong permintaan minyak itu bersifat konstan, sebutlah dalam posisi pesimistis begitu. Permintaan minyak itu adalah konstan, sementara supply-nya menurun," jelasnya.

Dikatakan Margiyono, jika supply-nya menurun, ya harganya pasti akan meningkat. Sehingga itu yang dimaksud olehnya sebagai konsekuensi logis. Ia menilai, kenaikan harga minyak berpotensi menaikkan biaya transportasi nasional. Namun pemerintah disebut berhati-hati agar dampaknya tidak memicu inflasi lebih luas.

"Kalau kita membahas ini lebih jauh, atas dasar kenaikan harga minyak itu mestinya dampaknya adalah akan menaikkan biaya transportasi secara nasional. Tetapi nampaknya pemerintah juga sangat berhati-hati dalam upaya untuk mengelola dampak dari kenaikan harga terhadap perekonomian secara umum," katanya.

" Karena pada saat ini kan pemerintah juga menjaga stabilitas harga atau tingkat inflasi. Demikian juga pemerintah menjaga tugas terjadi akselerasi pertumbuhan," lanjut Margiyono.

Menurut dia, menjaga stabilitas harga merupakan syarat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Jadi di tengah upaya untuk mendorong pertumbuhan melalui penciptaan stabilitas, maka stabilitas harga itu adalah menjadi sesuatu yang sifatnya adalah mutlak," ujarnya.

Baca juga: Masyarakat Kaltara Jangan Asal Beralih dari Pertamax ke BBM Subsidi, Pahami Dampak untuk Kendaraan

Margiyono juga menyoroti selisih harga Pertamax dan Pertalite yang dinilainya cukup signifikan.

"Karena itu kalau kita mengaruh, kita masuk kepada analisa harga BPM tadi, harga BPM Pirtamak itu memang kalau ditarakan itu selisihnya ya sekitar saya baca-baca itu Rp12.000, tapi kalau secara nasional itu hampir Rp16.000 selisihnya hampir di atas Rp4.000, selisihnya seperti itu," katanya.

Menurutnya, perbedaan harga tersebut memengaruhi keputusan konsumen berdasarkan pertimbangan ekonomi.
Menurutnyq,  memang perbedaannya lumayan signifikan antara harga Pertamax  dengan harga Pertalite. 

"Jika harga turun maka permintaan naik. Sementara jika harga naik maka permintaan turun," tambahnya.

Margiyono membagi konsumen Pertamax menjadi dua kelompok, yakni pembeli permanen dan non-permanen. Pembeli permanen umumnya berasal dari kelompok menengah ke atas yang mempertimbangkan performa kendaraan dan faktor sosial.

Pembeli yang sifatnya permanen itu lanjutnya,  memang mereka yang berada di kelas atas atau kelas menengah ke atas dengan pertimbangan yaitu performa, dengan pertimbangan yaitu pertimbangan sosial.

Ia menilai, konsumen kelas menengah ke atas cenderung memilih Pertamax karena tidak perlu mengantre lama seperti Pertalite.

"Karena kenapa saya mengenai pertimbangan sosial? Kalau membeli Pertamina itu kan tidak antri seperti pertalite. Bagi mereka yang memiliki kelas sosial ekonomi yang tinggi tentu waktunya menjadi sangat berharga," ujarnya.

"Daripada iya membeli dengan harus antri, harus menunggu lama. Maka ya jenderal membeli Pertamax yang pelayanannya lebih cepat dengan dampak atau kualitas terhadap mesin kendaraan juga mungkin lebih baik," tambah Margiyono.

SPBU di Tarakan 11062026
PEMBELIAN BBM DI SPBU - Aktivitas pembelian BBM pertalite dan pertamax di SPBU Kelurahan Gunung Lingkas Kota Tarakan

Ia juga menilai isu negatif yang sempat muncul terkait Pertamax sudah mulai dilupakan konsumen. Meskipun beberapa waktu yang lalu pernah muncul yaitu isu yang tidak sedap terhadap Pertamax.  Tetapi nampaknya isu itu saat ini sudah mulai dilupakan oleh konsumen dan konsumen mulai percaya lagi kepada Pertamax.

Menurut Margiyono, kenaikan  per liter mungkin terasa berat bagi kelompok bawah, tetapi tidak signifikan bagi kelompok berpenghasilan tinggi.

"Saya menduga bahwa mereka yang membeli Pertamax itu adalah meskipun terjadi kenaikan. Itu menjadi kenaikan yang bagi orang kelompok bawah itu ya memang sangat tinggi. Tetapi bagi kelompok orang kaya ya lewat saja," ujarnya.

Karena itu, ia menilai kenaikan harga pertamax tidak akan berdampak signifikan terhadap inflasi maupun pertumbuhan ekonomi.

"Jadi artinya menurut saya, saya masih yakin bahwa kenaikan harga Pertamax itu adalah tidak memiliki dampak signifikan kepada upaya penciptaan stabilitas harga melalui penciptaan stabilitas ekonomi inflasi dan juga tidak akan mempengaruhi potensi akselerasi dari pertumbuhan," katanya.

Margiyono mengakui ada kemungkinan sebagian konsumen beralih dari Pertamax ke Pertalite, tetapi persentasenya diperkirakan tidak besar.

"Ya mungkin ada saja, tetapi saya percaya presentasinya kalau kita menggunakan analisanya adalah analisa tadi pertimbangan ekonomi karena tidak mau mengantri cukup lama, pertimbangan performa kendaraan, terus performa termasuk peraturan tertentu karena mobil bejabat atau apakan harus membeli Pirtamak," jelasnya.

Sehingga menurutnya adalah ada tetapi tidak terlalu besar karena segmentasinya selama ini sudah ada dan kelas itu adalah kelas yang memang sangat sadar dengan kelas sosialnya.

Selain kenaikan harga minyak dunia, Margiyono menyebut pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga ikut mendorong kenaikan biaya impor BBM.

Menaikan ini tentu bukan hanya kenaikan harga termasuk kenaikan harga BBM tapi juga termasuk kenaikan harga nilai tukar dolar terhadap rupiah.

"Jadi pada saat rupiah mengalami tekanan yang sangat kuat sementara dolar mengalami pengantar yang sangat tinggi maka impor kita itu ya mengalami dua kali kenaikan satu adalah kenaikan karena nilai tukar dolar yang lebih tinggi atau rupiah yang lebih lemah dan yang kedua adalah oleh karena kenaikan harga minyak dunia sendiri jadi harga minyak dunianya naik, dolarnya juga naik jadi terjadi kenaikan," jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat pemerintah sulit menghindari penyesuaian harga sesuai pasar global. "Karena itu, pemerintah tidak bisa menghindarkan diri dari upaya untuk mengikuti pola harga di pasaran dunia atau dalam konteks nasional," pungkasnya. 

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.