Elza Syarif Bongkar Peran Kepala BGN di Kasus Dugaan Korupsi Mega Proyek MBG
Noval Andriansyah June 11, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Sengkarut dugaan mega korupsi Proyek Strategis Nasional ( PSN ) Makan Bergizi Gratis ( MBG ) memasuki babak baru yang kian memanas. 

Baca juga: Demi Bongkar Mega Korupsi MBG, Eks Waka BGN Siap Mati, Ogah Jadi Kambing Hitam

Kotak pandora yang selama ini tertutup rapat perlahan mulai retak setelah tim kuasa hukum mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional ( BGN ), Sony Sonjaya, secara blak-blakan menyeret nama pucuk pimpinan lembaga tersebut ke dalam pusaran kasus.

Kuasa hukum Sony, Elza Syarief, mengungkapkan bahwa Kepala BGN, Nanik S. Deyang, masuk dalam daftar nama yang diduga kuat ikut terlibat dalam tata kelola rasuah proyek SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi).

Elza mengklaim Nanik memiliki peran spesifik, meski dirinya masih memilih menyimpan rapat detail peran tersebut untuk konsumsi penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung).

Indikasi keterlibatan ini salah satunya terendus lewat sebuah surat bernada satire yang diunggah Sony di akun Instagram pribadinya pada Rabu (3/6/2026), sesaat setelah pensiunan jenderal polisi bintang dua itu resmi mengenakan rompi tahanan.

Dalam unggahan itu, Sony menyampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Nanik atas sebuah 'hadiah indah'.

"Nanti akan saya sampaikan maksud surat itu karena saya sudah mengerti surat yang di-upload di Instagram Pak Sony. Jadi kalau nanti diperiksa penyidik, ya silakan beliau pertanggungjawabkan."

"Apakah satu di antara nama itu (Nanik) sudah disebut? Ya, sudah disebut oleh Pak Sony saat diperiksa," tegas Elza dalam program On Focus di YouTube Tribunnews.com, dikutip Rabu (10/6/2026).

Tangis dari Balik Rutan: "Bu Elza, Saya Siap Mati, Titip Anak Istri"

Di balik keberaniannya menyeret nama-nama besar, kondisi psikologis Sony Sonjaya dilaporkan berada dalam tekanan dan ketegangan yang teramat mendalam.

Elza menceritakan momen emosional yang menyayat hati saat dirinya mendampingi sang klien di dalam rutan. Sony tampaknya sadar betul konsekuensi berbahaya dari keputusannya menjadi justice collaborator (JC).

"Akhirnya Pak Sony bilang 'ya sudah, saya buka saja'. Terus dia diam, dan bilang gini: 'Bu Elza, saya siap mati'. Saya langsung potong, 'jangan Pak, jangan mati karena ucapan itu adalah doa'. Kemudian dia berbisik lagi, 'Bu Elza, saya pesan titip anak dan istri saya'. Saya yang dengar juga agak sedih," kenang Elza emosional.

Pasca-percakapan dramatis tersebut, Sony langsung memantapkan niatnya untuk "bernyanyi" di hadapan penyidik Jampidsus Kejagung.

Seluruh nama tokoh penting, yang kini totalnya mencapai 26 orang, beserta rekam jejak digital obrolan mengenai "jual beli titik" dapur MBG telah diserahkan.

Elza pun mewanti-wanti penyidik agar menjaga ketat ponsel milik Sony yang kini disita sebagai barang bukti kunci.

Istana Angkat Bicara

Nyanyian maut dari kubu Sony Sonjaya ini langsung memantik reaksi keras dari lingkaran Istana Kepresidenan.

Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menegaskan bahwa pemerintah menghormati penuh seluruh proses hukum yang kini sedang bergulir di Kejaksaan Agung.

Qodari memastikan tidak akan ada payung atau perlindungan politik apa pun bagi siapa saja pejabat yang terbukti mencuri uang rakyat, dari klaster mana pun mereka berasal.

Sikap tanpa kompromi ini merupakan manifestasi dari titah langsung Presiden Prabowo Subianto.

"Diproses saja secara hukum. Tidak peduli dari eksekutif, legislatif, atau yudikatif, kalau memang ada pelanggaran hukum ya harus diproses. Jadi tidak ada pengecualian seperti kata Bapak Presiden. Kali ini semuanya sama di mata hukum," cetus Qodari tegas di Auditorium Bakom, Jakarta Pusat.

Lebih lanjut, Qodari memaparkan bahwa Kejagung telah memetakan dua klaster besar dalam kasus MBG ini, yaitu klaster penggelembungan harga barang (markup) dan klaster makelar jual beli titik dapur gizi.

Istana menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk menyaring ke mana 26 nama yang disetorkan Sony akan diklasifikasikan.

Dengan lampu hijau yang dinyalakan langsung oleh Presiden Prabowo, bola panas mega korupsi ini dipastikan akan menggelinding liar tanpa pandang bulu, mengancam siapa saja yang berani bermain-main dengan hak gizi anak-anak Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.