Tips Mengatur Keuangan Saat Rupiah Melemah Dibagikan Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara
Sitti Nurmalasari June 11, 2026 07:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra), Syamsir Nur, membagikan tips mengatur keuangan saat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menembus kisaran Rp18 ribu per dolar, Kamis (11/6/2026).

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan harga berbagai barang dan jasa yang bergantung pada bahan baku maupun transaksi impor.

Syamsir Nur mengatakan sektor yang paling terdampak dari pelemahan rupiah adalah industri manufaktur. 

Pasalnya, sebagian besar industri pengolahan di Indonesia masih menggunakan bahan baku impor, sehingga biaya produksi akan meningkat ketika nilai tukar dolar menguat.

Baca juga: Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara: Kenaikan Pertamax Bisa Picu Kelangkaan Pertalite dan Bebani APBN

“Industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor akan merasakan dampak langsung karena biaya produksinya naik. Kenaikan itu kemudian berpotensi diteruskan ke harga produk di pasaran,” ujar Syamsir kepada awak media di Kendari.

Menurutnya, dampak serupa juga dapat terjadi pada sektor transportasi.

Industri penerbangan misalnya, berpeluang akan melakukan penyesuaian tarif karena biaya operasional, termasuk bahan bakar dan komponen tertentu.

Selain itu, melemahnya rupiah diperkirakan akan berimbas pada industri makanan dan minuman.

Kenaikan biaya produksi dapat memengaruhi harga jual produk, sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Baca juga: Tips Investasi Emas Dibagikan Pegadaian Kendari, Beli Saat Harga Turun, Jual Ketika Buyback Naik

Dampak melemahnya rupiah ini turut dirasakan kelompok masyarakat menengah yang selama ini menjadi penggerak konsumsi.

Ia memperkirakan dalam satu hingga dua pekan ke depan akan terlihat perubahan pola belanja masyarakat, termasuk tingkat kunjungan ke coffee shop.

“Saat ini sebagian masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Padahal, tabungan idealnya disiapkan sebagai dana cadangan untuk menghadapi kondisi darurat atau ketidakpastian ekonomi,” jelasnya.

Menghadapi situasi tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari ini menyarankan masyarakat mengatur pengeluaran berdasarkan skala prioritas dengan membedakan kebutuhan yang penting dan mendesak. 

Langkah tersebut dinilai penting agar kondisi keuangan tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi.

Baca juga: Tips Menabung Mulai dari Bulan Januari 2026, Resolusi Punya Tabungan dan Rencana Keuangan Matang

Ia juga mengimbau masyarakat mengurangi belanja konsumtif, terutama pengeluaran yang tidak menjadi kebutuhan utama. 

Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi berlangsung dalam waktu yang tidak singkat karena dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik.

“Fokuskan pengeluaran pada kebutuhan pokok dan tunda pembelian yang tidak mendesak. Dengan begitu, kondisi keuangan keluarga bisa lebih stabil menghadapi ketidakpastian ekonomi saat ini,” jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.