— Haul 400 Tahun Syekh Yusuf (1626-2026) - 2
Oleh: Machmud Suyuti
Katib Am Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy
TRIBUN-TIMUR.COM - Tajul Khalwatiy yang disematkan pada nama Syekh Yusuf adalah gelar kehormatan.
Tajul Khalwatiy berarti mahkotanya Tarekat Khalwatiyah.
Gelar tersebut diijazahkan kepada Syekh Yusuf dari gurunya yakni Syekh Ayyub Abu al-Barakat al-Khalwatiy (w. 1671).
Sedangkan kata al-Makassariy adalah nama asal daerah dan kelahirannya, yakni di Makassar.
Saat Syekh Yusuf lahir, daerah ini disebut Mangkasara sebagai kawasan kerajaan Gowa.
Syekh Yusuf lahir pada 03 Juli 1626 M/08 Syawal 1036 H wafat di Cafe Town Afrika Selatan pada 23 Mei 1699 M/22 Dzulhijjah 1110 H.
Dengan demikian usia Syekh Yusuf adalah 73 tahun yang saat ini memasuki haul 400 tahun berdasarkan putusan UNESCO Anniversary 2026.
Makna Mendalam Tajul Khalwatiy
Tajul Khalwatiy dalam teks asli literatur dari beragam karya Syekh Yusuf yang berbahasa Arab tertulis taj al-khalwatiy (Tudjimah: 31/7).
Taj artinya mahkota dan al-khalwatiy adalah nama tarekat Syekh Yusuf yakni tarekat Khalwatiyah.
Istilah Khalwatiyah berasal dari kata khalwat yang berarti berdiam diri, menyendiri, mengansingkan diri sambil bertafakkur sebagaimana halnya Nabi SAW sesaat sebelum menerima wahyu setiap harinya berkhalwat di Gua Hira.
Istilah khalwat kemudian menjadi nama tarekat Khalwatiyah dengan penambahan ya-nisbah, dinisbatkan kepada tokoh sufi yang konsen pada proses meditasi hati dengan cara pengasingan diri untuk mencari ketenangan batin dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Amalan khalwat yang konsen dilakukan Syekh Yusuf tersebut dinilai telah mencapai puncak maqam tertinggi di internal tarekat Khalwatiyah gurunya yakni Syekh Ayyub al-Khalwatiy mengijazahkan gelar kehormatan tersebut kepada Syekh Yusuf.
Pengijazahan gelar Tajul Khalwatiy kepada Syekh Yusuf menjadi pengabsahan baginya sebagai mursyid tarekat Khalwatiyah dan kepadanya berhak untuk membaiat sekaligus memindahkan amalan khalwat kepada murid-muidnya.
Makna Mendalam al-Makassariy
Term al-Makassariy dalam teks asli literatur karya Syekh Yusuf tertulis bahasa Arab al-Maqassariy (Tudjimah: 31/4) yang berarti pengkhususan.
Derivasi kata maqassar, maqashir, al-qashru bisa juga berarti sesuatu yang singkat.
Makna lainnya adalah istana dan sesuatu yang halus.
Dari term maqassari yang dieja menjadi makassar kemudian muncul beberapa perspektif tentang Syekh Yusuf.
Pertama, Syekh Yusuf kelahiran Makassar, tepatnya di istana kerajaan Gowa.
Kedua, Syekh Yusuf secara singkat atau tidak lama menetap di Makassar karena menjelang usia remaja sudah meninggalkan tempat kelahirannya menuju jazirah Arab.
Perspektif lain, maqassar yang berarti halus semakna dalam bahasa lokal mangkasara merujuk pada asal usul Syekh Yusuf yang serba misterius dan mistik sehingga masyhur di kalangan masyarakat bahwa turunan Syekh Yusuf sesuatu yang gaib dan ajaib (baca part-3 berikutnya)
Metode Khalwat Syekh Yusuf al-Makassariy
Tarekat Khalwatiyah memiliki perkembangan cukup pesat, salah satunya adalah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy di wilayah Nusantara berasal dari jalur sanad Syekh Ayyub al-Khalwatiy.
Sesuai dengan nama tarekatnya, maka ajaran dasar yang diembang Syekh Yusuf dalam mengajarkan amalan tarekat adalah berkhalwat, yakni kegiatan memisahkan diri di tempat sepi untuk bertafakur, berzikir, dan beribadah hanya kepada Allah SWT.
Metode khalwat menjadi awal asbab nuzul turunnya ayat pertama al-Qur’an, yakni iqra bismi rabbikal lazi khalaq.
Dengan kata lain bahwa berkhalwat adalah metode tarekat yang utama dan lebih awal diamalkan Nabi saw sebelum turunnnya wahyu pertama (QS. al-Alaq/96:1-5).
Setelah wahyu turun maka amaliah khalwat berupa suluk di tempat khusus yang dinamakan zawiyah diamalkan oleh sahabat Nabi SAW yang menetap di serambi mesjid, mereka dikenal dengan sahabat Ahlus Suffah.
Praktik khalwat di gua hira untuk sekarang ini tidak memungkinkan sehingga cukup berkhalwat di serambi masjid sebagaimana Ahlus Suffah atau di tempat khusus yang disebut zawiyah.
Di sinilah para murid-murid Syekh Yusuf fokus mengamalkan ajaran tarekatnya.
Untuk connecting dengan Allah SWT melalui zikir dimulai dengan tawassul kepada Nabi SAW, kepada para waliyullah dan masyaikh dalam silsilah sanad tarekat Khalwatiyah.
Inilah syarat utama berkhlawat dalam tarekat.
Ketentuan dalam bertarekat adalah seseorang harus mempunyai sanad (ikatan) yang muttasil dari guru-mursyidnya yang terus bersambung sampai kepada Nabi SAW.
Penisbatan atau pengakuan adanya hubungan seorang murid dengan guru mursyidnya hanya bisa melalui talqin baiat dari seorang guru yang telah memperoleh izin untuk memberikan ijazah yang sahih bersandar sampai kepada guru mursyid yang terus bersambung sampai kepada Nabi SAW.
Seseorang yang telah memperoleh talqin zikir yang juga lazimnya disebut baiat dari seorang guru-mursyid, berarti dia telah masuk silsilahnya.
Perumpamaan orang yang berzikir yang telah dibaiat oleh guru mursyid itu seperti lingkaran rantai yang saling bergandengan hingga induknya, yaitu Nabi SAW.
Jadi kalau induknya ditarik maka semua lingkaran yang terangkai akan ikut tertarik kemanapun arah tarikannya itu, dan karena silsilah para wali sampai kepada Nabi SAW itu bagaikan sebuah rangkaian lingkaran-lingkaran anak rantai yang saling berhubungan.
Berbeda dengan orang berzikir tapi belum berbaiat kepada seorang guru-mursyid, ibarat anak rantai yang terlepas dari rangkaiannya. Seumpama induk rantai itu di tarik, maka ia tidak akan ikut tertarik.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.