TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Euforia menyambut Piala Dunia 2026 mulai terasa di berbagai kalangan.
Turnamen yang akan mempertemukan tim-tim terbaik dunia itu menjadi perbincangan hangat, termasuk di kalangan para penggemar sepak bola di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Meski sejak lama dikenal sebagai pendukung Timnas Italia, Anggota DPRD Kutai Kartanegara Akbar Haka menilai peluang juara Piala Dunia 2026 saat ini lebih mengarah kepada Timnas Belanda.
Penilaiannya didasarkan pada kualitas skuad serta komposisi pemain yang dimiliki tim berjuluk De Oranje tersebut.
"Kalau saya, tim favorit sebenarnya dari dulu adalah Italia. Cuma kalau melihat peluang saat ini dan melihat berbagai prediksi yang beredar, sepertinya peluang lebih berpihak kepada Belanda. Komposisi pemain mereka tahun ini cukup bagus," ujarnya kepada TribunKaltim.co, Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Deretan Tokoh dan Pejabat di Kaltim yang Jagokan Timnas Jerman Juara Piala Dunia 2026
Menurut Akbar Haka, persaingan Piala Dunia 2026 akan berlangsung sangat ketat.
Selain faktor kualitas pemain dan strategi permainan, kondisi nonteknis juga diyakini akan berpengaruh terhadap performa tim-tim peserta.
Ia menilai tim-tim Eropa, termasuk Belanda, harus mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca di negara tuan rumah yang berbeda dibandingkan kompetisi yang biasa mereka jalani di Eropa.
"Saya melihat dari beberapa informasi dan pembahasan di media sosial, salah satu kendala tim-tim Eropa adalah faktor cuaca. Itu bisa menjadi tantangan yang harus mereka hadapi selama turnamen berlangsung," katanya.
Meski demikian, politisi PDI Perjuangan itu tetap optimistis Timnas Belanda memiliki peluang besar karena diperkuat banyak pemain berkualitas yang tampil konsisten di kompetisi elite Eropa.
Baca juga: Polda Kaltim AKBP Hendri Jagokan Jerman Juara Piala Dunia 2026, Sudah Mengidolakan Sejak 1986
Di balik prediksinya terhadap Timnas Belanda, Akbar Haka mengaku tetap memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Timnas Italia.
Baginya, Gli Azzurri merupakan bagian dari masa kecil generasi yang tumbuh menyaksikan kejayaan sepak bola Italia.
"Menurut saya Italia itu punya nilai historis tersendiri. Kami tumbuh dengan melihat pemain-pemain hebat seperti Roberto Baggio sampai Filippo Inzaghi. Mereka menjadi idola bagi banyak pecinta sepak bola pada masanya," ungkapnya.
Menurut Akbar, sepak bola Italia tidak hanya dikenal karena prestasi, tetapi juga karena karakter permainan yang disiplin, kuat secara taktik, dan melahirkan banyak legenda dunia.
Salah satu sosok pemain Italia yang paling membekas dalam ingatan Akbar Haka adalah Filippo Inzaghi.
Legenda AC Milan dan Timnas Italia dianggap sebagai contoh pemain yang mampu memaksimalkan peluang dengan kecerdasan membaca permainan.
Baca juga: Ketua SMSI Kukar Angga Triandi Jagokan Portugal Juara Piala Dunia 2026, Yakin Tembus Final
"Sampai hari ini saya masih mengidolakan Filippo Inzaghi. Banyak pengamat sepak bola bilang dia bukan pelari tercepat, bukan pemberi assist terbaik, bahkan tendangannya biasa saja. Tapi dia selalu berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Artinya dia sangat pintar membaca peluang," tuturnya.
Menurut Akbar, filosofi yang dimiliki Pippo Inzaghi tidak hanya relevan di lapangan sepak bola, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baginya, keberhasilan seseorang sering kali ditentukan oleh kemampuan melihat peluang dan mengambil keputusan pada waktu yang tepat.
Meski tetap setia mendukung Timnas Italia, Akbar mengaku prihatin melihat negara tersebut kembali gagal tampil di Piala Dunia 2026.
Baca juga: Ketua DPRD Samarinda Jagokan Brasil di Piala Dunia 2026, Cek Jadwal Tim Samba di Penyisihan Grup
Menurutnya, Italia merupakan salah satu negara dengan sejarah besar dalam sepak bola dunia dan seharusnya selalu menjadi bagian dari turnamen empat tahunan tersebut.
"Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di internal federasi sepak bola Italia. Yang jelas menurut saya Italia adalah salah satu negara yang seharusnya selalu berada di Piala Dunia, bahkan menjadi kandidat kuat untuk mencapai final," pungkasnya. (*)