TRIBUNNEWS.COM - Grup C Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi salah satu grup paling kompetitif pada fase awal turnamen.
Empat tim dengan karakter dan latar belakang berbeda akan saling berebut tiket menuju fase gugur, yakni Brasil, Maroko, Skotlandia, dan Haiti.
Di atas kertas, Brasil masih menjadi unggulan utama. Namun, Maroko datang dengan status sebagai salah satu tim paling berbahaya dari Afrika. Sementara itu, Skotlandia dan Haiti berpotensi menjadi kuda hitam yang bisa mengacaukan prediksi.
Dalam podcast Super Taktik di YouTube Tribunnews yang menghadirkan Football Enthusiast, Bayu Ajianto dan Richardo Liwang (Anggota Indo Barca), Grup C di Piala Dunia 2026 ini merupakan grup yang menghadirkan persaingan menarik.
Bayu menilai, Brasil merupakan tim bersejarah dengan gelar-gelar juaranya. Sementara Maroko merupakan tim masa depan.
"Grup C itu menurut saya seperti mewakili tradisi dan revolusi," ucap Bayu Ajianto.
"Kalau Brasil kan memiliki sejarah besar dalam sepak bola termasuk punya gelar terbanyak juga. Sementara Maroko mewakili sepak bola Afrika. Apalagi Maroko hebat banget di tahun lalu."
"Itulah mengapa Grup C ini menjadi salah satu persaingan paling menarik di Piala Dunia 2206," tandasnya.
Sementara itu, Richardo Liwang menilai Brasil sudah pasti akan lolos sebagai juara Grup.
Sedangkan satu tempat sisa akan diperebutkan antara Maroko dan Skotlandia.
"Kala menurut saya untuk Brasil sudah pastilah bisa juara grup," ucap Richardo Liwang.
"Tapi buat Maroko itu agak fifty-fifty sama Skotlandia," tandasnya.
Dilansir dari laman Opta, Supercomputer Opta memprediksi persaingan di Grup C bakal berlangsung ketat meski Brasil dan Maroko tetap menjadi dua tim yang paling difavoritkan untuk lolos.
Baca juga: Alarm Bahaya untuk Maroko, Dua Andalan Cedera Jelang Bentrok Lawan Brasil di Piala Dunia 2026
Brasil memasuki Piala Dunia 2026 dengan misi mengakhiri puasa gelar yang sudah berlangsung sejak 2002. Selecao masih berstatus sebagai tim tersukses dalam sejarah Piala Dunia dengan koleksi lima trofi juara dan menjadi satu-satunya negara yang selalu tampil di setiap edisi sejak 1930.
Turnamen kali ini juga menandai era baru bagi Brasil setelah menunjuk Carlo Ancelotti sebagai pelatih kepala. Juru taktik asal Italia tersebut mencatat sejarah sebagai pelatih non-Brasil pertama yang memimpin Selecao di ajang Piala Dunia.
Meski memiliki skuad bertabur bintang, perjalanan Brasil menuju turnamen tidak sepenuhnya mulus. Mereka hanya finis di posisi kelima pada kualifikasi zona CONMEBOL dan sempat mengalami masalah dalam produktivitas gol.
Namun kualitas individu, pengalaman, serta kedalaman skuad membuat Brasil tetap berada di posisi terdepan. Opta memberikan peluang sebesar 96,9 persen bagi Selecao untuk lolos dari fase grup dan 60,2 persen untuk finis sebagai juara Grup C.
Jika ada tim yang berpotensi mengusik dominasi Brasil, maka Maroko menjadi kandidat terkuat.
Singa Atlas datang dengan modal yang sangat meyakinkan setelah menjuarai Piala Afrika 2025 dan melanjutkan tren positif yang dimulai sejak keberhasilan mereka menembus semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar.
Di bawah arahan Mohamed Ouahbi, Maroko tampil impresif sepanjang fase kualifikasi dengan menyapu bersih seluruh pertandingan yang mereka jalani. Solid dalam bertahan dan efektif saat menyerang menjadi identitas permainan mereka.
Kehadiran pemain-pemain berpengalaman seperti Achraf Hakimi, Sofyan Amrabat, hingga Ayoub El Kaabi membuat Maroko semakin percaya diri menghadapi persaingan di Grup C.
Opta memperkirakan peluang Maroko lolos ke babak gugur mencapai 88,7 persen, sementara kemungkinan mereka finis sebagai juara grup berada di angka 28,6 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Maroko bukan sekadar pelengkap, melainkan ancaman nyata bagi Brasil.
Skotlandia akhirnya kembali ke Piala Dunia setelah penantian panjang selama 28 tahun sejak terakhir tampil pada edisi 1998.
Menariknya, pada turnamen tersebut mereka juga tergabung dalam grup yang dihuni Brasil dan Maroko. Kini sejarah seolah kembali terulang.
Tim asuhan Steve Clarke lolos ke putaran final setelah menjadi juara grup kualifikasi UEFA untuk pertama kalinya sejak 1982. Meski tidak memiliki banyak pemain bintang, Skotlandia dikenal sebagai tim yang mengandalkan organisasi permainan, kekuatan fisik, dan mental bertanding yang tinggi.
Namun mereka masih dibayangi catatan kurang baik di Piala Dunia. Dari delapan partisipasi sebelumnya, Skotlandia belum pernah sekalipun berhasil melewati fase grup.
Meski demikian, format baru Piala Dunia yang memberikan lebih banyak slot ke fase gugur membuat peluang mereka terbuka lebar. Opta memberikan kemungkinan sebesar 65,6 persen bagi Skotlandia untuk melangkah ke babak berikutnya.
Haiti menjadi tim dengan peluang paling kecil di Grup C. Namun status underdog justru bisa menjadi keuntungan bagi mereka.
Piala Dunia 2026 menjadi penampilan kedua Haiti sepanjang sejarah setelah terakhir tampil pada edisi 1974. Jeda selama 52 tahun tersebut menjadi salah satu yang terpanjang dalam sejarah turnamen.
Meski hanya memiliki peluang 15,8 persen untuk lolos dan 1,1 persen untuk menjadi juara grup, Haiti tetap menyimpan potensi kejutan. Mereka dikenal memiliki kecepatan dalam serangan balik serta semangat juang tinggi yang bisa merepotkan lawan.
Tanpa tekanan besar, Haiti berpotensi menjadi tim yang mengganggu perhitungan para unggulan.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)