Usia 30-an Kini Banyak yang Kena Fatty Liver, Gejalanya Sering Terabaikan
GH News June 11, 2026 09:08 PM
Jakarta -

Penyakit perlemakan hati atau fatty liver sering kali dijuluki sebagai silent killer. Sebutan ini bukan tanpa alasan, penumpukan lemak di dalam sel-sel hati sering kali terjadi secara diam-diam tanpa menimbulkan gejala yang dramatis di awal kemunculannya.

Banyak orang baru menyadari livernya bermasalah saat melakukan medical check-up atau ketika kondisinya sudah berkembang menjadi peradangan serius. Meski samar, bukan berarti tubuh sama sekali tidak memberikan sinyal.

Dokter spesialis penyakit dalam Prof Dr dr Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH mengatakan bahwa fatty liver atau perlemakan hati umumnya tidak menimbulkan gejala di fase awal.

Biasanya, gejala atau tanda akan muncul ketika kondisi ini sudah masuk ke fase serius, sehingga perlunya tindakan cepat untuk penanganan.

"Kalau sudah ada gangguan seperti nyeri atau sakit di hati, harus timbul pertanyaan, jangan-jangan kondisi sudah lebih berat," kata Prof Rino saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

"Sedangkan kondisi gini (stage awal fatty liver, red) nggak akan menimbulkan gejala apa-apa. (Kalau rasa berat di perut?) Belum tentu, ya bisa saja tapi itu biasanya sudah lebih berat," lanjutnya.

Prof Rino yang juga berpraktik di RSCM Jakarta ini mengatakan kondisi fatty liver di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, banyak usia muda produktif sudah mengalaminya.

"Data kami sih, usia muda ya, usia produktif ya. Usia 30 sampai 50-an tahun," kata Prof Rino.

Bahkan fatty liver ini juga bisa 'menyerang' anak muda belasan tahun. Dengan catatan, dirinya memiliki masalah obesitas sejak kecil.

"Jarang sekali sih di bawah 20 tahun. Tapi tergantung juga sih, kalau ada anak yang dari awalnya gede, udah gemuk, fatty liver biasanya," katanya.

Skrining Penyakit Hati di CKG

Terkait permasalahan ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengatakan bahwa saat ini pemerintah telah memiliki program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang juga memiliki fasilitas pemeriksaan khusus liver atau hati.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan pengecekan kondisi liver dilakukan melalui tes darah yang bisa dilakukan di CKG.

"Untuk melihat risiko apakah ada pengerasan hati atau gangguan hati. Jadi sebenarnya di CKG itu sudah cukup lengkap pemeriksaan dasar untuk skrining kita," kata dr Nadia.

"Kita menyasar orang sehat, supaya dia tetap sehat. Supaya dia tahu lebih dini kalau misalnya ada gangguan atau kelainan pada hati tadi," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.