Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax diperkirakan akan berdampak pada pola mobilitas masyarakat di Kota Solo.
Selain berpotensi meningkatkan konsumsi Pertalite, kenaikan harga Pertamax juga dinilai dapat mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan transportasi umum.
Komite Transportasi Center for Technology & Innovation Study (CTIS), Bambang Pujantiyo, mengatakan dampak kenaikan harga Pertamax terhadap penggunaan angkutan umum memang tidak akan terjadi secara menyeluruh.
Namun, menurutnya, perpindahan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi umum berpotensi terjadi pada kelompok masyarakat tertentu.
"Pastinya ada ya karena Pertamax jadi mahal, tapi untuk golongan tertentu," ujar Bambang.
Di sisi lain, Bambang menilai dampak yang lebih cepat terlihat adalah meningkatnya konsumsi Pertalite. Kondisi tersebut berpotensi memicu antrean lebih panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
"Hanya saja penggunaan Pertalite akan lebih banyak, antreannya jadi lebih panjang. Yang perlu dikhawatirkan kuota untuk Solo mencukupi atau tidak, pemerintah harus memastikan itu," katanya.
Meski demikian, dia meyakini pemerintah telah memperhitungkan kebutuhan pasokan BBM subsidi sehingga kelangkaan tidak akan terjadi. Namun, distribusi dan kuota per wilayah tetap perlu mendapat perhatian serius.
"Kalau langka sepertinya tidak, sudah ada pertimbangan harusnya. Hanya kuota per wilayah itu seperti apa, perlu antisipasi. Pemerintah tidak bisa diam saja. Jangan sampai antrean panjang dan sampai mengganggu lalu lintas," tegasnya.
Baca juga: Dampak Kenaikan Harga Pertamax di Solo Raya, Peralihan ke Transum Hingga Antrean Pertalite Mengular
Menurut Bambang, momentum kenaikan harga Pertamax dapat dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong penggunaan transportasi umum.
Upaya tersebut bisa dilakukan melalui penambahan layanan maupun perluasan jangkauan trayek.
"Sekalian mempromosikan penggunaan transportasi umum. Masyarakat diberikan kemudahan. Bahkan kalau perlu jemput bola, menambah rute agar trayek lebih panjang menjangkau ke tempat yang demand-nya tinggi, mungkin trayek sementara," ujarnya.
Dia menambahkan, armada transportasi yang selama ini digunakan untuk keperluan wisata juga dapat dimanfaatkan sebagai solusi sementara apabila terjadi lonjakan kebutuhan angkutan masyarakat.
"Angkutan wisata bisa dipakai juga untuk menghindari gejolak sosial," imbuhnya.
Selain penguatan transportasi umum, Bambang menilai pemerintah perlu mulai mempercepat transisi menuju kendaraan listrik.
Menurut dia, berbagai kemudahan dan insentif dapat diberikan agar masyarakat tertarik beralih ke kendaraan yang lebih hemat energi tersebut.
"Kemudian juga perlu ada regulasi agar memudahkan penggunaan kendaraan listrik. Masyarakat diberikan kemudahan, mungkin subsidi, menurut saya perlu," katanya.
Baca juga: Harga BBM Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Antrean Pertalite Mengular di SPBU se-Solo Raya
Bambang melihat Solo memiliki potensi besar untuk menjadi percontohan penggunaan kendaraan listrik karena didukung banyak perguruan tinggi yang memiliki fakultas teknik dan kemampuan pengembangan teknologi.
"Di Solo banyak universitas dengan fakultas teknik, mereka punya banyak produk kendaraan berbasis listrik, mungkin motor, becak, andong. Ini untuk jangka menengah, akademisi bisa menggalakkan produksi kendaraan berbasis listrik itu," ujarnya.
Menurutnya, jika transisi tersebut berjalan baik, Solo dapat menjadi salah satu daerah yang berhasil mengembangkan ekosistem transportasi ramah lingkungan.
"Masyarakat bisa mengganti kendaraan ke kendaraan listrik. Itu nanti malah bisa jadi contoh, Solo kota kecil sehingga penataannya lebih mudah," tandasnya. (*)