Antrean Pertalite Mengular di Padang, Warga Terpaksa Beli Pertamax Rp 17.000 per Liter
Rahmadi June 11, 2026 11:02 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp17.000 per liter di Sumatera Barat mulai dirasakan masyarakat. 

Namun, di tengah lonjakan harga tersebut, sebagian pengguna kendaraan terpaksa tetap membeli Pertamax karena antrean Pertalite yang mengular.

Salah satunya dialami Naldi Pratama, seorang karyawan swasta yang menggunakan sepeda motor roda tiga (bajaj) untuk berjualan kopi.

Saat ditemui di SPBU Sawahan, Padang, Kamis (11/6/2026) sore, Naldi tampak mengantre di jalur pengisian Pertamax. 

Padahal, awalnya ia berencana membeli Pertalite.

Baca juga: UMKM Padang Diminta Kuasai Pemasaran Digital, Pola Belanja Masyarakat Beralih ke Online

Menurutnya, panjangnya antrean kendaraan di dispenser Pertalite membuat dirinya terpaksa beralih ke Pertamax meski harganya jauh lebih mahal.

"Tadi mau membeli Pertalite. Tapi karena panjang antreannya, terpaksa membeli Pertamax," kata Naldi kepada TribunPadang.com.

Ia mengaku situasi tersebut membuatnya berada dalam posisi yang sulit. 

Di satu sisi ia ingin menghemat pengeluaran dengan membeli Pertalite, namun di sisi lain ia harus segera kembali usai pulang bekerja. 

"Ini pilihannya sulit. Karena antrean Pertalite panjang, satu-satunya ya membeli Pertamax," ujarnya.

Baca juga: Raih Nilai 93,67, Pelayanan Publik Kota Padang Catat Rekor Tertinggi Reformasi Birokrasi di Sumbar

Naldi mengatakan dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu karena harus segera kembali usai berjualan.

"Karena ini harus cepat balik. Kalau terlalu lama balik jualan, nanti ditanya atasan," katanya.

Ia pun berharap pemerintah dapat mengkaji kembali kebijakan kenaikan harga Pertamax.

"Kalau bisa pemerintah kembali mengkaji kenaikan BBM Pertamax ini," ucapnya.

Hal serupa juga dialami Yuni, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Padang.

Awalnya, Yuni mengantre di jalur pengisian Pertalite dengan rencana mengisi penuh tangki sepeda motornya. 

Baca juga: Investasi Rp2,2 Triliun Masuk Padang Sarai, Pemko Padang Siap Bangun Tiga Hotel dan Lapangan Golf

Namun, setelah menunggu sekitar dua menit dan melihat antrean yang cukup panjang, ia memutuskan berpindah ke dispenser Pertamax.

"Tadi mencoba mengantre untuk isi Pertalite penuh ke motor. Tapi karena panjang antrean dan anak sudah menunggu di rumah, saya pilih mengisi Pertamax," katanya.

Karena hanya ingin segera pulang, Yuni akhirnya membeli satu liter Pertamax sebagai bekal perjalanan ke rumah.

"Tadi rencana isi full. Tapi karena Pertalite panjang, jadi isi Pertamax saja satu liter untuk pulang ke rumah," jelasnya.

Ia mengatakan kebutuhan BBM kendaraan nantinya akan dilengkapi oleh sang suami.

"Mungkin nanti malam akan diisikan suami saya dulu. Karena ini isi Pertamax untuk pulang dulu untuk ketemu suami," ujarnya sambil tersenyum.

Baca juga: Mubes ILUNI UIN IB Padang September 2026, Brigjen Pol Ricky Yanuarfi Jadi Ketua Panitia

Yuni berharap harga Pertamax dapat kembali ke level sebelumnya agar lebih terjangkau bagi masyarakat.

"Kalau bisa di harga semula lah, biar mampu kembali saya beli Pertamax," tegasnya.

Diketahui, penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga mulai berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat di Kota Padang.

Setelah harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp17.000 per liter, sebagian pengguna mulai beralih ke Pertalite.

Kondisi tersebut dirasakan oleh SPBU Sawahan, Padang.

Pengawas SPBU Sawahan, Dasfitrian, mengatakan terjadi peningkatan konsumsi Pertalite pada hari pertama setelah kenaikan harga Pertamax diberlakukan.

"Peningkatan terjadi sebanyak 10 persen untuk penggunaan Pertalite kemarin," kata Dasfitrian.

Baca juga: Mubes ILUNI UIN IB Padang September 2026, Brigjen Pol Ricky Yanuarfi Jadi Ketua Panitia

Di sisi lain, penjualan Pertamax mengalami penurunan sekitar 5 persen.

"Untuk pembeli Pertamax terjadi penurunan sebesar 5 persen," ujarnya.

Meningkatnya permintaan Pertalite membuat pihak SPBU menambah pasokan BBM tersebut.

"Jumlah Pertalite akan kita tambah. Dari sebelumnya 24 ton menjadi 32 ton untuk Pertalite di SPBU Sawahan ini," tegasnya.

Sementara itu, pasokan Pertamax tetap dipertahankan seperti sebelumnya.

"Jumlahnya tetap 16 ton, tidak ada kami kurangi atau kami tambah," jelas Dasfitrian.

Baca juga: Bahan Baku Naik, Warung Makan Mahasiswa di Padang Terpaksa Naikkan Harga Rp1.000 per Porsi

Pantauan TribunPadang.com di SPBU Sawahan pada Kamis sore sekitar pukul 17.10 WIB hingga 18.10 WIB menunjukkan antrean cukup panjang di jalur pengisian Pertalite, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sejumlah pengendara terlihat mengantre cukup lama untuk mendapatkan Pertalite. Bahkan, sebagian memilih berpindah ke jalur Pertamax agar tidak terlalu lama menunggu.

Meski demikian, antrean di lokasi terpantau tetap tertib dan lancar. Sementara itu, aktivitas pengisian Pertamax masih terlihat normal tanpa antrean yang berarti. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.