TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Dua bocah usia 8 dan 10 tahun tampak berdiri mendampingi sang tante saat menerima santunan kematian dari BPJS Ketenagakerjaan di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2026).
Keduanya adalah anak almarhum Ismail, seorang nelayan asal SP 8 Tanjung Buka, Bulungan yang meninggal dunia saat mencari ikan pada Mei 2026 lalu.
Kepergian Ismail menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Terlebih, pria yang berusia sekitar 40 tahun tersebut merupakan tulang punggung keluarga yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil melaut.
Adik Almarhum, Erma mengungkapkan sang kakak tidak memiliki pekerjaan lain selain mencari ikan di sungai.
"Memang dia mencari ikan saja, tidak ada kerjaan lain," ujarnya saat ditemui TribunKaltara.com usai menerima santunan, Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Nelayan Bulungan Diusulkan Masuk BPJS Ketenagakerjaan, Iuran Ditanggung Pemerintah Pusat
Mulanya sang kakak (alm. Ismail) berangkat mencari ikan bersama salah satu anaknya. Mereka bermalam di lokasi penangkapan ikan seperti yang biasa dilakukan. Namun, kejadian memilukan terjadi keesokan harinya.
"Saat anaknya tidur malam itu, pas bangun pagi sudah melihat bapaknya dalam kondisi seperti itu," katanya.
Selama ini Ismail dikenal sebagai nelayan yang mencari ikan di kawasan Sungai Selimau hingga Tias, Bulungan. Ia menggunakan alat tangkap pukat dan sesekali menangkap ikan dengan metode setrum.
Jenis ikan yang paling sering diperoleh adalah ikan kakap dan ikan merah yang memiliki nilai jual cukup tinggi di pasaran.
Dalam sepekan, Ismail biasanya menyusuri sungai sekitar empat kali, menyesuaikan dengan kondisi air dan cuaca.
Dari hasil tangkapan tersebut, ia mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp1 juta. Ikan hasil tangkapan kemudian dijual langsung dari rumahnya kepada para pembeli dengan dibantu sang Ibu.
Kini, setelah kepergiannya, dua anak yang ditinggalkan harus menjalani hidup tanpa sosok ayah.
Kedua anak tersebut masing-masing berusia 8 dan 10 tahun yang masih duduk di bangku sekolah. Anak sulung kelas 3 SD, sementara adiknya kelas 2 SD.
Kondisi keluarga semakin berat karena ibu kandung mereka telah lama berpisah dengan almarhum. Saat ini, kedua anak tersebut berada dalam pengasuhan keluarga.
"Ibunya pergi pas usia kakak 6 tahun adiknya 3 tahun. Jadi sekarang mereka tinggal dengan kami dan kami yang merawatnya," papar Erma.
Sebagai ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan, keluarga menerima manfaat santunan dengan total sekitar Rp146 juta yang terdiri dari santunan kematian, santunan berkala, biaya pemakaman dan beasiswa pendidikan untuk dua orang anak.
Erma mengatakan bantuan tersebut akan difokuskan untuk kebutuhan pendidikan kedua keponakannya serta biaya hidup sehari-hari.
"Untuk biaya mereka sekolah dan kebutuhan sehari-hari," ucapnya.
Ia berharap santunan tersebut dapat menjadi bekal agar kedua anak almarhum tetap bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
"Semoga bisa sekolah setinggi-tingginya dan jadi orang sukses," harapnya.
Pada kesempatan ini Erma mengucapkan terimakasih serta apresiasi kepada BPJS Ketenagakerjaan atas bantuan yang diberikan kepada keluarga almarhum.
"Terima kasih atas bantuan yang sudah diberikan kepada kami. Semoga bantuan ini bisa bermanfaat untuk anak-anak almarhum Ismail," tuturnya.
Bagi keluarga Ismail, santunan tersebut bukan sekadar bantuan finansial.
Di balik angka ratusan juta rupiah itu, tersimpan harapan agar dua anak yang kehilangan ayah sejak usia dini tetap memiliki kesempatan mengenyam pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik.
"Harapanya mereka berdua bisa tumbuh dan menjadi orang sukses penuh dengan keberuntungan," tandasnya.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu