Peringkat Definitif Setiap Piala Dunia Sejak 1990 dari yang Terburuk hingga Terbaik
Agus Firmansyah June 12, 2026 12:04 AM

Piala Dunia 2026 akhirnya tiba, tetapi di mana posisi turnamen-turnamen sebelumnya dalam sejarah yang terbaik?

Baik sebuah Piala Dunia berlangsung dengan gemilang atau justru mengecewakan, setiap orang memiliki kenangan tertentu terhadap turnamen besar ini — entah itu indah atau menyakitkan.

Kami menelusuri kembali setiap edisi Piala Dunia sejak tahun 1990 dan menyusunnya dalam urutan dari yang terburuk hingga yang terbaik.

Jika dipikir-pikir, beberapa di antaranya memang terasa agak membosankan, bukan?

Vuvuzela yang memekakkan telinga, Luis Suarez yang mematahkan hati semua orang — terutama Asamoah Gyan — performa Inggris yang mengecewakan, Selandia Baru tersingkir tanpa kalah sekalipun, serta Mark Van Bommel dan Nigel De Jong yang tampak seperti menghancurkan apa pun di final.

Namun, di balik semua itu, roket gol Siphiwe Tshabalala pada laga pembuka dan tarian perayaan Afrika Selatan menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.

Turnamen ini juga penuh kejutan dan diwarnai kontroversi di akhir.

Juara bertahan Prancis tampil mengejutkan dengan tersingkir di fase grup tanpa mencetak satu gol pun. Amerika Serikat menggebrak dengan mengalahkan Portugal yang diperkuat Rui Costa dan Luis Figo. Roy Keane pun membuat kehebohan dengan meninggalkan tim Republik Irlandia, meski timnya sempat mencatat malam bersejarah melawan Jerman.

Korea Selatan dan Turki menjadi semifinalis kejutan, meski keberhasilan tuan rumah yang menyingkirkan Spanyol dan Italia kemudian menimbulkan sorotan karena keputusan wasit yang kontroversial dan dugaan keterlibatan Jack Warner.

Namun begitu, inilah Piala Dunia yang dikenal dengan tiga R: Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho, yang membawa Brasil meraih gelar kelima. Inggris pun memiliki sedikit kepuasan lewat David Beckham yang akhirnya membalas dendam terhadap Argentina.

Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat paling diingat karena Diana Ross gagal mengeksekusi penalti di upacara pembukaan dan Roberto Baggio yang juga gagal di final, memberikan kemenangan bagi Brasil.

Selain itu, ada Diego Maradona yang tampil di luar kendali, selebrasi khas Bebeto, kemenangan Irlandia atas Italia, serta jaring gawang yang ikonik. Namun absennya Inggris jelas mengurangi daya tariknya.

Turnamen penuh kejutan, banjir gol, tim Inggris yang benar-benar menyenangkan, serta banyaknya gol dari bola mati.

Jerman sebagai juara bertahan menjadi tim terbaru yang tersingkir di fase grup, sementara Prancis menjadi satu-satunya tim besar yang mencapai semifinal.

Rusia 2018 ternyata jauh lebih seru dari yang diperkirakan, dengan gol-gol terus mengalir di babak gugur, meski sedikit kekurangan momen atau pemain ikonik yang benar-benar melekat di ingatan.

Rasanya Prancis memenangkan turnamen itu karena tim-tim besar lainnya tampil kacau.

Berbeda halnya dengan kesuksesan Inggris dan suasana nostalgia menjelang berakhirnya era pra-Liga Premier dan Liga Champions, Italia 1990 selalu dikenang dengan aura klasik.

Namun, jika dicermati lebih dalam, turnamen ini lebih diingat karena hal-hal di luar lapangan: lagu "World in Motion", "Nessun Dorma", desain seragam, tarian Roger Milla, dan air mata Paul Gascoigne.

Perlu diingat juga bahwa hingga semifinal melawan Jerman, Inggris tampil tidak terlalu meyakinkan. Untungnya, mereka memiliki sosok Paul Gascoigne yang bermain dengan semangat dan penuh karakter.

Layakkah disebut legendaris? Ya. Piala Dunia terbaik? Tidak juga.

Sebuah turnamen yang solid dan menghibur.

Fase grup di Brasil 2014 sangat berkesan dengan hujan gol serta tersingkirnya Inggris, Italia, dan Portugal.

Sayangnya, babak gugur tidak mampu menandingi keseruan tersebut, meski kekalahan Brasil 1-7 dari Jerman tetap menjadi salah satu hasil paling mengejutkan sepanjang masa.

Seperti Rusia 2018, Piala Dunia 2022 di Qatar melebihi ekspektasi (dalam hal permainan) dan menghadirkan banyak momen tak terlupakan.

Dari kejutan di fase grup — ketika Belgia, Jerman, dan Uruguay tersingkir lebih awal — hingga laga-laga penuh gol di babak gugur yang menampilkan Maroko sebagai semifinalis Afrika pertama.

Dan tentu saja, ada Lionel Messi; sementara pelatih Lionel Scaloni akhirnya menemukan formula kemenangan, Messi memimpin Argentina bangkit setelah kekalahan dari Arab Saudi dan membimbing mereka hingga juara, diakhiri dengan laga final epik melawan Prancis.

Qatar 2022 mungkin tidak akan pernah dianggap sebagai Piala Dunia terbaik sepanjang masa karena isu tuan rumahnya, namun kisah-kisah luar biasa di dalamnya akan tetap dikenang selama bertahun-tahun.

Dibuka dan ditutup dengan kontroversi, Piala Dunia 2006 dimulai dengan Italia yang diterpa skandal Calciopoli dan berakhir dengan Zinedine Zidane menutup kariernya dengan sundulan kepala.

Di antara itu semua, ada gol Argentina yang melibatkan 24 operan, tendangan spektakuler Joe Cole ke gawang Swedia, kedipan mata Cristiano Ronaldo, dan semifinal epik antara Italia dan Jerman.

Itu pertandingan yang benar-benar luar biasa.

Bahkan sebelum Michel Platini mengakui telah sedikit mengatur jadwal pertandingan, Piala Dunia 1998 di Prancis sudah memiliki segalanya.

Brasil tampil menari-nari dalam iklan Nike di bandara; kemunculan Ronaldo dan Michael Owen sebagai bintang muda; kemenangan mengejutkan untuk Nigeria, Iran, dan Rumania di fase grup; serta final penuh drama.

Walaupun final itu kehilangan versi terbaik dari Ronaldo (yang justru menambah kisahnya), kemenangan Prancis di tanah sendiri menjadi simbol keberhasilan tim multikultural yang mewakili seluruh bangsa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.